
Usai memasukan sebuah amplop putih yang berisi hasil tes laboratorium kesehatannya dan sebuah foto USG ke dalam tas miliknya. Kemudian, Calista berjalan menyusuri sepanjang koridor rumah sakit dengan perasaan campur aduk yang tak menentu antara rasa bahagia sekaligus perasaan sedih.
Langkahnya terhenti saat melihat bangku di taman kecil di rumah sakit itu, Calista berjalan ke arah bangku itu lalu mendudukam dirinya di sebelah sana.
Hatinya teriris, bagai di cabik dengan belati yang sangat tajam. Tanpa sadar ia mengelus perutnya yang masih rata, lalu ingatannnya kembali melayang akan penjelasan dokter sebelumnya, perlahan air matanya mulai turun lalu ia mulai terisak.
Flashback on
Usai melakukan serangkain tes
"Nyonya, ada dua hal yang ingin saya sampaikan dari segala gejala yang anda alami. Sebuah berita bahagia juga sebuah berita buruk.."jelas seorang dokter yang bernama Margareth.
Calista tercengang pun terkejut, "Anda ingin kabar yang mana dulu yang harus sampaikan Nona.."ucap Dokter Margareth kembali menyadarkan Calista.
Calista masih diam menunduk, mencerna juga menyiapkan sebuah mental untuk menguatkan hatinya.
"Nyonya..."panggil Dokter Margareth lagi.
Calisa kembali menegakkan kepalanya sambil meremas kedua tangannya yang terasa dingin, "Apa kabar buruknya Dokter..."tanya Calista lirih.
Wajah Dokter Margareth tampak sendu sebelum menyampaikan semuanya, ia menarik nafasnya, "Dari hasil tes laboratorium beserta Ct-scan di kepala anda, saat ini anda menderita penyakit kanker otak stadium tiga, Nyonya.."jelas Dokter Margareth.
Tes... perlahan air mata Calista mulai jatuh, kemudian Calista memalingkan mukanya dan menghapus sudut matanya yang basah.
"Lalu berita bahagianya apa Dokter..?"tanya Calista
"Berita bahagianya adalah saat ini anda sedang mengandung,.. Untuk lebih jelasnya nanti saya akan mengajak anda untuk melakukan USG.."tutur Dokter Margareth.
Calista tersenyum bahagia perlahan tangannya turun membelai perutnya yang masih rata, tak menyangka jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ibu. Sebuah impian bagi setiap kaum wanita.
"Saya sarankan anda untuk mengobati penyakit anda Nona, bisa dengan jalur kometerapi..."ujar Dokter Margareth lagi.
"Apakah dari kemoterapi itu akan mempengaruhi janin saya Dokter.."tanya Calista.
"Benar... itu akan mempengaruhi janin anda, dia bisa terlahir cacat efek obat kemoterapi itu. Untuk itu saya sarankan anda untuk mengkuret kandungan anda lalu mengobati penyakit andam."ujar Dokter Margerth.
Calista menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa ia membunuh bayi yang tak berdosa di dalam kandungannya, "Tidak dokter.. saya tidak bisa melakukan hal itu. Apapun yang terjadi saya akan melahirkan anak saya.."
"Pikirkanlah lagi saran saya Nyonya. Anda bisa mendiskusikan lebih dulu pada suami anda, sementara saya akan meresepkan beberap vitamin untuk kandungan anda, juga obat pereda rasa nyeri pada kepala anda nanti"ucap Dokter
__ADS_1
Setelah itu Dokter mengajak Calista untuk melakukan hasil USG.
Flashback Off.
"Mommy harus apa sayang...? haruskah Mommy membunuhmu sebelum kau lahir kedunia ini.."lirih Calista sambil membelai lembut perutnya.
Calista mengenyahkan pikirannya itu, ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, "Tidak sayang. Mommy akan tetap mempertahankanmu, menjagamu juga melahirkanmu ke dunia ini, meski harus mempertaruhkan nyawa Mommy. Kau bisa hidup bahagia bersama Daddymu. Mommy yakin Daddymu sebenarnya orang yang baik, hanya saja saat ini mata hatinya sedang tertutup."ucap Calista lagi.
"Pembunuh..."sarkas seorang wanita paruh baya begitu berada di dekat Calista. Buru-buru Calista menghapus air matanya dan bangkit dari tempat duduknya.
"Tante Meysa.."lirih Calista menatap Ibu dari mendiang Breana itu.
Sementara Meysa hanya tersenyum sinis menatap Calista, "Kenapa ? kau menangis pasti sakit dan meratapi nasib kehidupanmu ya. Darren pasti tidak memperlakukanmu dengan baik.."cecar Meysa.
Calista memalingkan mukanya, ucapan Meysa memang terasa menyakitkan namun di balik itu juga semuanya benar.
"Wajahmu terlihat pucat, pasti saat ini kau pati sedang sakit ya..? kau tau, itu adalah sebuah karma untukmu. Mati secara perlahan adalah balasan yang setimpal.."seru Meysa sambil menatap Calista dengan emosi.
Deg..
Ucapan Meysa seolah menampar telak dirinya, benarkah semua itu karma.
Meysa membuang mukanya , "Bahkan seribu kali kau minta maaf, tidak akan mengubah semua pandanganku terhadapmu. Kau tetaplah pembunuh.. kau tau betapa hancurnya aku.. Karena dirimu aku kehilangan putriku, kau tau aku hampir gila tak dapat menerima semuanya.."teriak Meysa yang mulai terisak ketika mengingat kembali tentang putri kandung satu-satunya.
Calista diam menunduk, tak ingin bersuara. Biarlah saat ini Meysa melampiaskan segala amarahnya.
"Aku yakin sampai detik ini, kau sama sekali tidak dapat menggeser posisi Breana di hati Darren. Bahkan perlahan dengan pasti dia akan menyingkirkanmu dari kehidupannya." .sambungnya sebelum kemudian ia berlalu pergi.
🌹🌹🌹
Calista sampai di depan rumahnya sampai menjelang sore hari terlihat mobil Darren sudah terparkir di depan rumahnya.
Begitu masuk Calista melihat Darren sedang duduk di ruang televisi sambil memangku laptopnya, tangannya sibuk mengetik, dan pandangannya tidak lepas dari laptopnya.
Menghela nafasnya, Calista tak ingin menganggu atau nanti suaminya justru akan marah, lebih baik dia mengurungkan niatnya untuk memberi tahukan kehamilannya pada Darren.
"Dari mana..?"Tanya Darren setelah melirik sekilas akan kehadiran Calista.
"Emm.. cafe..."jawab Calista cepat.
__ADS_1
Darren melirik Calista sekilas, lalu dahinya mengernyit heran melihat wajahnya yang terlihat pucat, "Apa kau sakit...?"tanyanya lagi.
"Tidak, aku hanya kelelahan..."sahut Calista.
Darren mengangguk, "Pergilah istirahat..."perintahnya.
Usai Calista berlalu masuk ke dalam kamarnya. Darren menarik nafasnya, "Apa selama ini aku terlalu kasar padanya. Dia terlihat begitu tertekan..."Gumamnya pada diri sendiri, entah kenapa melihat wajah pucat Calista menimbulkan rasa tak nyaman di sudut hatinya.
Darren bangkit menuju dapur, di lihatnya Bi Nah sedang berkutat mencuci piring.
"Tuan.."sapa Bi Nah ketika melihat majikannya di dapur.
"Bisa minta tolong Bi..."
"Apa Tuan.."
"Buatkan teh hangat juga makanan antarkan ke kamar Calista, aku fikir dia sedang tidak enak badan.."ujar Darren.
"Saya akan siapkan semuanya, tuan tunggu di sini sebentar ya.."pinta Bi Nah.
"Tidak Bibi, sekalian kau saja yang antarkan.."
"Lho kenapa Tuan.."tanya Bi Nah
"Aku sedang banyak kerjaan.."dustanya, padahal ia hanya takut perasaannya akan kembali melunak begitu melihat istrinya.
Darren berlalu pergi meninggalkan Bi Nah yang masih di liputi tanda tanya. Sifat Darren begitu berubah-ubah.
*Maafkan aku Calista,.. Aku mungkin tidak akan berbuat kasar lagi padamu, tapi aku juga belum bisa bersikap hangat padamu lagi..,. gumam Darren sambil menghapus sudut matanya yang basah, dadanya juga terasa sesak begitu melihat wajah istrinya yang tampak tertekan dan pucat.
🌹🌹🌹*
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
__ADS_1
Tbc