
"Ini kopinya mas.."ucap Calista sembari meletakkan secangkir kopi di atas meja.
Darren menatap tajam Calista,"Wanita ini benar-benar keras kepala.."gumamnya.
Calista hendak berlalu pergi, "Tunggu.."seru Darren.
"Kemarilah.."
Calista kembali mendekati Darren, "Ya mas ada apa..?"
Byurr...
"Ah panas.. panas mas.."teriak Calista kepanasan.
Darren menumpahkan kopi itu di tubuh Calista, tepat mengenai tangannya. Pria itu justru tersenyum sinis seolah sangat menyukai pemandangan itu. Calista menatap Darren dengan pandangan tajam.
"Kau manusia yang tidak mempunyai perasaan mas.. Kau benar-benar biadab.."teriak Calista lantang, dua minggu usia pernikahannya Calista sudah cukup sabar namun Darren terlalu melampui batasnya.
Darren tak mau kalah dari Calista, "Oh kau sudah berani padaku.."Darren mendekat mencekik leher Calista.
uhuk.. uhuk... Calista terbatuk-batuk, Darren melepaskan cengkramannya lalu menghempasakannya secara kasar. Calista menangis pilu, Darren hendak berlalu meninggalkan Calista.
"Kenapa kau sejahat dan sekejam ini mas padaku, aku ini istrimu.."ucap Calista, ia kembali bangkit berdiri.
Darren tidak berniat untuk menjawab namun ia tetap berdiam diri di tempatnya, "Memangnya apa yang harus aku lakukan untuk bisa menebus kesalahanku.."sambungnya.
"Kembalikan Breana, buatlah dia hidup kembali.."jawab Darren dengan lantang.
"Kau gila..."teriak Calista
"Ya aku memang gila, apa kau bisa melakukan apa yang ku katakan barusan. Jika kau bisa aku akan dengan senang hati melepaskan dan membebaskanmu.."Darren memutar tubuhnya dan menatap tajam Calista.
"Mana mungkin.. bagaimana bisa..."lirih Calista lesu, ia merasa frustasi.
Darren menyilangkan tangannya di dada, "Tidak bisa bukan.. apa yang kau alami ini merupakan karena perbuatan dirimu sendiri. Hal yang membuatku semakin membencimu, kau bukan orang yang bertanggung jawab, calon istriku mati akibat ulahmu. Tapi kau dengan gampangnya bebas keluar dari penjara. Kekuasaan ternyata di atas segala bagi keluargamu.."
Degg... Ya, Calista menyadari andainya ia mempertanggung jawabkan perbuatannya di penjara. Mungkin Darren tidak akan sekejam ini padanya.
"Lalu aku harus apa? semua yang terjadi murni kecelakaan. Aku tidak sengaja melukai calon istrimu mas.."ucap Calista.
__ADS_1
Darren memalingkan mukanya, Calista melirik ke arah meja terlihat jelas sebuah pisau menancap di buah-buahan.
Calista berlalu mengambilnya dengan cepat, dengan nafas tersengal-sengal berderai air mata, ia menghampiri Darren.
"Pegang pisau ini mas.."ucap Calista memberikan pisau itu ke tangan Darren.
Darren terkejut, "k...kau.. untuk apa...?"
"Bunuh aku sekarang, cepat.. Aku tidak tau lagi harus melakukan apa..?"desak Calista memaksa Darren menerima pisau itu.
"Ayo bunuh aku mas cepat, jika dengan aku mati membuatmu senang. Ayo lakukan sekarang..."
Tes... Air mata Calista jatuh tepat di lengan tangan Darren. Pria itu menatap kedua bola mata Calista terlihat jelas wanita itu begitu terluka. Darren memalingkan mukanya, entah kenapa ada perasaan nyeri hinggap di hatinya saat menatap kedua bola mata Calista. Jujur, sejak ia menyetubuhi istrinya saat malam pertama itu ia belum pernah melakukannya lagi. Tangisan pilu dan air mata Calista saat itu benar-benar membuatnya terganggu, ya saat itu Darren tak sepenuhnya mabuk, pria itu masih menyadari akal sehat dirinya.
"Ayo mas, tidak ada gunanya lagi aku hidup kan.. "desak Calista.
Darren menghempaskan tangan Calista lalu membuang pisau itu dengan asal.
"Kau gila.. aku tidak akan pernah melakukan itu.."Bentak Darren pada Calista, pria itu mengguncang kedua bahu Calista dengan keras.
Calista tertunduk lemas, Darren berlalu keluar meninggalkan Calista dengan sejuta tanda tanya di benaknya.
🌹🌹🌹
"Kak Darren.."
"Mama, Caren.."sahut Darren
"Kalian datang, duduklah..."ucap Darren mempersilahkan keduanya duduk.
Darren duduk di sofa, sementara Meysa juga duduk bersebrangan dengan Darren. Caren duduk di sebelah Darren, ia sengaja duduk di sebelah Darren.
"Tidak masalah aku duduk di sini kan kak.."tanya Caren.
Darren memaksakan senyumnya meskipun hatinya tak nyaman, "Ya terserah kamu.."
"Darren kau tidak lupa bukan dengan janjimu dengan almarhum putriku.."ucap Meysa
"Maksud mama.."seru Darren ia sedikit menggeser duduknya, karena Caren terus menempel padanya membuat ia merasa risih.
__ADS_1
"Janji untuk membalaskan dendam pada wanita yang sekarang berstatus istrimu.."
Deg.. hati Darren mencelos, ingatannya kembali bagaimana pertengkaran hebat dengan Calista tadi.
"Tentu ma.."sahutnya
"Bagus, jika kau sampai beringkar janji. Mama sendiri yang akan menghabisi istrimu.."ancam Meysa.
"Iya ma..."
Calista keluar membawa nampan yang berisikan minuman untuk ketiganya. Meysa menatap tajam Calista.
"Pembunuh, beraninya kau menampakkan wajahmu di depan saya.."teriak Meysa.
"Tante, saya minta maaf..."ucap Calista.
"Maaf, apa maafmu bisa mengembalikan putriku kembali tidak bukan.."bentak Meysa dengan tatapan murka, ia kembali meraung frustasi dan ingin mendekat membunuh Calista.
Darren melihat raut wajah Calista yang berubah pucat, wanita itu terlihat shock. Mungkin dia tidak tau jika yang datang adalah mamanya Breana. Sementara Caren sendiri tersenyum sinis.
"Calista masuklah.."perinta Darren tanpa ingin di bantah.
"Darren.. kau.."
"Ma, pulanglah. Darren akan mengurus semuanya.."
"Baiklah, awas saja jika kau ingkar janji.."ucapnya.
Darren memijat kepalanya yang terasa pening.
🌹🌹🌹
Jangan lupa
Like
Komen
Hadiahnya
__ADS_1
Tbc.