
Hari terus berlalu, kondisi kesehatan Calista masih sama. Rayuan demi rayuan Darren keluarkan demi membujuk sang istri berobat namun tak mengindahkan hasil sama sekali. Berkali-kali Calista keluar masuk rumah sakit, Darren juga kerap membawa pekerjaanya ke rumah, ada rasa takut saat harus meninggalkan Calista di rumah seorang diri, meski di rumah ada Dita, keluarganya juga selalu datang. Pun Ibu Mona yang kerap menginap di rumahnya demi menemani putrinya.
Senja mulai menampakkan wajahnya, seorang penjaga gerbang rumah Darren bergegas membuka gerbangnya begitu melihat mobil majikannya terlihat di ujung jalan.
"Selamat sore Tuan.."sapanya mengangguk hormat.
Darren yang duduk di balik kursi kemudi hanya tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya. Mobil yang di kemudikan Wildan sang asisten pribadinya melaju masuk, dan berhenti tepat di depan rumah.
Membuka pintu mobilnya, Darren melangkah turun sambari menenteng tas kerja miliknya.
"Sore Bi.."sapanya pada Bi Nah yang tengah berdiri di depan rumahnya.
"Sore Tuan.."balasnya, sembari menerima tas kerja majikannya itu.
"Bagaimana Calista.."tanya Darren, ada tatapan sendu dan luka saat ia harus menanyakan keadaan istrinya.
"Lebih baik Tuan.."
"Sekarang dia di mana..?"
"Nyonya sudah istirahat di teras belakang..."jelas Bi Nah.
Darren mengangguk paham, "saya akan temui dia.."
Darren melenggang masuk menuju teras belakang tangannya bergerak mengendurkan dasi miliknya. Saat berada di ambang pintu, Darren menghentikan langkahnya sejenak, matanya menatap sendu wajah cantik istrinya yang terlihat kian memucat. Calista, wanita yang teramat ia cintai tengah berbaring di kursi malasnya, sedangkan di sisinya Dita sang pelayan pribadi miliknya tengah memotongkan kuku kakinya, mengingat perutnya yang kain membuncit juga kondisi tubuhnya, Calista semakin membutuhkan bantuan merawat dirinya.
__ADS_1
Pancaran sinar matahari senja memantul di wajah cantik sang istri, rambutnya yang tebal perlahan mulai menipis kini tergerai cantik menutupi pundaknya.
Dita yanh merasa kehadiran Tuanya, pun mengangguk dan tersenyum tipis, "selamat sore Tuan.."sapanya hormat.
Darren hanya menganggukan kepalanya, setelah mentralkan perasaannya ia melangkahkan kakinya mendekati sang istri.
Melihat kehadiran suami tercintanya mendekat Calista tersenyum tipis. Darren mendekati mengecup lembut kening istrinya, juga perut buncitanya.
Usai itu ia memposisikan dirinya di depan istrinya, ia menatap lembut istrinya, "bagaimana? apa masih pusing sayang..?"tanyanya lembut.
Dita yang merasa majikannya perlu waktu berdua pun menyingkir dari sana.
"Aku baik-baik saja.."begitulah jawaban Calista jika di tanya, "kenapa pulang cepat? Kamu bilang hari ini pekerjaanmu banyak, kau harusnya pulang malam kan..?"sambungnya.
"Jangan khawatir, ada Dita yang mengurusku. Ibu, Mama, Bibi juga sering datang kesini.."tutur Calista sembari mengalihkan pandangannya ke arah Dita yang saat ini tengah berdiri di ambang pintu.
Darren melirik sekilas ke arah pelayan pribadi istrinya itu, "aku tau. Tapi aku tetap khawatir,.."sahutnya.
Calista tersenyum tipis, ia mengubah posisinya menjadi duduk lalu menepuk sisi nya, Darren yang mengerti pun langsung mendudukan dirinya di sebelah istrinya.
"Ada apa?"tanya Darren, kalau sudah seperti ini Darren tau ada sesuatu hal yang ingin istrinya itu katakan.
"Dita gadis yang baik kan mas?"tanya Calista.
"Hem.."
__ADS_1
Calista melirik ke arah suaminya, lalu mengambil tangan kekarnya menuntunnya ke perutnya, Darren tersenyum haru, "mau kah kau berjanji sesuatu padaku mas..?"pinta Calista.
"Janji apa dulu..?"
"Jika suatu hari sesuatu terjadi padaku, berjanjilah kau tetap memilih menyelamatkan putrimu sayang.."tutur Calista.
"Tidak..!"Darren refleks berdiri melepas genggaman tangan sang istri ia menatap tajam ke arahnya.
Calista menunduk, "mas a-aku.."
"Kau sudah berjanji padaku untuk terus bertahan, apa pun yang terjadi padamu aku tetap ingin kau ada.."
Aku tak yakin mas, yang ku inginkan hanyalah keselamatan putriku.
Ya, keduanya telah mengetahui jenis kelamin anaknya yang berjenis kelamin perempuan.
"Mas, jika suatu hari aku pergi. Menikahlah lagi, demi putrimu.."sambung Calista.
"Diam! Cukup!!!!..."bentak Darren menatap tajam istrinya, "Aku tak ingin mendengarnya.."sambungnya.
Calista mulai terisak pilu mendengar bentakan suaminya, ya keduanya memang kerap sekali berdebat perihal yang sama. Darren sungguh muak mendengarnya.
••
Tbc
__ADS_1