Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Untuk apa


__ADS_3

Di sebuah bar tampak Darren sedang duduk seorang diri sambil sesekali ia menegak minumannya. Tepukan tangan membuat Darren seketika mengalihkan pandangannya.


"Jona....?"ucap Darren


Jona terkekeh lalu mendudukan di kursi samping Darren, "Kau tampak frustasi ada apa..?"


"Tidak ada....."dustanya


"Apa kabar istri cantikmu, apa dia sudah resmi menjadi janda.."tanya Jona menggoda Darren.


"Damn it, dia istriku untuk apa kau menanyakannya..."


"Wau.. hebat. Baru dua minggu kau bahkan sudah mengakuinya sebagai istri. Yakin ni kau tidak akan jatuh cinta padanya.."Jona tertawa mengejek. Darren tidak mengelak namun juga tidak mengiyakan, ia cukup males meladeni temannya itu.


"Sangat sulit bagi seorang pria untuk menahan diri agar tidak jatuh cinta pada wanita secantik istrimu.."sambung Jona, ya Jona memang hanya baru bertemu Calista sekali saat proses pernikahan Darren dan Calista belangsung, namun Jona tau Calista adalah wanita baik-baik.


"Sebagai sahabatmu, aku hanya tidak ingin jika kau menyesal di kemudian hari.."lanjutnya. Darren terdiam tidak menanggapi ucapan Jona.


"Hallo tampan.."seorang wanita berpakaian seksi menghampiri keduanya, Darren memalingkan mukanya sedang Jona menyambutnya dengan senang hati, ia merangkulnya dengan mesra lalu mengecup bibirnya.


"Bibirmu sangat manis sayang, bisakah ku puaskan aku malam ini.."tanya Jona dengan menggoda,


"Ah..."Jona meremas gunung kembar milik wanita itu, hingga ia membuat mendesah.


"Menjijikan, pergilah sana.."ketus Darren


"Ayolah kenapa kau harus marah-marah, bercinta itu sangat menyenangkan. Kau bisa pilih salah satu wanita di sini untuk melayaninya malam ini.."ucap Jona, tangannya sudah bergilya masuk di balik gaun wanita malam itu.


"Shit.."decak Darren kesal saat melihat kelakukan sahabatnya itu.


"Pergilah sana ke hotel, jangan melakukan adegan menjijikan di depanku.."seru Darren.


"Ayo sayang kita pergi, di sini ada singa ngamuk karena tak mendapatkan kepuasan dari istrinya.."ejek Jona yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Darren.


"Hallo Tuan, kau tampak sedang frustasi. Apakah kau butuh teman.."seorang wanita malam menghampiri Darren, ia dengan berani menyenderkan tangannya di pundak Darren.


Darren menatapanya tajam, namun wanita itu tampak tak peduli, ia terus melancarkan aksinya sesekali akan menggesek-gesekan belahan dadanya di tubuh Darren.

__ADS_1


"Pergilah. Jangan dekati aku."usir Darren


"Tuan tampan kenapa anda jual mahal sekali, aku tau kau sangat membutuhkan belaian. Jangan munafik."wanita itu sama sekali tak mendengarkan perintah Darren, ia memajukan wajahnya hendak menciumnya, tangannya juga ia gunakan untuk membelai pangkal paha Darren. Aksinya itu sama sekali tak menggugah hasrat Darren, ia justru bergidik jijik., Darren mengepalkan kedua tangannya.


Plakk... Bugh... Darren menampar wanita itu, lalu menghempaskannya dengan kasar.


"Menjijikan.. sudah ku peringatkan dirimu untuk tidak mendekatiku.."teriak Darren menatap tajam wanita itu yang tengah merintih kesakitan akibat tamparan belum lagi dwgpantatnya yang mencium lantai dengan keras akibat dorongan Darren.


"Hai kau seorang pria beraninya bermain tangan dengan wanita.."teriak salah satu seorang pria di sana dengan wajah merah padam.


Wanita itu bangkit dan menghampiri pria, "Mario, Tuan ini tadi menggodaku lalu setelahnya ia menghempaskanku dengan kasar, lihatlah dia bahkan juga menamparku.."adu sang wanita, membuat emosi Darren meledak ia menatap tajam keduanya.


"Apakah sakit, biar ku beri pelajaran dia.."seru Mario dengan emosi. Sisil tersenyum sinis.


"Hei kau, dasar banci beraninya dengan wanita. Kalau kau memang jantan hadapi aku..."tantang Mario.


"Oh kau menantangku, kemarilah akan ku patahkan lehermu.."geram Darren.


Mario bergerak maju dengan kedua tangan yang mengepal sempurna. Darren tersenyum sinis.


Bughh.. keduanya saling adu jotos. Darren tentu saja memegang kendali dalam perkelahian itu, Darren memukul Mario dengan membabi buta, kilatan amarah dan jelas terpancar di matanya.


Bugh... prang... Darren tersungkur jatuh saat Mario kembali bangkit memukul dan mendorongnya dari belakang. Beberapa gelas terjatuh hingga pecah.


"Kau fikir kau sudah menang, akan ku tunjukkan kehebatanku.."seru Mario,


Darren mengepalkan tangannya emosinya kembali memuncak, ia meraih gelas di depannya lalu mencengkramnya dengan kuat.


Prak.. bunyi pecahan gelas itu, hingga menimbulkan luka di tangan Darren, terlihat darah mengalir jelas di telapak tangannya.


Darren memutar tubuhnya mengepalkan kedua tangannya ia mulai maju menghajar kembali Mario, keduanya kembali beradu jotos,


Uhuk...uhuk.. Mario terbatuk saat Darren mencengkram lehernya dengan kuat.


"Dengar, aku sebenarnya tidak sudi untuk mengotori tanganku dengan menyentuhmu. Tapi kau sendiri yang menantangku, cih kau membela mati-matian wanita penggoda seperti dirinya.. Menjijikan.."ucap Darren lalu menghempaskannya secara kasar.


Darren menatap tajam ke arah Sisil, "Untukmu Nona, ku peringatkan jangan pernah bermain-main denganku atau kau akan mati di tanganku.."ancamnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Darren membuka pintu rumahnya, ia terkejut mendapati Calista di depannya.


"Mas, kau dari mana.."tanya Calista, Darren tidak menjawab pria itu bergegas meninggalkan Calista.


Calista mengekori langkah Darren, "Mas apa yang terjadi kenapa wajahmu lebam begini.."Calista menyentuh pipi Darren yang tampak memar, "Dan tanganmu terus mengeluarkan darah mas, ikut denganku."lanjutnya ia makin menunjukkan wajah khawatirnya itu.


"Untuk apa.."Darren menepis tangan Calista.


"Mengobati lukamu.."


"Tidak perlu, kau tidurlah.."seru Darren tanpa melihat ke arah istrinya, ia sedang tidak ingin berbuat kasar pada istrinya. Darren masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Calista. Ia tertunduk lemah di pinggir ranjangnya, dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di otaknya.


Calista menimang-nimang niatnya hendak mengetuk pintu kamar Darren dengan membawa sekotak p3k.


Tok... Tok..


"Mas ini aku, bolehkah aku masuk. Aku ingin mengobati lukamu.."panggil Calista


Tidak sahutan dari dalam, dengan segenap keberanian Calista mencoba memegang handel pintu. Tidak terkunci.


Calita membernikan diri masuk, terlihat di pinggir ranjang Darren sedang terduduk lemah. Kedatangan Calista mengejutkan Darren, pria itu mengusap sudut matanya yang basah.


"Kau, untuk apa kesini. Keluarlah, pergi ke kamarmu.."ucap Darren memalingkan mukanya,


"Aku akan pergi setelah mengobati lukamu."Calista tetap bersikekeh dengan niatnya.


🌹🌹🌹


Jangan lupa


Like


Komen


Hadiahnya

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2