Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Pulanglah Nak..


__ADS_3

Hari ini Calista ingin pergi ke rumah orang tuanya. Begitu membuka pintu kamarnya Calista terkejut mendapati Darren juga membuka pintu kamarnya, tatapan keduanya bertemu.


"Mas, aku mau minta ijin..?"ucap Calista dengan gugup.


"Kemana...?"tanya Darren.


"Ke rumah Ayah dan Ibu..."sahut Calista.


Darren terdiam tampak memikirkan sesuatu, "Pergilah dengan sopir, nanti sore aku akan menjemputmu.."


"Tapi..."


"Kalau tidak mau pakai sopir tidak usah pergi, kau di rumah saja.."ucap Darren datar.


"Baiklah..."


Darren kembali melangkahkan kakinya,


"Mas..."panggil Calista menghentikan langkah Darren kembali.


"Ada apa..?"jawabnya tanpa memutar tubuhnya kembali.


"Apa kau ingin mempunyai anak...?"tanya Calista hati-hati.


Deg... pertanyaan Calista seolah begitu mengejutkan bagi Darren.


"Pertanyaanmu sungguh tidak penting..."jawabnya sambil terus melangkahkan kakinya.


Nyess.. Calista merasa begitu sakit hatinya.


🌹🌹


"Mampir ke makam dulu ya pak.."perintah Calista pada sopirnya.


Pak sopirnya hanya menganggukan kepalanya. Hampir setiap hari Calista selalu mendatangi makam mendiang Breana, sekalipun sering mendapatkan kata-kata kasar, berbagai macam cacian dari Meysa namun Calista tidak peduli. Sebelum masuk ke pemakaman Calista menyempatkan diri untuk mampir ke toko bunga. Kini Calista sedang berjalan melangkah masuk ke area pemakaman. Begitu sampai di makam Breana, Calista meletakkan bunganya di atas gundukan tanah.


"Apa kamu tidak punya malu, dengan menunjukkan wajahmu di sini..."bentak Meysa yang tiba-tiba datang entah dari arah mana. Calista tidak menghiraukannya ia tetap melanjutkan doanya dan juga membisikan sebuah kata maaf, matanya sudah tampak berkaca-kaca. Namun hal itu tidak juga membuat Meysa iba, ia justru menatap Calista penuh dengan emosi.


Calista berjalan mendekat ke arah Meysa, "Maaf tante jika kedatangan saya menganggu, tapi sebelum saya mendapatkan kata pengampunan dan maaf dari tante, saya akan tetap menjadi orang yang tidak tau malu dengan selalu datang kesini.."ucap Calista


"Dasar perempuan tidak tau malu.."bentak Meysa sambil mengambil buket bunga yang Calista bawa lalu melemparkannya pada wajah Calista secara kasar, dan itu berhasil melukai pipinya.


"Apa Darren memperlakukanmu dengan baik.."tanya Meysa dengan sinis.


"Iya Tante, sangat baik.."jawab Calista menutupi kenyataan yang terjadi.


"Benarkah...? tapi yang terlihat justru sebaliknya kau terlihat menderita dan tidak di cintai oleh suamimu. Lihatlah keadaanmu bahkan sangat menyedihkan.."kata Meysa mencoba memprovokasi Calista, namun Calista tetap tenang dan tidak terpengaruh.

__ADS_1


"Jika dengan melihat kesakitan saya itu membuat tante bahagia, itu jauh lebih baik bukan.."jawab Calista, membuat Meysa semakin geram.


"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bahagia, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kau bahkan akan mengalami hal yang paling menyedihkan dari yang ku alami.."teriak Meysa.


Calista terdiam merasa ucapan Meysa memang ada benarnya, bahkan perasaan itu sudah mulai Calista rasakan. Perlahan kepalanya mulai terasa sakit.


"Saya pulang dulu tante, "pamit Calista sebelum tubuhnya ambruk di sana.


Sampai di mobil Calista langsung duduk lemah dan menangis tanpa suara hal itu sukses membuat sopirnya bingung.


"Nyonya, apa anda baik-baik saja.."tanya sopirnya namun Calista tak bergeming, dia tetap terdiam. Sopirnya akhirnya memilih keluar membiarkan majikannya untuk menyendiri, ia merasa tak terkejut karena sudah menjadi kebiasaan Calista tiap berkunjung ke makam ini pasti menangis.


Rasa sakit di kepalanya semakin mendera tak lama Calista merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya, buru-buru Calista menyekanya. Ia mengambil sebutir obat pereda nyeri atasa resep dokter.


🌹🌹


Calista menutup goresan di pipinya dengan bedak tipis, sebelum masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya.


"Ya Tuhan tolong aku.."lirih Calista.


"Ibu kangen sekali dengan kamu nak.."ucap Mona sambil terisak memeluk putrinya.


"Calista juga kengan dengan Bu.."


"Oh ya, dimana Darren.."


"Wajahmu kenapa..?"tanya Mona sambil membelai pipi putrinya.


"Em tadi gak sengaja kegores pas rawat bunga..."dustanya


"Memangnya Darren gak sediain pembantu. Nanti Ibu suruh Rita untuk ikut kamu aja ya..."seru Mona lagi


"Gak perlu Ma, sudah ada asisten rumah tangga kok.."


"Apa kamu bahagia menikah dengan Darren.."tanya Mona lagi, bahkan ia melihat jelas rona wajay sendu putrinya, matanya tampak sayu terlihat ia begitu banyak beban.


"Bahagia kok Bu.."jawabnya, Calista berusaha menyembunyikannya.


Mona menghela nafasnya, begitu beratkah beban rumah tangga putrinya sehingga ia harus menyembunyikan keadaan sebenarnya.


"Pulanglah nak.."pinta Mona


"Maksud Ibu..."


"Ibu tau apa yang sebenarnya terjadi, kau putri ibu satu-satunya. Jangan memaksakan sesuatu yang membuatmu terus menderita.."tutur Mona.


Calista menggelengkan kepalanya, "Ibu, aku yakin Mas Darren akan berubah.."sahutnya.

__ADS_1


"Jangan menanggungnya sendirian nak, pulanglah kalau kamu sudah tidak sanggup.."mohon Mona dengan pilu. Lagi-lagi Calista menggeleng,


Mona menghela nafasnya lagi-lagi putrinya selalu membela suaminya itu, padahal jelas terlihat Darren berniat buruk padanya.


Mona tau, Calista merupakan sosok wanita yang baik dan lembut. Meski pernah melakukam kesalahan fatal, tapi Calista selalu berusaha memperbaikinya. Hati Calista juga sudah memaafkan, ia jarang merasa sakit hati pada seseorang yang mengecawakannya. Tapi Mona takut hal itulah yang akan Darren manfaatkan pada putrinya, menyakiti hati purtinya secara perlahan.


"Kapan datang nak.."suara bass Aeron mengejutkan keduanya.


"Barusan, tumben Ayah telat pulangnya.."ucap Calista sambil bangkit dari tempat duduknya berlari kecil memeluk Ayahnya.


"Ayah merindukanmu nak.."


"Calista juga.."balasnya.


Calista menatap Ayahnya dengan tatapan menilai, terlihat guratan lelah dan kecemasan di wajah ayahnya, seolah ia tengah menanggung beban yang begitu berat.


"Ayah kenapa ? apa sedang ada masalah di kantor..."tanya Calista dengan khawatir.


"Tidak apa-apa nak.."dustanya,


Segera ia mengajak Calista duduk dan merubah topik pembicaraan menjadi seputar rumah tangga.


Aeron banyak bertanya tentang keadaan rumah tangga Calista dan Darren, terlihat jelas jika Calista begitu mengarang cerita menutupi keadaan yang sebenarnya.


Mona semakin khawatir melihat raut wajah putrinya, tak terasanya matanya tampak berkaca-kaca, perlahan air matanya mulai turun, namun segera ia menepisnya agar Calista tak melihatnya.


"Bu..?"panggilan lembut dari Calista.


"Dari tadi Papa dan aku bicara, Ibu kok cuman diam aja..."tanya Calista dengan nada merajuk.


Aeron yang tau istrinya tengah gelisah segera merengkuhnya dan menatapnya penuh cinta membuat Mona merona malu.


"Tenanglah Bu, jangan tunjukkan kesedihan kiat di pada Calista.."bisik Aeron di telinga istrinya.


Segera Mona merubah wajahnya menjadi senyum mengembang, Calista menatap haru kedua orang tuanya. Sejak dulu ia ingin sekali seperti mereka, namun takdir berkata lain dan ia harus berjuang keras demi mendapatkan cinta dari suaminya. Calista tersenyum miris dan segera mengalihkan tatapannya ke arah lain, agar kedua orang tuanya tak melihat raut kesedihan di wajahnya.


"Bu, Calista pulang dulu ya..?"pamit Calista bangkit dari tempat duduknya, namun tiba-tiba ia merasakan rasa sakit di kepalanya yang luar biasa, di susul dengan pandangan mata yang gelap dan kabur.


Bruk.... Calista terjatuh pingsan..


"Calista..."jerit Mona histeris kala melihat tubuh putrinya jatuh ke lantai tak sadarkan diri.


🌹🌹🌹


Dukung Author dengan Like, Komentar, Hadiahnya ya...😊😍


Tbc

__ADS_1


__ADS_2