Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Pikiran buruk


__ADS_3

Sepulang dari pesta ulang tahun Calista, Meysa terus terdiam melamun. Dia sama sekali tak dapat memejamkan kedua matanya, berulang kali ia terus mencari posisi yang nyaman, namun tetap saja hatinya gundah, gelisah, khawatir. Ia membolak-balikkan tubuhnya, membuat Bram yang sudah memejamkan keduanya matanya merasa terganggu.


"Diam sih ma! Kamu kenapa sih gelisah begitu,"ucap Bram sembari membuka kedua matanya perlahan.


Meysa hanya terdiam tanpa berniat menjawab pertanyaan suaminya, seakan ia telah kehilangan tenaganya.


Bram menghela nafasnya, "papa perhatikan sejak pulang dari pesta Calista kamu melamun terus, ada apa?"


Meysa melirik ke arah suaminya, "aku hanya rindu dengan putri kandung kita pa,"dustanya.


"Sudahlah ma, ikhlaskan kepergian Breana,"tuutur Bram.


Meysa menganggukan kepalanya, ia menimang-nimang pikirannya haruskah ia memberi tahu suaminya. Tapi kemudian ia mengenyahkan pikirannya. Meysa menyingkap selimut tebal yang membalut tubuhnya.


"Mau kemana?"tanya Bram dengan heran saat melihat Meysa mulai bangkit dari tempat tidurnya.


"Mau ke dapur, mama haus. Papa tidurlah,"jawab Meysa.


Bram menganggukan kepalanya, "tidak ada yang kamu sembunyikan dariku kan ma?"tanya Bram penuh selidik.


Meysa menggeleng cepat, "tidak pa,"


Usai itu Meysa mengambil ponselnya dan memilih keluar dari kamarnya menuju dapur.


••


Tuk


Meysa meletakkan kembali gelas kosong itu di atas meja usai menghabiskan segelas air putih. Kini, ia terduduk lemah di ruang makan itu, ia mengecek ponselnya di lihatnya waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tapi rasa kantuk itu tak kunjung datang, pada akhirnya ia lebih memilih duduk termenung di sana seorang diri, dengan pikiran buruk yang menghantuinya.


Sekuat tenaga ia menyangkal akan kondisi Calista, nyatanya ia tak bisa, naluri hatinya seakan memintanya untuk mencari tau.


Meysa memijat kepalanya, kemudian mengambil benda pipihnya di atas meja. Ia browsing mengenai ciri-ciri tubuh Calista.


Deg,


Sejenak jantungnya berhenti berdetak, sekuat tenaga ia menyangkal itu.

__ADS_1


"Tidak, ini pasti salah. Putriku tidak mungkin mempunyai penyakit seganas itu kan,"lirihnya. Perlahan cairan bening itu menetes dari pelupuk matanya, kata demi kata ia baca berulang-ulang, hal itu sukses meremas jantungnya. Setakut itu, ia kehilangan seorang anak untuk yang kedua kalinya.


Meysa terisak sendiri di ruang makan itu, semua hanya baru praduga saja ia sudah sehancur itu, bagaimana jika dugaannya semua itu benar. Meysa harus memastikan semuanya sebelum terlambat.


••


Calista menatap Mama Meysa dengan heran, saat mobil yang di kendarai Mama Meysa masuk menuju sebuah rumah sakit.


"Ma, kita ngapain kesini?"tanya Calista dengan takut.


"Ayo turun dulu sayang, Mama hanya ingin tau tentang cucu mama, bolehkan sayang,"kata Meysa lembut. Semua yang ia katakan itu benar ingin tau tentang calon cucunya, tapi di balik itu ia juga mempunyai rencana sendiri.


"Tapi ma aku-"


"Kalau kamu tidak mau, ya sudah mama akan telpon Darren dan memberi tahu tentang kejadiaan kemarin,"ancamnya, meski tidak tega ia harus melakukan hal itu.


"Jangan! Calista mau kok mau, ayo."sahut Calista bergegas ia membuka pintu mobil dan turun.


Ya Tuhan, semoga dugaanku semua salah,gumam Meysa.


••


Dokter menyarankan Calista untuk menjalani serangkain tes laboratorium, Calista menolak lantaran ia merasa takut jika penyakitnya akan di ketahui oleh Mama Meysa. Tapi dengan sedikit ancaman akhirnya Calista menuruti perintah Mama Meysa.


Kini keduanya tengah duduk di depan meja dokter spesialis penyakit dalam. Dokter menatap keduanya dengan pandangan sendu, hal itu sukses membuat Meysa cemas.


"Dokter bagaimana kondisi putri saya, dia sehatkan?"cecar Meysa. Sungguh saat ini hanya kata iya menjadi harapan Meysa.


"Ma, tenanglah aku baik-baik saja,"kata Calista.


"Nyonya, nona Calista menderita penyakit kanker otak,"ujar Dokter.


Deg, Meysa terkejut sontak wanita itu langsung berdiri dari tempatnya.


"Tidak, anda pasti salah. Putri saya tidak mungkin menderita penyakit seganas itu,"teriak Meysa, ia tidak dapat mengendalikan emosinya kini. Rasa takut dan terkejut menjadi satu.


"Katakan semua itu salah dokter,"pinta Meysa.

__ADS_1


"Nyonya, hasil tes ini akurat tidak mungkin salah,"ucap Dokter itu yang makin menjadi pukulan berat untuk Meysa.


Sementara Calista sudah terisak di sampingnya, "Ma dokter itu tidak salah ma, semua yang ia ucapkan itu benar."seru Calista.


••


Meysa dan Calista tengah duduk di salah kursi taman rumah sakit, sejak tadi Meysa terus menangis.


"Kenapa harus kamu sayang yang sakit kenapa tidak mama saja,"ucap Meysa.


"Ma jangan begitu,"Calista menatap Mama Meysa sendu.


"Mama merasa ini tidak adil untukmu sayang, mama sungguh tidak rela,"seru Meysa.


Calista terdiam, "Ma jangan bicara seperti itu, aku akan baik-baik saja ma."


Meysa mengambil ponsel di tasnya, "mama harus memberi suamimu, agar ia bisa segera mengambil tindakan. Penyakitmu haru di obati sayang,"ucap Meysa.


"Jangan ma, ku mohon! cukup mama saja yang tau. Bukankah mama tau syarat pengobatan itu aku harus menghilangkan bayiku ma, dan aku tidak mau. Ku mohon biarkan aku melahirkan anakku setelah itu aku janji akan melakukan pengobatan apapun itu bentuknya. Tolong! jangam membuat aku membunuh bayiku,"pinta Calista.


"Tapi sayang, Darren juga harus tau kalau-"


"Aku akan memberi tahukannya sendiri ma, tapi nanti ma tidak sekarang ku mohon,"pinta Calista.


Meysa hanya terdiam, saat ini hatinya sungguh hancur. Biarlah saat ini menuruti permintaan Calista, sampai batas waktunya ia tak sanggup maka ia juga akan memberi tahu Darren.


••


Like


Komentar


Hadiahnya


Vote


Tbc

__ADS_1


__ADS_2