Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
TENGGELAM


__ADS_3

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Kini keduanya saling pandang.


"Bolehkan sayang.."Leno meminta ijin pada istrinya sebelum kembali melakukan ritual panasnya. Miliknya yang meronta seakan ingin menyembul dari balik celana yang ia kenakan, terasa begitu sesak ingin keluar dan di puaskan.


Dita menganggukkan kepalanya, "lakukanlah...."serunya, yang membuat kedua mata Leno berbinar bahagia.


Setelah kembali mendapatkan ijin sang istri tentu Leno tak menyia-nyiakan kesempatan itu, segera ia melepaskan celananya begitu juga pada kain tipis segitiga yang tersisa satu-satunya di tubuh istrinya.


Dita memalingkan mukanya malu, saat melihat miliknya suaminya yang tampak sedang mode on.


Secara perlahan, Leno mulai menggiring miliknya masuk, membuat Dita tersentak kaget, Dita menancapkan kuku panjangnya di punggung polos suaminya. Saat merasakan sebuah benda asing perlahan mulai tenggelam di bawah sana, meski belum sepenuhnya.


"Sa-sakit..."rintihnya, membuat Leno menghentikan dorongannya sejenak, ia menatap istrinya lembut.


"Sakit banget ya?"


Dita mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.


"Aku terusin ya..?"pinta Leno saat melihat wajah istrinya kembali rileks.


"T-tapi mas..."


"Tanggung banget ini sayang..."ujarnya.


Dengan usaha yang sedikit sulit Leno terus melakukannya lagi, terus mendorongnya masuk secara perlahan-lahan. Sampai akhirnya ia merasa sudah tenggelam di bawah sana ia baru bernafas lega, meski harus menahan perih di punggungnya akibat cakaran tajam kuku cantik istrinya.

__ADS_1


Leno yang tau istrinya merasa kesakitan pun menghentikan permainannya sejenak, ia berusaha membuat istrinya itu rileks, dengan cara men cum bu Dita yang berada di bawah tubuhnya dengan pasrah.


Merasa Dita sudah rileks, Leno mulai bergerak memaju mundurkan pinggulnya, dengan gerakan lembut.


Permainan yang begitu lembut berhasil membuat Dita merasa melayang, saat rasa sakit dan nikmat ia dapatkan secara bersamaan.


Leguhan yang keluar dari bibir Leno pertanda bahwa ia telah mencapai puncaknya saat ini. Dita merasakan sesuatu yang hangat mengalir di bawah sana, Leno mengecup lembut kening istrinya.


"Terimakasih, kamu yang terbaik.."serunya sambil melepaskan penyatuannya, Leno menggulingkan tubuhnya di samping tubuh istrinya.


Dita yang merasakan sekujur tubuhnya sakit tak menjawab ucapan suaminya. Nafas keduanya terengah-engah, saling berebut pasokan oksigen, usai permainan panas keduanya, mencipktakan hawa panas di kamar hotel itu.


Dita masih memejamkan matanya, merasakan nyeri di bawah sana, Leno memiringkan tubuhnya lalu menarik tubuh istrinya untuk ia dekap erat.


"Sakit..?"


Dita menganggukkan kepalanya, "entar kalau udah biasa juga enggak, enak malah.."sambung Leno.


Dita menenggelamkan wajahnya di dada polos suaminya, Leno segera menarik selimut di bawah kakinya untuk menutupi tubuh polos keduanya. Lalu memeluk tubuh istrinya erat.


"Terimakasih telah menjaga sesuatu yang berharga untukku. Aku merasa sangat bahagia.."ucapnya dengan binar bahagia, saat merasakan ia lah yang pertama merenggut kesucian yang istri.


"Istirahatlah, sebelum nanti lanjut yang kedua.."sambungnya sebelum kemudian ia menyusul istrinya untuk tenggelam dalam mimpi. Dengan tubuh polos yang hanya berbalut selimut tebal itu.


Rutinitas seperti biasa, Darren selalu bersikap lembut dan hangat, ia tak kan pernah bosan mengingatkan sang istri untuk meminum obatnya.


"Minum obatnya ya..?"ucapnya setelah ia menyiapkan beberapa butiran obat yang setiap hari memang harus di konsumsi Calista.

__ADS_1


"Iya mas.."


Calista pun menelan pil itu, lalu meminum air putih yang telah tersedia.


"Tidurlah.."titah Darren.


Calista menggeleng, "bisakah bawa Senja kesini, aku ingin memeluknya.."pinta Calista.


Darren berjalan melangkah mengambil Senja yang tengah terlelap di dalam box bayinya, secara perlahan ia membaringkan Senja di sisi istrinya.


"Cantik ya mas..?"pujinya saat ia menatap wajah putrinya.


Darren mengangguk, "iya, kaya kamu.."sahutnya.


Calista terkekeh, "aku udah gak cantik lagi lho, wajahku pucat seperti mayat hidup.."sahut Calista sendu.


"Enggak sayang, kamu tetap cantik kok. Dan akan selalu paling cantik menurut aku.."kekeh Darren.


Calista mengangguk, "terimakasih..."


Darren menganggukkan kepalanya, lalu mengecup lembut kening, pipi, dan bibir istrinya, "good night sayang..."ucapnya.


Senang banget ya Bang Leno udah goll🀣🀣🀣, padahal tadinya aku mau ngintip lho.


Udah lima bab hari ini ya. Meski jarang yang komen😭😭 gak apalah aku tetap semangat nulis. Makasih yang udah baca.


Udah pencet like belum, kalau belum balik lagi gih buat pencet cuman bentar kok gak sampai lima menit🀣🀣

__ADS_1


Banyak maunya lo Thor? Emang..


Tbc


__ADS_2