Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Siapa kamu?


__ADS_3

"Tidak, Calista baik-baik saja. Darren memperlakukan Calista dengan baik, percayalah,"ujar Nancy menatap Mona dan Aeron.


"Syukurlah, karena jika Darren kembali melakukan kesalahan saya tidak akan kembali memberi kesempatan baginya untuk melihat putri saya,"ancamnya.


Mona mengelus lengan suaminya, seolah menyuruhnya untuk tenang dan mengontrol emosinya, "ayah sabar ih, kita kesini kan rencana mau ngomongin kejutan untuk Calista, kok malah jadi begini,"kata Mona.


Aeron menghela nafasnya, lalu ketiganya kembali membicarakan rencana kejutannya ulang tahun untuk Calista.


•••


Calista melangkahkan kakinya masuk ke dalam Cafe sambil membawa Dita pelayan pribadi yang telah disiapkan Darren untuknya. Menyebalkan bukan, Calista tidak menyukai situasi ini, tapi ia juga tak kuasa membatah suaminya. Ia menyapa beberapa karyawannya,


"Selamat datang Nyonya,"sapanya


Calista membalasnya dengan senyuman ramahnya.


"Nyonya anda dilarang tersenyum pada pria lain, kata Tuan Darren,"seru Dita membuat Calista tergelak.


"Dita, mereka karyawan saya, bukan pria lain,"sahut Calista.


"Tetap saja mereka pria lain nyonya,"bantah Dita. Calista malas menanggapinya ia menggeram kesal.


Dita mengikuti setiap langkah Calista.


"Astaga Dita, kamu ngapain ngintilin saya terus. Udah kamu duduk aja di salah satu kursi sana,"perintahnya Calista menunjuk beberapa kursi di cafe miliknya.


Dita menggelengkan kepalanya, "kenapa Dita?"sambung Calista.


"Saya tidak mau meninggalkan nyonya sendirian. Tuan Darren bilang saya harus mengawasi dan menjaga nyonya, bahkan bila perlu saya harus selalu berdiri di belakang nyonya, karena nanti Tuan Darren pasti akan bertanya pada saya,"ujar Dita membuat Calista tergelak.


Ini Dita yang terlalu polos atau suaminya yang kelewat posesif, Calista berdecak kesal.


"Tapi Dita, kalau kamu berdiri di belakang saya dan mengikuti setiap pergerakan saya, yang ada malah buat saya pusing, bagaimana kalau saya justru menabrakmu, lalu aku terjatuh gimana?"seru Calista.


"Saya juga harus mengawasi anda nyonya, kata Tuan takut ada pria lain yang melirik anda, bahkan Tuan juga menyuruh saya untuk memperhatikan setiap langkah anda, nyonya tidak boleh capek,"jelas Dita membuat Calista tergelak membuat ia pusing.

__ADS_1


"Terserah kamu aja lah, sekalian aja kamu video setiap pergerakan saya,"decaknya.


Dita terkekeh, "ide yang bagus nyonya,"sahutnya membuta Calista mendelik, ia melihat Dita merogoh ponselnya.


"Jangan aneh-aneh Dita,"kata Calista.


Calista melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya masih di ikuti Dita. Ia menghidupkan komputer lipatnya, sesekali melirik ke arah Dita yang masih tetap stay berdiri.


"Duduk Dita!"perintah Calista.


"Nyonya tau saja kalau saya pegal,"sahutnya.


Satu jam berlalu tidak terasa menemani Calista bekerja membuat kedua mata Dita mengantuk, sesekali ia akan mengangguk-anggukan kepalanya karena matanya tak sengaja terpejam.


Gludak.. bugh...


"Aduh,"ringis Dita kala ia terjatuh, tak lupa ia pun merasa kaget, usai itu ia kembali bangun.


"Lho Dit kamu!"


"Nyonya saya ke toliet dulu ya, mau cuci muka biar melek,"pamitnya, Calista menganggukan kepalanya.


••


Calista keluar dari ruangannya melihat pengunjung cafe yang tampak mulai rame.


"Hai Calista,"sapa seorang pria, suaranya cukup Calista kenali. Ia memutar tubuhnya, sedetik kemudian ia terkejut, "Leno,"pekiknya.


Leno tersenyum manis pada Calista, ia memindai penampilan Calista yang saat memakai dress kuning dengan motif bunga-bunga, perutnya tampak sedikit membuncit, rambutnya ia kuncir ekor kuda membuatnya makin terkesan cantik. Calista menyadari tatapan Leno menjadi risih, tapi mengingat kini pria yang ada di hadapannya saudara suaminya, ia harus menjaga perkataannya.


"Selamat datang di cafe kami Kak Leno,"sapa Calista membuyarkan lamunan Leno.


Leno gelagapan, ia memalingkan mukanya salah tingkah, tak urung ia pun menganggukan kepalanya, "terimakasih, oh ya kebetulan tadi aku mampir di toko bunga, ini untukmu Calista"seru Leno ia menyerahkan sebukit bunga mawar merah yang masih tampak fresh.


Srettt...

__ADS_1


Belum sempat Calista menerimanya, seseorang datang merampas sebuket bunga itu membuat Leno meradang.


"He kembalikan, dasar gadis kurang ajar,"umpat Leno menatap tajam wanita muda yang kini berdiri di hadapan Leno.


"Kamu yang pria kurang ajar, beraninya menggoda istri orang. Mau jadi pembinor kamu,"sarkas Dita yang kini berani menatap Leno dengan tatapan nyalang dan tajam.


Calista terkejut akan tindakan Dita yang cukup berani, sebenarnya siapa Dita? apakah dia hanya seorang pelayan biasa.


"Omong kosong, aku hanya memberi hadiah pada adik iparku memang apa salahnya,"kilah Leno kini ia menatap seluruh penjuru cafe itu yang kini tengah menatap ke arah dirinya.


"Salah, bahkan itu sangat salah. Jelas yang kau beri hadiah itu sudah bersuami,"decak Dita ia berjalan membawa sebuket bunga itu lalu membuangnya di tong sampah, membuat Leno kian meradang.


"Kau hanya seorang pelayan saja blagu,"umpatnya.


"Saya seorang pelayan tapi sikap pelayan jauh lebih terhormat di bandingkan dengan anda Tuan sombong,"cetus Dita.


Calista mengelus lengan Dita lalu menggelengkan kepalanya, tanda menyuruhnya untuk menyudahi semuanya.


"Dah lah Calista, saya pamit saja melihat dia membuat mood ku berantakan,"seru Leno, ia bergegas meninggalkan cafe Calista.


Usai kepergian Leno, "nyonya tidak apa-apakan? tidak ada yang terluka kan?"cecar Dita.


"Sebenarnya siapa kamu?"Calista justru berbalik tanya.


••


Like


Komentar


Hadiah


Vote


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2