
Sebuah ballroom hotel bintang lima, kini terlihat begitu mewah dan megah. Tatanan bunga-bunga, kursi dan meja yang terlihat begitu rapi serta para tamu undangan yang hadir akan menjadi saksi pernikahan Darren dan Calista.
Bisik-bisik tamu udangan terdengar menyusup di telinga Darren, banyak yang memuji kecantikan Calista.
Calista berjalan menuju altar dengan di dampingi sang ayahanda tercinta. Melihat megahnya pernikahan ini, harusnya membuat ia bahagia. Calista tetap menampilkan senyum tercantiknya menutupi segala ketakutan dan kepedihan hatinya.
Darren memandang takjub ke arah Calista, benar, wanita itu memang terlihat cantik tidak jauh beda dari Breana. Dengan gaun putih yang membingkai tubuhnya, serta riasan wajah yang terlihat natural, juga mahkota cantik yang menhiasi rambutnya.. Secepat kilat Darren mengenyahkan pikiran itu, ia tidak akan tergoda oleh apapun yang ada pada diri wanita pembunuh itu.
Hingga kini tanpa terasa langkah kaki Calista dan Aeron terhenti di depan Darren, Aeron menyerahkan Calista padanya. Darren membalasnya dengan senyumnya, andaikan tidak ada niat terselubung dari pernikahan ini, tentunya hati Calista akan meleleh.
Calista menundukkan kepalanya, Darren membawa menggengam tangan Calista lalu melingkarkan tangannya di lengannya.
Keduanya berjalan menuju altar pernikahan terlihat di sana sang pendeta telah menunggu keduanya. Tidak ada debaran jantung di hati keduanya, keduanya tetap bersikap datar seperti biasa. Seolah momen pernikahan ini tak ada artinya.
Tepukan tangan dari para tamu terdengar riuh di ruangan itu, semuanya menyambut kebahagiaan untuk Darren dan Calista usai keduanya telah selesai menngucapkan janji suci pernikahan. Ya, kini keduanya telah resmi menjadi pasangan suami istri.
"Cium.. cium.."teriak para tamu undangan yang hadir.
Glek.. Calista menelan salivanya dengan susah.
"Kalian sudah resmi menjadi suami istri, Tuan Darren anda boleh mencium istri anda.."seru sang pendeta.
Darren menganggukan kepalanya, pria itu menatap Calista dengan tajam, lalu mendekatkan tubuhnya.
Cup.. Darren hanya mengecup sekilas bibir istrinya. Lalu melepaskannya secara perlahan, Darren kembali menatap Calista dengan sinis, "Selamat datang Nyonya Wilson.."bisik Darren dengan penuh tekanan, membuat badan Calista menegang.
Para tamu kembali bertepuk tangan, Darren kembali memegang tangan Calista pria itu membawanya turun dari altar.
🌹🌹
Sesi pergantian gaun kedua, kali ini Darren dan Calista menyambut uluran para tamu yang memberinya ucapan selamat. Terlihat para tamu undangan menikmati pestanya.
Hampir seluruh rekan bisnisnya ia undang, ada Nanda dan Yuna, Nada dan Tristan, Davis dan Nadilla.
__ADS_1
Jangan lupakan Wira dan Felicia, mereka terlihat bahagia, mungkin karena berada pasangan yang tepat. Tidak seperti dirinya kini harus di tinggalkan orang yang di cintai, lalu terpaksa menikahi wanita pembunuh calon istrinya. Semua ia lakukan demi dendam, Darren melirik ke arah Calista dengan tajam.
Ia tau wanita itu terlihat pegal berkali-kali Calista meringis, tapi Darren pura-pura tidak tau dan bersikap acuh.
Sampai pada akhirnya Wira dan Felicia datang memberi ucapan selamat, dia mengatakan jika David tidak bisa datang karena berhalangan. Darren mengerti orang seperti David pasti sangat sibuk. Namun yang membuat Darren tergelak tatapan menyelidik dari Felicia pada Calista.
Darren tau Felicia adik dari seorang David Adinata itu merupakan seorang psikolog, pasti wanita itu sedang berusaha membaca raut muka Calista. Tapi Darren berusaha bersikap biasa, biar saja emang apa pedulinya.
Kembali di susul olah para tamu yang lain, seperti Nanda dan Yuna, Nada dan Tristan, Davis dan Nadilla pun memberi ucapan selamat padanya.
🌹🌹
Darren melajukan mobilnya menuju kediamannya, Calista terlihat tidur begitu nyenyak di dalam mobil Darren.
Jika biasanya usai pesta pernikahan selesai para pengantin akan menghabiskan waktu malamnya di kamar hotel dengan taburan bunga mawar yang terlihat romantis, tapi tidak dengan Calista dan Darren jangan harap.
"Dasar kebo,.."cetus Darren.
Calista terjerembab kaget, "sudah sampai.."
"Turun.."perintahnya dengan datar dan tajam.
Brak.. Darren menutup pintu dengan keras hingga Calista terlonjak kaget.
Calista membuka pintu mobilnya, lalu keluar menyusul Darren. Seorang pelayan membukakan pintu untuk keduanya.
"antarkan dia ke kamar.."perintah Darren, sebelum kemudian ia berlalu meninggalkan Calista begitu saja.
Calista di antarkan ke rumah kamar Darrren, ekor matanya bergerak menyapu seluruh penjuru ruangan itu. Calista berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dua puluh menit kemudian Calista keluar dari kamar mandi dengan pakain tidur yang sudah rapi dan lengkap.
Ceklek.. ia terlonjak kaget saat membuka pintu terlihat Darren sudah duduk di pinggir ranjang sambil menatap dirinya dengan tajam. Menatapnya seolah hendak mengulitinya hidup-hidup.
__ADS_1
Glek.. Calista menelan salivanya dengan susah. Darren mengunggingkan senyum sinisnya.
"Bagaimana kita mulai.."Darren bangkit mendekati Calista sambil menatapnya tajam.
"Maksud mas apa..?"jawab Calista tak mengerti.
Darren memalingkan mukanya, "Jangan sok polos.."
Kembali mendekat pria itu menangkap pergelangan tangan Calista lalu mencengkramnya dengan sekuat tenaga.
"Mas.. sakit.."lirih Calista.
"Sakit.."tanya Darren penuh tekanan, "Lebih sakit mana di bandingkan diriku, yang calon istrinya telah kau bunuh.."tudingnya ,Calista menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau mau menyangkal.. Aku tidak akan mempercayai wanita seperti dirimu."
"Dengar Calista, ini baru permulaan aku akan membuat hidupmu semenderita mungkin.. Tidak akan ku biarkan kau bahagia.."
"Aku tau, kau juga mengerti bukan maksud dan niatku menikahimu.. Jadi persiapkan saja dirimu.."kecam Darren, ia melepaskan cengkraman tangan Calista dengan kasar.
Calista menghela nafas lega, setelah Darren berlalu keluar dari kamarnya. Ia melihat pergelangan tangannya yang tampak memerah dan sakit, karena Darren mencengkramnya begitu kuat.
🌹🌹🌹
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
Tbc.
__ADS_1