Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Berjanjilah, ku mohon


__ADS_3

Duduk terdiam di depan bangku rumah sakit seorang diri, Darren terus mengusap wajahnya yang berderai air mata. Tak kuat untuk merasakan hal ini, enggan untuk menerimanya.


Ya Tuhan, kenapa kau sekejam ini, gumamnya seakan ia tengah menyalahkan takdir.


Inilah waktu titik terendahnya, tidak cukupkah ia telah mangambil kedua orang tuanya, lalu Breana calon istrinya. Kemudian di saat ia sudah menerima Calista dengan segenap jiwa dan raganya, kenapa pula dia berikan sebuah penyakit yang luar biasa, untuk derita istrinya.


Apa aku tak pantas bahagia.


Kata demi kata putus asa terus terucap dalam bibirnya. Bagaimana ia harus mengambil keputusan, jika ia membiarkan istrinya terus mengandung akan membahayakan dirinya. Tapi jika tidak?


"Aaaa...."


"Aku takkan sanggup untuk kehilangan istriku. Kenapa tidak kau hukum aku saja Tuhan. Akulah pria pendosa itu, bukan istriku.."


••


"Calista kau mau kemana sayang...?"Bibi Nancy bertanya dengan khawatir saat melihat Calista tengah mencoba menurunkan kedua kakinya dari ranjang.


Gugup, itulah yang kini Calista rasa, ia memeluk perutnya dengan erar lalu menggelengkan kepalanya dengan takut, teringat akan ucapan suaminya 'kau harus melakukan pengobatan' kalimat itu terus terngiang dalam otaknya.


"Calista..."


"Jangan mendekat,..."jerita Calista ia beringsut takut.


"Nak, ini bibi sayang..."


Calista menggelengkan kepalanya menutup telinga terkadang memeluk perutnya, "aku takkan mau membunuh anakku. Tidakkk..."


Bibi Nancy menghentikkan langkahnya, menatap Calista pilu.


"Kalian jahat! Aku takkan biarkan kalian membunuh anakku.."teriaknya sekali lagi.


Krek.. pintu kembali terbuka Meysa, Bram, dan Randy datang mendekat.


"Pergi kalian, aku mohon jangan bunuh bayiku.."teriak Calista terdengar frustasi.


Mereka menatap Nancy dengan tanya, pada akhirnya Bram berfgegas keluar memanggil dokter, juga Darren.


••

__ADS_1


Dokter dan perawat datang tergesa-gesa, di susul Darren yang masuk dengan perasaan emas.


"Tolong jangan buat pasien tertekan dan stres, ini akan berakibat fatal untuk kondisi dan janinnya,"jelas Dokter usai menyuntikan obat penenang untuk Calista.


"Kami tidak tau apa yang terjadi dokter, sejak tadi dia hanya mengatakan kami jahat karena ingin membunuh bayinya.."jelas Nancy.


Darren mengalihkan pandangannya ke arahnya, "saya mengerti, ini adalah pilihan yang sulit. Tapi biarkan kondisi pasien membaik,"tutur Dokter, sebelum kemudian ia berpamitan undur diri.


Usai kepergian Dokter itu, Nancy mengalihkan pandangnnya menatap Darren yang masih terdiam mematung, wajahnya terlihat frustasi penampilannya begitu berantakan dan kacau. Ie mendakat dan menarik tangan Darren keluar dari ruangan itu.


"Darren, apa yang kau katakan sebelumnya padanya nak..?"tanyanya.


"Aku menyuruhnya untuk melakukan pengobatan bi,"jawabnya jujur, matanya tetap menatap tubuh istrinya yang masih tergolek lemah di ranjang sembari menutup matanya.


Bibi Nancya mengusap wajahnya, sudah ia duga. Pantas saja Calista menjerit ketakutan.


"Darren, semua harus di pikirkan masak-masak dulu. Kau harus membawa Calista tenang dalam mengambil keputusan, apalagi kehamilan Calista sudah menginjak usia lima bulan.."tutur Bibi Nancy.


"Jika bibi di posisiku saat ini. Sanggupkah bibi melakukan seperti yang bibi ucapkan? Aku mengatakan padanya secara sadar bi. Salahkah aku mempertahankan egomu. Aku tak mengapa tak mempunyai seorang anak, tapi aku takkan sanggup kehilangan istriku bi."ucapnya terdengar frustasi.


Deg..


Nancy tercengang mendengar penuturan Darren. Memang tak salah apa yang di lakukan Darren, dia hanya berusaha mempertahankan apa yang saat ini di sisinya.


"Aku tak bisa berjanji, tapi aku akan mencoba.."


•••


Senja mulai menampakkan wajahnya, Calista mulai mengerjapkan matanya secara perlahan. Di liriknya di samping suaminya tertidur pulas sembari menggenggam tangannya. Ia berusah menarik tangannya dalam genggaman suaminya, terasa sulit karena Darren menggenggamnya secara erat.


Merasa terusik Darren pun membuka kedua matanya, menguceknya secara peralahan.


"Sayang, kau sudah bangun.."tanyanya lembut. Namun Calista memalingkan mukanya, enggan untuk menatap wajah sang suami.


Darren menarik nafasnya pelan, menyadari perubahan sifat istrinya, selain karena hormon kehamilan ini juga akibat ucapannya tadi.


"Kamu marah padaku hem..?"tanya lembut ia menggapai kedua tangan istrinya lalu mengecupnya pelan, tak lupa kecupan singkat pun ia berikan di kening istrinya.


"Maaf..."bisiknya lembut.

__ADS_1


Calista memberanikan diri menatap wajah sang suami, dapat ia lihat wajah penyesalannya di sana.


"Aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat,"pinta Calista.


"Apa?"jawab Darren, tenggorokannya terasa tercekat tak sanggup untuk bicara.


"Berjanjilah, bahwa kau tak akan menyuruhku untuk membunuh anak kita mas.."pinta Calista membuat Darren terkejut.


"Tapi..."


"Aku mohon mas. Aku janji setelah anak kita lahir aku akan melakukan pengobatan apapun yang kamu minta..."desak Calista menatap wajah suaminya penuh permohonan, tak lupa ia menangkupkan kedu telapak tangannya.


Darren tersenyum getir melihatnya, "apa dia jauh lebih berharga dariku sayang, sampai kau rela mengorbankan dirimu seperti ini.."tanya Darren sendu, matanya tampak berkaca.


Calista meraih wajah suaminya lalu menghapus sudut matanya yang terasa basah, "jangan bertanya seperti itu mas, kamu sama berartinya dengan dia. Apapun akan aku lakukan demi kalian."


Darren memalingkan mukanya, "aku takut sayang. Sangat takut, jika-"


Stt.. Calista menempelkan jari telunjuknya di bibir suaminya, ia menggelengkan kepalanya, "tidak baik mendahului kuada Tuhan. Aku janji akan baik-baik saja mas,"Calista meraih jemari suaminya menggenggam erat lalu mengecupnya pelan.


Darren menatap istrinya sendu, "benarkah? kau berjanji untuk itu. Kau tidak akan meninggalkanku kan..."


Calista mengangguk, "aku janji mas.."


Sedetik kemudian, Darren menarik tubuh istrinya pelan dan membawanya ke dalam dekapannya.


Tuhan, aku tidak berharap apapun selain keselamatan istriku. Ku mohon jangan ambil dia dariku, aku terlampui menyayanginya.


Meski terasa hancur, Darren harus kuat demi istrinya.


••


Like


Komentar


Hadiah


Vote

__ADS_1


Makasih😊😊


Tbc


__ADS_2