
Darren terus berkutat dengan komputer lipat di depannya, sedang salah satu tangannya menggenggam ponsel yang ia letakkan di telinganya. Ia terus berbicara pada seseorang di balik telpon itu.
"Ya Wildan, tolong lakukan itu. Aku ingin yang terbaik untuk istriku.."ucapnya sebelum akhirnya ia mengakhiri pembicaraannya, ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Menatap sekilas pekerjaan di laptop miliknya, namun tetap saja otaknya sama sekali tak bisa diajak bekerja sama. Berkali-kali ia meremas rambutnya.
Melirik arloji di tangannya, ia menjadi teribgat istrinya, sudah tiga jam yang lalu Calista terlelap, artinya harusnya ia sudah bangun. Mematikan laptop miliknya, Darren beranjak keluar.
"Dita.."panggilnya pada pelayan pribadi istrinya.
"Ya Tuan.."sang pemilik nama segera menghampiri majikannya.
"Apakah istriku sudah bangun.."tanyanya Darren.
"Belum Tuan, saya tadi melihat ia masih tertidur nyenyak, saya tidak berani memabngunkannya.."tutur Dita.
Darren menggangguk, lewat kode matanya pria itu memerintahkan Dita untuk berlalu. Darren kembali melangkahkan kakinya menuju kamar istrinya.
Krek..
Begitu membuka pintu ia mendapati istrinya masih terlelap dengan pulas, perlahan ia melangkahkan kakinya mendekatinya. Menyingkap selimut tebalnya, lalu mencondongkan wajahnya mengecup pipi istrinya.
Cup,
"Sayang bangun yuk, kita makan.."ucap Darren, namun Calista masih tak bergeming.
Darren menepuk kedua istrinya, "sayang ayo bangun, cepat buka matanya.."kali ini di iringi dengan aura kecemasan.
Kenapa? istrinya tak kunjung bangun. Ia merangkak naik mengambil kepala istrinya untuk ia bangku.
"Sayang, bangun ku mohon bangun.."pintanya setengah berteriak, Darren berusaha mengguncang tubuh istrinya yang masih terlelap. Ketakutan demi ketakutan perlahan mulai menyelimuti hatinya.
"Calista bangun, ku mohon bangun. Jangan bercanda. Atau aku takkan pernah memaafkanmu.."teriaknya, ia mengguncang tubuh istrinya, air matanya kembali menetes.
__ADS_1
Uhuk..
"Mas.."panggil Calista begitu ia membuka kedua matanya.
Darren menarik nafas lega melihat kedua mata istrinya kembali terbuka, lalu ia mendekapnya dengan erat, "tolong jangan seperti ini. Ku mohon, aku takut sangat takut..."isaknya, badannya tampak bergetar.
"Aku hanya sedang tidur mas.."ucap Calista.
Darren menggelengkan kepalanya, "apakah ada orang yang tidur selelap dirimu. Berkali-kali aku mengguncang tubuhmu, tak ada reaksi apa-apa? aku takut sayang,"
"Aku di sini mas, apa yang kau takutkan..?"cecar Calista.
"Aku takut kau meninggalkanku. Tidak, aku takkan pernah mau kehilangan dirimu,"seru Darren dengan badan yang masih gemetar, bayangan tadi saat Calista memejamkan kedua matanya terus menenuhi otaknya.
Darren membingkai wajah istrinya dengan kedua tangannya, "Kita berobat aja ya sayang, aku mohon.."pintanya.
Calista memalingkan mukanya kecewa, "tidak. Kau sudah berjanji padaku mas.."
"Tidak mas. Kau lihat aku baik-baik saja, aku tidak akan mau membawa anakku dalam bahaya..."bantah Calista, ia kecewa dengan suaminya bagaimana karena ketakutannya itu dia berniat mengingkari janjinya.
"Tapi..."
"Cukup..."bentak Calista membuat Darren terkejut.
"Kalau kau tak sudi merawatku dan anakku, aku bisa pergi darimu mas. Tapi sampai matipun aku takkan rela kau membawa anakku dalam bahaya, jika pun Tuhan berkehendak aku harus mati demi anakku, aku rela mas. Asal aku takkan menjadi pembunuh untuknya.."sambung Calista.
Darren menunduk, bukan karena ia tak sudi merawat Calista dan anaknya, bahkan jauh dari hati kecilnya ia teramat mendambakan anak yang di kandung Calista kini, tapi saat ia di hadapkan pilihan antara Ibu dan Anak, egoiskah dirinya jika mengingingkan Calista. Ia tak ingin kembali gagal, kehilangan orang yang ia cintai. Ia tak ingin Tuhan kembali mengambil orang yang berarti baginya.
"Bailklah aku takkan bicara itu lagi. Maafkan aku.."seru Darren saat hatinya sudah merasa tenang.
"Sekarang kamu makan dan vitamin ya.."buju Darren.
Calista mengangguk, Darren menggendong istrinya membawanya ke meja makan. Dalam gendongannya Calista terus menatap wajah sang suami.
__ADS_1
Jikapun Tuhan berkehendak lain. Aku takkan pernah menyesal pernah menjadi istrimu mas, aku bahagia sangat bahagia mas.
Mendudukan dirinya di kursi, Darren melayani istrinya mengambilkan makanan, juga menyuapinya, juga menyiapkan obat dan vitaminnya.
"Kamu juga makan dong mas, jangan hanya aku yang makan.."ucao Calista.
"Nanti, setelah kamu.."
Calista mendesah, ia mengangkat tangannya membelai wajah suaminya, "maaf ya.."
"Aku tidak menerima maafmu. Tapi aku ingin kau berjanji kau akan selalu berada di sampingku sayang.."
Calista mengangguk, Darren menyambutnya dengan senyuman tipis. Ia kembali menyuapi istrinya, setelah selesai ia memberikan obatnya pada istrinya.
"Sekarang kamu makan dong mas.."ucap Calista.
"Nanti saja, aku belum lapar.."sahut Darren, ***** makannya saja mendadak hilang.
"Makan dong mas, jika kamu tak makan aku bisa sedih, atau kamu mau aku suapi.."
Darren menggeleng, "aku bisa makan sendiri sayang.."sahutnya.
••
Like
Komentar
Hadiah
Vote
Tbc
__ADS_1