
...Sajak Senja...
...Senjaku membawa cerita...
...Tentang aku dan juga dirimu...
...Yang pada akhrinya menjadi kita...
••
Calista merasa sangat bosan di rumah, pun ia merasa sebal lantaran saat bangun di pagi hari ia sudah tak mendapati suaminya di rumah.
"Dasar! Apa susahnya sih bangunin aku untuk berpamitan untuk pergi,"decaknya. Ia mengambil ponsel yang ia letakan di atas mejanya.
"Telpon gak ya?"gumamnya, wanita itu terus menimang pikirannya, lantaran jika ia menelpon ia takut mengganggu suaminya, tapi jika tidak ia merasa kangen. Pada akhirnya ia memutuskan untuk menelponnya, namun ponsel suaminya sedang tidak aktif.
"Kenapa tidak aktif,"ucapnya dengan nada kecewa.
Hingga sampai sore hari Calista tak mendapatkan kabar dari suaminya, hal itu membuat dirinya gelisah dan uring-uringan.
Calista tengah merebahkan dirinya di kursi malas yang berada di taman belakang, sembari menikmati indahnya senja.
"Nyonya,"panggil Dita yang baru tiba mengejutkan lamunan Calista.
"Ada apa?"jawabnya dengan malas tanpa menatap Dita.
"Barusan asisten Tuan mengirimkan sebuah hadiah ini untuk nyonya, saya hanya di suruh memberikannnya untuk anda, dia bilang ini dari Tuan Darren,"tutur Dita.
"Letakkan saja di atas meja,"tunjuk Calista pada meja di sampingnya.
"Tapi nyonya, Tuan Wildan bilang jika saya harus memaastikan anda membukanya,"lirih Dita.
"Astaga!"decak Calista kesal, wanita itu mengubah posisinya lalu menerima hadiahnya. Sementara Dita masih berdiri di hadapannya majikannya melihatnya membuka hadiah itu.
Calista terkejut saat menatap isi dari kotak hadiah itu, sebuah gaun berwarna putih yang begitu cantik. Ia mengambil sebuah kartu ucapan yang terselip di sana.
Pakai gaun ini sayang, jangan lupa dandan yang cantik, pukul tujuh nanti Wildan akan menjemputmu, kita bertemu di sana.
__ADS_1
^^^Your husband^^^
"Cantik sekali gaunnya nyonya,"ucap Dita menatap gaun itu dengan takjub.
"Memangnya ada acara apa dia menyuruhku dandan cantik, hish dia saja sibuk gak ada waktu untuk aku,"cetus Calista.
••
Pukul enam lewat tiga puluh menit Calista sudah rapi dengan pakaiannya, tidak lupa juga dandanannya yang cantik, meski ia sebal pada suaminya tapi ia juga penasaran maksud Darren menyuruhnya memakian pakaian seperti ini.
"Nyonya, Asisten Wildan sudah menunggu di depan,"ucap Dita.
Calista mengangguk segera mengambil tas kecilnya, ia berjalan keluar dari kamar di ikuti Dita. Sampai depan rumah, terlihat di sana Wildan sudah menunggu dan bersiap membuka pintu mobil belakang kemudi.
"Terimakasih Wildan,"ucapnya pada Wildan.
"Ini sudah tugas saya Nyonya,"sahutnya.
Wildan memutari mobilnya, ia berjalan masuk ke dalam pintu mobil kemudi. Kini, mobil tengah malaju menjauhi pekarangan rumah Darren, membelah jalanan padat itu.
"Wildan apa kau tau, suamiku itu mau mengajakku kemana? Apakah ada pesta di rekan bisnisnya, tapi kenapa dia tidak menjemputku sendiri,"tanya Calista.
Tak lama mobil yang mereka tumpangi telah sampai di loby hotel bintang lima. Calista keluar dari mobil itu, dan berjalan masuk.
"Nyonya, nanti akan ada petugas yang membawa anda masuk menemui Tuan Darren,"ucap Wildan.
••
Seorang pelayan wanita datang menghampiri Calista, ia menggiring Calista masuk menuju sebuah lift.
Kening Calista mengkerut saat menyadari pelayan itu menekan tombol lift menuju rooftop. Ia ingin bertanya tapi ia mengurungkan niatnya.
Kini pintu lift telah terbuka, pelayan itu mengentarkan Calista ke bagian rooftop di mana suaminya berada. Usai mengantarkan Calista pelayan itu berpamitan pergi.
Calista terpengarah takjub melihat tatanan meja di depannya dengan latar belakang langit yang gelap, Calista melirik ke arah kanan kiri saat menyadari tempat itu begitu sepi, di mana Darren pikirnya?
Tak lama Calista terkejut saat melihat Darren berjalan ke arah dirinya sambil membawa cake. Pria itu menyenandungkan lagu ulang tahun untuk istrinya.
__ADS_1
"Happy birthday to you, happy birthday to you,"
Calista menitikkan air matanya haru, bahkan ia sendiri tidak mengingatnya jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Selamat ulang tahun istriku,"ucap Darren.
"Jadi ini,"ucapan Calista tertahan, Darre menganggukan kepalanya.
Calista langsung menabrak dada bidang suaminya dan memelulnya, "terimakasih, aku sangat terharu,"ucapnya sambil terisak beruntunglah dengan sigap Darren meletakkan kue itu di atas meja hingga tidak jatuh.
"Kenapa menangis hem, ayo tiup lilinnya dan sebelum itu kau harus berdoa,"kata Darren.
Calista menganggukan kepalanya, Darren kembali mengambil kuenya.
"Aku berdoa dulu ya mas,"ucap Calista, Darren menganggukan kepalanya, sementara Calista memejamkan kedua matanya, Darren menatap istrinya lembut penuh cinta.
Usai itu, Calista membuka kedua matanya ia meniup lilin pada kue itu. Darren mencium pipi istrinya sebentar. Ia kembali meletakkan kue itu di atas meja. Darren berjalan mengambil sebuket bunga, ia kembali menghampiri Calista.
"Untukmu istriku tercinta, i love you so much,"ucap Darren sembari memberikan sebuket bunga itu, Calista menatapnya dengan mata berkaca-kaca, ia merasa terharu.
Tepukan tangan yang menggelagar membuat Calista menatap kaget ke sekililing tempat itu, disana ia melihat semua anggota keluarganya tengah berkumpul dan menatap dirinya. Calista bahkan tidak tau kapan mereka sampai di sana.
Dengan tangan gemetar Calista menerima buket bunga itu, tak lama Calista terisak.
"Kamu kenapa sayang?"Darren bertanya dengan khawatir, ia membawa istrinya ke dalam dekapannya.
"Terimakasih mas,"lirihnya.
"Aku sangat mencintaimu Calista. Kamu adalah orang yang sangat spesial untukku."ucap Darren ia mengecup lembut pucuk kepala istrinya. Semua yang berada di sana menatap hari keduanya.
Sementara itu di sudut ruangan ada seseorang yang menatap iri kebahagiaan keduanya.
••
Like
Komentar
__ADS_1
Hadiahnya
Tbc