
Warning 21+++
Terdapat adegan dewasa sedikit kekerasan.
Darren menatap sebotol wine di depannya. Sudah lama sekali pria itu tidak pernah menegak minuman itu, terakhir kali mungkin dalam keadaan terpuruk saat kematian kedua orang tuanya.
Mendesah resah, ia mengambil botol minuman itu lalu membukanya menuangkannya di gelas, perlahan ia menyesapnya sedikit. Tidak puas hanya satu gelas, Darren kembali menuangkan minuman itu lalu meminumnya terus menerus hingga tandas tak tersisa.
Mata Darren tampak memerah, entah karena efek minuman itu atau karena ia sedang meredam amarahnya. Andainya Breana masih ada, tentunya wanita itu tidak akan membiarkan Darren menenggak minuman sialan itu. Hatinya kembali berdenyut nyeri kematian Breana menyesakan luka yang amat dalam baginya, seolah wanita itu telah membawa separuh jiwanya pergi.
Kepala Darren berdenyut nyeri, mengingat tentang kematian Breana kembali mengingat Calista wanita yang ia katakan pembunuh itu, dan bodohnya ia juga menikahinya. Malam ini merupakan malam pertama pernikahannya, andainya Breana masih ada mungkin keduanya akan memghabiskan waktu bersama untuk memadu kasih. Ish mengingat nama Calista membuat emosinya kembali memuncak, Darren melepas jas nya lalu membuangnya asal, ia pun melepas dasinya.
Dengan sorot mata tajam dalam pengaruh alkohol setengah sadar Darren berlalu keluar dari ruang kerjanya menuju kamar di mana Calista berada.
Krek.. Darren membuka pintu kamar itu, terlihat di sana Calista sedang tetidur begitu lelap. Ia menghampirinya dan menyunggingkan senyum sinisnya.
"Kau pikir kau bisa tidur dengan nyenyak, tidak akan ku biarkan hal itu terjadi.."sinis Darren.
Darren menarik selimut yang membungkus tubuh Calista dengan kasar. Calista terjerambab kaget, ia langsung membuka matanya.
"M...mas Darren..."ucapnya, Calista beringsut mendudukan dirinya, ia melihat mata suaminya kini yang menatapnya dengan tajam.
Darren tersenyum sinis, lalu mendekatkan dirinya pada Calista.
"Mas kau mau apa..?"Calista beringsut mundur memalingkan mukanya dari tatapan Darren.
Mendudukan dirinya di ranjang Darren menjangkau dagu Calista lalu mengkramnya dengan erat, "Tatapan mataku wanita sialan.."umpat Darren.
Calista menggeleng, "Lepas mas, sakit..."lirih Calista.
"Tidak akan sampai kau mati.."teriak Darren, kali ini ia juga mencengkram leher Calista.
Uhuk.. uhuk.. Calista terbatuk, Darren melepas cengkramannya.
__ADS_1
"Kalau begitu bunuh saja aku.."
"Oh tidak semudah itu, aku akan menyiksamu secara perlahan.."jawab Darren dengan senyum smirknya.
Darren menarik paksa gaun tidur Calista, Calista berusaha menahannya. Ia menggelengkan kepalanya.
"Mas jangan..."pekik Calista memohon.
"Lepas.. Aku akan memberimu pelajaran.."bentak Darren.
Darren menepis tangan Calista, lalu menarik gaun tidur istrinya secara paksa..
Srett... berhasil gaun tidur itu sudah robek, dan memperlihatkan lekuk tubuh istrinya. Darren menyunggingkan senyum sinisnya, Calista menggelengkan kepalanya.
Darren memajukan wajahnya berusaha mencium bibir istrinya, Calista memalingkan mukanya.
"Diam, dan hadaplah kesini. Atau aku akan berbuat kasar.."teriaknya.
Darren kembali menarik paksa alat pembungkus dua gunung kembar milik Calista, pria itu kembali tersenyum sinis, tanpa menunggu lama ia membenamkan wajahnya di sana, ia ******* memelintirnya secara kasar.
"Sakit.. mas.."ucap Calista
Darren sama sekali tidak menghiraukan rintihan istrinya, ia seakan menulikan pendengarannya. Calista terus meronta dalam kungkungan di bawah tubuh suaminya, namun cengkraman Darren terlalu kuat.
Terakhir kini Darren membuka paksa bagian inti istrinya,.
"Mas jangan ku mohon.."pinta Calista, ia tau Darren berhak akan seluruh tubuhnya karena ia kini sudah resmi menjadi istrinya, tapi bukan begini caranya melakukan, tidak ada kelembutan sama sekali Darren melakukannya dengan kasar.
Darren tidak menghiruakan permintaan Calista, pria itu sudah berhasil menarik paksa pakain berbentuk segitiga itu, hingga kini Calista sudah bertelanjang.
Darren membuka seluruh pakaiannya kini ia juga sama dalam keadaan polos tak berpakaian.
"Mas tidak seperti ini caranya... ku mohon.."rintih Calista dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Diam, atau aku akan menamparmu.."gertak Darren.
Darren memposisikan dirinya untuk memulai memasuki Calista, tanpa aba-aba ia langsung mendorong masuk miliknya.
"Aaaaaaaaa sakit....."teriak Calista keras wanita itu meremas punggung Darren dan mencakarnya.
Darren terkejut mendengar, "K....kau..." Ia dapat merasakan darah mengalir membasahi miliknya, ya Calista masih perawan.
Calista mengeluarkan air matanya merasakan sakit di bawah sana, sangat sakit. Darren terus menggoyang dan menghentakkan pinggulnya dengan kasar, tidak ada kelembutan sama sekali. Sementara satu tangannya ia gunakan untuk meremas dan memelintir kedua bukit kembar milik istrinya, tak lupa bibirnya kembali mencium paksa istrinya, terkadang ia akan mengigitnya hingga bibir Calista berdarah.
Bukan desahan atau erangan yang keluar dari bibir Calista, wanita itu terus berkata sakit.
Satu jam kemudian Darren telah mencapai puncaknya, pria itu ambruk di atas tubuh Calista. Calista masih terus mengeluarkan air matanya, ia memalingkan mukanya merasa sangat sakit hati atas perlakuan suaminya kini.
Darren menyingkir dari atas tubuh Calista, pria itu langsung bangkit tanpa kecupan atau terimakasih, ia langsung berdiri memakai kembali pakaiannya, meninggalkan Calista begitu saja.
Sepeninggal Darren, Calista menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Calista menangis tersedu-sedu sambil memukul dadanya yang terasa sakit.
Calista merasa tak ubahnya seperti jalang bagi suaminya. Suaminya menyetubuhinya dengan sangat kasar tanpa kelembutan sama sekali, lalu ia pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Bodoh, bahkan jalang lebih berharga di banding dirinya, seorang wanita jalang setelah menyelesaikan pekerjaannya dia akan mendapatkn bayaran, lalu Calista dia tidak mendapatkan apa-apa.
๐น๐น
Hujat Darren aja ya jangan hujat Ara, takut Ara lagi baperan soalnya๐
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
Tbc.
__ADS_1