Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Tak kan berdosa


__ADS_3

"Aku sudah tidak peduli dengan Darren, aku membencinya. Ya, aku membenci kalian semua, kalian harus merasakan apa yang ku rasakan. Aku akan membunuhnya di depan mata kepalamu sendiri, Mama..."bentak Caren menatap Meysa dengan tajam. Namun, ketika tatapan keduanya bertemu ada rasa yang tak dapat Caren jabarkan, ia segera mengalihkan pandangannya, dan mengambil pistolnya.


"Dasar ******! Wanita biadab. Kau benar-benar tak tau diri. Kau menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri, kau lah pangkal masalah dari semua ini. Jika kau tak membunuh Breana, aku tak akan mungkin berusaha membunuhmu Caren..."teriak Meysa. Caren Yang semula sudah tenang kembali merasa geram ia kembali menodongkan pistolnya dan memukul kepala Meysa.


"Bawa wanita yang ada di kamar itu kemari.."perintah Meysa pada anak buahnya.


Tak lama Calista muncul dengan di tarik paksa oleh anak buah Caren, ia terus berteriak histeris, mendekati Meysa


"Mama.."jerit Calista mendapati kondisi Mama Meysa yang begitu memprihatinkan.


Meysa tersenyum pada Calista, "jangan khawatir, Mama baik-baik saja sayang.."serunya.


Calista menatap tajam ke arah Caren, "Apa....????"bentak Caren.


"Jangan sakiti Mama Meysa, kau benar-benar anak tak tau diri, dia mamamu tapi kau tega membuatnya seperti ini, hatimu benar-benar sudah mati.."ucap Calista.


Caren terkekeh,"aku bukan lagi putrinya, jadi aku tak perlu berbakti lagi padanya, sekalipun aku membunuhnya, itu takkan berdosa bukan..?"


"Dasar wanita biadab!"umpat Calista membuat Caren geram seketika ia mengangkat tangannya, untuk melayangkan sebuah tamparan pada Calista.

__ADS_1


"Caren! Jangan sakiti dia lagi, lepaskan.."teriak Mario yang baru saja tiba, ia kembali menatap Calista dengan tatapan iba.


Caren melirik sinis ke arah Mario, "kau membelanya lagi, memang akan lebih baik jika aku membunuhnya saat ini juga.."ia mengangkat pistolnya.


Brakk... Mario segera menghempaskan pistol di tangan Caren.


"M-mario.."


"Bukankah kau bilang akan memberi pelajaran pada wanita itu lebih dulu,"tunjuk Mario pada Meyda, "jadi biarkan aku bersenang-senang lebih dulu dengannya.."sambungnya.


"Baiklah.."


"Lepas! Jangan sentuh aku pria brengsek.."teriak Calista, ia terus meronta dalam gendongan Mario.


"Diamlah Nona, jika kau terus bergerak nanti kau bisa jatuh.."jawab Mario lembut.


"Lepaskan aku brengsek.."tak peduli ucapan Mario, Calista terus berontak.


Caren tersenyum sinis, "lihatlah sayang, kau bersikap lembut padanya, sementara ia terus menolak dirimu. Memang baiknya wanita itu mati.."sindir Caren.

__ADS_1


Tak peduli sindiran dari Caren, Mario terus melanjutkan langkahnya, membawa Calista menjauh dari sana. Meysa hanya bisa terdiam pasrah, ia ingin membantu namun tidak bisa.


"Baiklah ku biarkan dia bersenang-senang dulu dengannya, sementara aku akan menyiksa Mama tercintaku ini secara perlahan-lahan aku akan membuatnya mati ."ucap Caren.


Lagi dan lagi Meysa hanya terdiam pasrah, ia yakin jika Darren maupun Aeron akan segera menyelamatkan Calista.


••


Bulir air mata terus menetes dari kedua pelupuk mata Calista. Mario mendudukan Calista tepat di atas ranjang, ia terus menatap lembut Calista.


"Jangan menangis Calista, ku mohon.."pintanya, ia mengulurkan tangannya berniat menghapus air mata Calista, namun wanita itu menepisnya secara kasar.


"Aku tak mau di sentuh olehmu, pergi.."usir Calista dengan nada tinggi, sebelum kemudian rasa sakit di kepalanya kembali hinggap. Ia memegangi kepalanya yang terus berdenyut sakit.


"Calista, k-kau..."


"Pergi, aku bilang pergi.."disisa tenaganya ia terus mengusir Mario, menjauhkan tubuhnya dari pria itu.


"Aku tak akan menyakitimu Calista, tidak akan, karena aku..."

__ADS_1


"Pergi ku bilang pergi..."


__ADS_2