
Calista jatuh tepat di atas tubuh Darren. Darren menatap Calista dalam-dalam. Tatapan keduanya bertemu, hingga nafasnya keduanya saling beradu, detak jantung yang berdegup semakin cepat tak juga membuat keduanya terganggu. Lalu, ia mulai mengukung tubuh istrinya di bawahnya.
Manik mata hazel itu mulai meneliti setiap wajah istrinya, dari mata, hidung ,hingga bibir. Darren menyibakkan seuntai rambut yang menutupi dahi Calista, perlahan ia mencondongkan wajahnya, lalu mulai membenamkan bibirnya pada bibir istrinya.
Kening Darren mengkerut menyadari ketegangan di tubuh istrinya, tak lupa wanita itu beringsut memejamkan matanya. Calista hendak bangun, namun kekuatan suaminya tidak sebanding dengan dirinya.
"Apa kau takut..?"tanyanya, usai pangutan bibir itu terlepas. Terlihat nafas Calista yang tersengah-engah, ia seperti telah kehabisan oksigen, wajahnya merona mengingat betapa lembutnya ciuman suaminya tadi.
"Emm, a-aku..."Calista tergagap, ia bingung harus menjawab apa, posisi keduanya yang begitu intim membuat ia merasa canggung. Membuat pikiran Calista berkelana, mengingat betapa kasarnya suaminya saat malam pertama kala itu.
"Tenanglah aku akan melakukannya secara perlahan.."sambungnya dengan suara serak penuh gairah.
Calista mengangguk pasrah, Darren tersenyum tipis lalu mulai membenamkan bibirnya kembali pada ceruk leher Calista. Memberikan sebuah sensasi-sensasi yang memabukkan. Tangannya bergelya di balik gaun tidur istrinya.
Sret.. Darren berhasil menarik gaun tidur Calista, lalu membuangnya secara asal.
"Mas.."pekiknya kembali terkejut mendapati dirinya kini sudah setengah polos.
Darren kembali melanjutkan aktivitas panasnya. Lama-lama Calista juga terbuai dengan permainan suaminya yang memabukkan. Tidak bisa di pungkiri, sebagai seorang istri ia pun merindukan sentuhan-sentuhan lembut suaminya.
Cinta..?
Jangan tanyakan hal itu, karena keduanya sama sekali tak memahami arti cinta sesungguhnya.
Cinta tanpa ***** itu bohong, namun jika ***** tanpa cinta itu banyak, banyak yang melakukan hubungan suami istri tanpa cinta hanya karena di kuasai ***** semata.
Dalam hal ini tidak ada yang salah, Darren menyentuh Calista karena dia istrinya yang sah di mata negara dan agama. Apapun yang melandasi keduanya untuk menempuh jenjang pernikahan itu, itu tidak akan mempengaruhi apapun.
Darren menyusuri setiap inci tubuh istrinya, tak lupa meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Darren kembali menegakkan tubuhnya lalu menatap wajah istrinya, seakan meminta ijin untuk ia kembali meminta haknya, Calista hanya membalasnya menggunakan senyuman juga anggukan kepalanya.
Begitu mendapatkan ijin dari istrinya, Darren kembali melepaskan satu persatu-satu pakaian miliknya, akhirnya malam ini kedua kembali melakukan pergumulan panas dan penuh gairah.
Satu jam berlalu Darren sudah berada pada puncaknya, ia ambruk di atas tubuh Calista bersamaan sesuatu yang hangat mengalir di bawah sana.
Darren berguling ke samping istrinya, tanpa sepatah kata.
Calista tersenyum miris, tidak ada kecupan atau ucapan terimakasih, tapi setidaknya suaminya melakukannya dengan lembut tidak seperti pertama kali.
"Calista.."Panggil Darren dengan nafas yang berburu.
"Ya mas.."sahutnya.
"Hadiah apa yang kau inginkan.."tanya Darren.
"Untuk.."
__ADS_1
"Karena kau sudah merawatku,.."
"Aku tidak meminta apapun,.."jawab Calista.
Darren mengangguk, "Aku tau, karena kau juga sudah memiliki segalanya.."
Calista terdiam tak ingin menjawab ucapan suaminya.
"Bagaimana kalau kita mengulang adegan barusan.."seru Darren, (Bisa aja modusnya Mas Darren bilang aja ketagihan..hihihi)
Calista membulatkan matanya,"m-maksudnya..?"
"Ku berikan kau pelayanan extra, sebagai hadiahnya oke.."
"Tapi..."
"Kau cukup diam saja biar aku yang bekerja.."ucapnya dengan smirknya nya semangat empat lima. Ia kembali mengulang adegan bercintanya tadi.
🌹🌹🌹
Suara dentingan garpu dan sendok terdengar beradu di meja makan.
Dret.. dret.. ponsel Darren bergetar, lalu ia menekan tombol hijau dan menempelkan di telinganya.
"Ya hallo.."
"Oke Wildan, tunggulah sepuluh menit lagi aku meluncur.."jawabnya sebelum mematikan ponsel miliknya.
Darren segera bangkit berlalu ke kamar secepat kilat ia mengganti pakainnya.
"Mas, mau kemana.."tanya Calista.
"Kantor..."
"Tapi katamu,.."
"Aku lupa jika hari ini ada pertemuan penting.."
"Boleh aku ijin keluar..."ucap Calista, sontak Darren langsung berhenti.
"Kemana..?"
"Belanja..."jawabnya.
Darren mengangguk, "Pergilah..."
🌹🌹🌹
__ADS_1
"Darren..."panggil Bram papa kandung Breana.
"Papa.."sahut Darren, ia menyuruh Bram untuk duduk di sofa.
"Ada apa, tumben Papa main ke kantor.."
"Kebetulan lewat jadi sekalian mampir.."jawab Bram
"Mau minum apa..?"Darren menawari minum, ia bangkit hendak.
Bram menggeleng, "Tidak perlu, duduklah kembali.."
Darren kembali mendudukan dirinya di depan Bram.
"Bagaimana kabar Calista.."tanya Bram, membuat Darren terkejut, kenapa Papa mantan calon mertuanya itu justru menanyakan kabar Calista.
Darren masih terdiam dari dalam lamunannya.
"Kau memperlakukannya dengan baik kan.."sambungnya.
"Maksudnya.."jawabnya dengan tatapan bingung.
Bram menghela nafasnya, "Nak hentikan niatmu untuk balas dendam terhadapnya, Papa tidak ingin kamu menyesal suatu hari.."ucap Bram dengan tegas.
"Kenapa..?"tanya Darren dengan tatapan bingung.
"Papa yakin pertemuanmu dengannya bukanlah suatu kebetulan belaka.."sahut Bram menatap Darren dalam-dalam, dengan tatapan amarah.
Darren memalingkan mukanya, "Ini ku lakukan demi Breana Pa, aku hanya ingin memberikan pelajaran tentang rasa sakitnya kehilangan.."gumam Darren dengan wajah kaku.
"Suatu hari nanti kamu akan menyesal nak.."kata Bram, dengan suara pelan dan mata berkaca-kaca.
"Papa pergi dulu.."sambungnya, ia pergi meninggalkan Darren begitu saja.
Calista yang malang, semoga kamu kuat menghadapi sifat keras suamimu ini. Aku harap Tuhan segera memberikan kesadaran pada Darren.lirih Bram sembari menatap pintu ruangan kerja Darren.
🌹🌹
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
Tbc.
__ADS_1