Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
BAWA AKU PERGI


__ADS_3

"Kemana rencana kalian untuk berbulan madu?"tanya Darren pada putri dan menantunya di sela-sela makan malamnya.


Ketiganya kini tengah berkumpul di ruang makan, depan meja berbentuk oval itu.


"Karena mas Daniel masih sibuk, jadi kami memutuskan untuk menundanya lebih dulu Dad! Iya kan sayang?"jawab Senja, melirik ke arah suaminya.


Daniel memegang lengan istrinya lalu tersenyum tipis,"betul itu Dad!"imbuhnya.


Darren mengangguk paham, tanpa berniat menjawab, "baiklah itu terserah kalian. Kalian lanjutkan makannya, Daddy sudah selesai dan harus istirahat,"pamitnya.


***


Seperti hari-hari biasanya, sebelum tidur Darren akan duduk terdiam menatap foto mendiang istrinya Calista. Sekitar lima belas tahun yang lalu Calista menghembuskan nafas terakhirnya, ketika tubuhnya terasa lelah tak sanggup melawan penyakit kanker yang di deritanya, satu tahun pertama setelah melakukan pengobatan dokter mengatakan ada peningkatan membaik namun hal itu sangat sulit untuk sembuh, hanya beberapa persen kemungkinan Calista untuk tetap bertahan , pengobatan yang ia jalani hanya untuk mengurangi rasa sakit yang di derita, mengingat riwayat stadium penyakit kanker Calista sudah tiga.


'Aku ikhlas jika aku benar tiada, dan kau boleh menikah lagi sayang! Tapi ku mohon berikan ibu yang tulus merawat Senja, yang mencintai sebagaimana aku menjaga dan mencintainya, maafkan aku yang tak mampu menepati janjiku untuk sembuh sayang! Aku lelah, sungguh lelah biarkan aku istirahat dengan tenang'


Pesan Calista sesaat sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, di pangkuan sang suami. Meski begitu cinta Darren untuk Calista tetap hidup, ia berjanji akan menjaganya sampai akhir hayatnya, hanya ada satu istri baginya, tak akan ada pengganti. Darren memutuskan untuk menjadi single parents, merawat dan membesarkan Senja seorang diri, hanya terkadang di bantu pengasuh juga pihak keluarganya.


Sampai di usia Senja yang menginjak tujuh belas tahun, tiba-tiba Darren mengalami kecelakaan, dokter telah memvonisnya dia akan mengalami lumpuh permanen, tapi Darren tak menyerah ia melakukan kemoterapi demi putrinya, ia telah berjanji untuk menjaga putrinya ke jenjang pintu bahagia, sampai ia dapat melihat putrinya menikah dengan pria pilihannya, pria yang tepat untuk menggantikan posisinya dalam menjaga dan mencintai Senja.

__ADS_1


"Dad!!"tegur Senja di ambang pintu.


Darren menoleh lalu menyambutnya dengan senyum tipis, "ada apa sayang?"tanyanya.


Senja melangkahkan kakinya masuk menghampiri Daddy-nya, ia melirik sekilas ke arah foto mendiang Mommy-nya, "aku pikir Daddy sudah tidur, ternyata belom. Daddy merindukan Mommy ya?"tanyanya.


"Aku juga rindu padanya Dad! Jika saja Mommy masih ada Dad, dia pasti bahagia bukan melihatku tumbuh dengan baik berkat kehebatan Daddy merawatku, dan saat ini aku sudah menikah dengan pria pilihanku. Daddy terimakasih, aku sangat bangga padamu.."sambung Senja.


Darren merentangkan tangannya, "kemarilah sayang,"


Senja menghambur masuk ke dalam pelukan Daddy-nya, ia terisak pelan, "Daddy juga bangga memiliki putri seperti dirimu, setelah ini berjanjilah kau harus bahagia. Jangan menangis!"ucapnya, ia menepuk punggung sang putri, perlahan ia mengurai pelukannya.


"Sekarang kembalilah ke kamarmu, suamimu pasti menunggumu. Dan Daddy juga harus istirahat sayang.."seru Darren.


Senja mengangguk, lalu mendaratkan kecupan tipis di pipi Daddy-nya, hal selalu ia lakukan sebelum tidur sejak kecil, "selamat malam Dad,"


"Malam sayang,"


Begitu pintu tertutup, Darren beranjak dari tempat duduknya sambil mengambil bingkai foto istrinya, lalu membawanya ke ranjang. Perlahan Darren merebahkan tubuhnya di sana, kemudian memperhatikan lagi foto istrinya, hal yang tak kan pernah bosan baginya.

__ADS_1


"Sayang! Putri kita sudah bahagia. Aku sudah menepati janjiku kan. Malam ini aku merindukanmu, bisakah kau datang dalam mimpiku,"gumamnya.


**


Seorang wanita cantik bergaun putih duduk di kursi ayunan, rambutnya tergerai dengan indah, senyumnya merekah sempurna.


"Sayang!"tegur seorang pria yang baru datang.


"Daddy,"sahutnya, ia beranjak mendekati suaminya.


Pria itu merentangkan kedua tangannya bersiap menyambut tubuh istrinya ke dalam dekapannya, "terimakasih,"lirihnya.


"Janjiku sudah ku tepati, bisakah engkau membawaku pergi bersamamu,"


Mengurai pelukannya wanita itu menatap lembu ke dua mata sang pria, di sana ia dapat melihat sebuah cinta yang besar untuknya,"tentu"sahutnya.


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2