Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Keterkejutan Darren


__ADS_3

"Calista kenapa sayang..."gumam Mona sambil terus menangis dan merengkuh tubuh putrinya yang lemah tak berdaya.


Segera Aeron mengangkat tubuh putrinya, membawanya ke kamar yang berada di lantai bawah dengan di bantu oleh


"Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja.." ujar Aeron menangkan istrinya.


"Jangan panik, kamu telpon dokter untuk memeriksa Calista ya.."perintah Aeron yang segera di angguki oleh Mona. Dengan tangan gemetar penuh rasa takut Mona mengambil gagang telpon, melihat hal itu Aeron segera mengambil alih gagang telpon dan menelpon dokter.


"Ya hallo Dokter Margareth, tolong segera kesini putri saya pingsan.."perintah Aeron dalam telponnya.


"...."


"Baik Dok... Terimakasih.." ujar Aeron sambil meletakkan kembali gagang telponnya.


Mona menatap Aeron dengan sendu, rasa takut mulai mulai menjalar pada hatinya, sedari tadi Mona terus terisak, segera Aeron mendekap tubuh istrinya membawanya ke dalam pelukannya.


Di tempat tidur tampak Calista yang berbaring dengan wajah yang pucat pasi, pelayan tampak sibuk mencoba membangunkan Calista dengan memberikan minyak kayu putih pada hidungnya, tak lama Calista mengerjapkan matanya, bersamaan dengan Dokter Margareth yang tiba dengan di antar masuk oleh pembantu di rumah itu.


"Sayang.."Mona segera menghampiri Calista dengan rasa pilu.


"Kamu kenapa nak.."sambungnya.


"Biarkan Dokter yang memeriksa Calista lebih dulu, Bu.."ujar Aeron.


Calista melirik ke arah Dokter Margerth, sedetik kemudian ia terkejut, rasa khawatir mulai membuncah dalam hatinya, bagaimana jika kedua orang tuanya tau keadaan dirinya sebenarnya.


Bergegas Dokter Margareth berjalan mendekat memasang infus pada Calista, lalu ia mulai berjalan memeriksa Calista.


"Dokter, ku mohon jangan katakan apapun tentang penyakitku.."lirih Calista dengan nada memohon, beruntung Mona sudah menyingkir jadi ia tak mendengar permohonan Calista pada dokternya.


"Tapi Nona..."


"Saya mohon, saya akan memberi tahunya sendiri, tapi tidak sekarang.."sambungnya masih dengan nada bisik.


"Bagaimana dokter..."tanya Aeron usai Dokter Margareth selesai memeriksa keadaan Calista.


Dokter Margareth menarik nafasnya, " Nona Calista terlalu kelelahan, kurang tidur dan kurang asupan makanan pada tubuhnya, sepertinya dia tidak makan dengan teratur, kalau terus seperti ini takut janinnya tidak akan bertahan. Dan sepertinya Nona Calista juga dalam kondisi stress berat jadi itu bisa mempengaruhi dan menghambat proses pertumbuhan janin dalam kandungannya. Saya harap kalian dapat menjaganya terutama pernan suaminya sangat penting dalam kondisinya sekarang. Dan ini ada beberap obat dan vitamin dari saya.."ujar Dokter Margareth sambil memberikan beberap obat itu pada Mona.


Mona hanya terdiam tanpa berniat untuk menyela penjelasan dokter, ia juga menerima begitu saja obat-obatan yang di berikan Dokter itu tanpa ingin bertanya. Saat ini, pikirannya hanya terfokus pada apa yang terjadi sebenarnya dengan putrinya. Sementara Calista sudah mulai terlelap akibat pengaruh obat yang suntik yang di berikan oleh Dokter Margareth.


"Bu, Dokter Margareth mau pulang.." ucap Aeron sambil menepuk pundak istrinya, menyadarkan Mona dari lamunannya.


"terimakasih dokter.."ucap Mona dengan senyum tulusnya.

__ADS_1


"sama-sama Nyonya.."sahut Dokter Margareth sebelum berlalu keluar meninggalkan mereka dengan di antar oleh pelayan rumah itu.


"Kenapa Calista bisa stres begitu Yah, apa yang sebenarnya terjadi.."ucap Mona sambil terisak dalam pelukan suaminya.


Aeron menggelengkan kepalanya, "Telpon Darren, Yah. Ibu akan menanyakannya langsung padanya.."


Aeron mengangguk ia segera mengambil gagang telpon di kamar itu dan menghubungi Darren berkali-kali namun tak ada jawaban sama sekali.


"Tidak di angkat ma.."ucap Aeron sambil terus menghubungi Darren.


"Dari awal seharusnya kita tidak mengijinkan Calista menikah dengannya Yah. Aku sungguh menyesal memberikan restu padanya.."ujar Mona dengan nada pilu, tangannya mengepal rasa kecewa mulai menjalar pada seluruh hatinya. Tak lupa matanya terus mengeluarkan air mata.


"Calista.. putriku. Kenapa nasibmu begitu malang sayang..."gumam Mona sambil terus terisak menjatuhkan dirinya di lantai.


Aeron mengepalkan kedua tangannya, ia berlalu keluar mengambil ponselnya untuk menghubungi asisten pribadinya, "Adakan konferensi pers lusa, aku ingin mengungkapkan semuanya.."perintah Aeron dengan tegas.


"Baik pak..."


🌹🌹🌹


Calista mengerjapkan matanya menyesuaikan pandangannya dalam kamar itu.


"Bu..."panggil Calista pada Ibunya.


Calista mencoba bangun menyandarkan dirinya ke ranjang, "Jangan di paksa bangun Calista.."


"Ma... aku..."


"Kamu hamil sayang, selamat ya..."ucap Mona sambil tersenyum, namun Calista melihat wajah ibunya yang sembab, terlihat ia habis menangis.


"Makasih Bu..."ucapnya.


Tidak lama pintu kamar terlihat terbuka Darren masuk dengan wajah muram dan sudut bibir yang terluka entah karena apa. Tapi Calista yakin jika Darren pasti habis di pukul atau di tampar oleh seseorang.


Darren segera menghampiri Calista dengan senyuman yang di paksa, dengan mata yang menatap Calista dengan tajam yang hanya dapat di lihat oleh Calista. Darren bahkan tidak tau jika kedua mertuanya sudah tau semuanya dan menatapnya dengan penuh amarah.


"Ayo kita pulang Calista.."ajak Darren datr dengan senyum yang di paksakan. Suasana kamar itu menjadi tegang, apalagi dengan kedatangan Aeron yang terlihat sedang menahan amarah.


"Kamu kenapa bisa luka mas.."tanya Calista lembut sambil menyentuh luka di bibir suaminya. Darren meringis menahan sakit saat lukanya di sentuh oleh Calista dan menggenggam tangan Calista dengan erat membuat Calista paham akan kesalahannya lalu ia kembali memilih diam.


"Biarkan Calista istirahat di sini dulu beberapa hari.."ucap Mona dengan nada dingin.


"Gak apa-apa Bu, Calista pulang aja.."seru Calista pelan hal itu sukses membuat wajah Mona terlihat sedih.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu maumu, tapi kamu harus lebih bisa menjaga diri ya untuk kamu dan kandunganmu.."ujara Mona sambil membelai lembut pipi putrinya.


Perkataan Ibu mertuanya tentang kondisi Calista sontak membuat Darren terkejut mematung di tempatnya. Apa benar istrinya hamil, dan hal ini di luar perhitungannya.


Dasar bodoh jelas Calista bisa hamil, mengingat bagaimana seringnya ia menyentuh istrinya dan itu tanpa pengaman.


"Apa yang harus aku lakukan.."gumam Darren dengan lirih namun masih dapat di dengar oleh semuanya. Hal itu sukses membuat Mona dan Aeron semakin murka.


Calista terlihat jelas kecewa akan respon suaminya itu, ia menahan diri untuk tidak menangis saat itu juga. Hatinya terasa sakit, melihat rasa ketidak sukaan suaminya pada janin dalam kandungannya, wajhanya terlihat pias akan ketakutan.


Aeron menahan diri untuk tidak memukul Darren saat itu juga. Ia merasa kecewa dan menyesal lantaran memberi ijin Darren untuk menikahi putrinya, sementara ia sama sekali tidak bertanggung jawab. Tapi apa yang bisa i perbuat saat nasi menjadi bubur.


Setelah semuanya terungkap, Aeron akan membuat Darren menyesal berlutut dan memangis di hadapan Calista. Aeron berjanji siapapun yang terlibat menyakiti putrinya dia harus membayar mahal akan tangisan putrinya.


"Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja. Ingat kamu tidak boleh setress, Ayah dan ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu.."ujar Mona lembut, Calista menganggukan kepalanya.


"Bu, ayo kita keluar beri mereka berdu privasi untuk berbicara berdua.."ajak Aeron pada istrinya.


Sepeninggal kedua mertuanya, Darren masih mematung dengan berkecamuk di otaknya. Sebenarnya ia sangat bahagia mendengar akan hadirnya seorang anak dalam kandungan istrinya, namun di sisi lain ia sangat takut jika hal ini di ketahui oleh Mama Meysa, ia akan membuat Calista dan bayinya dalam bahaya.


"Bagaimana keadaanmu.."tanya Darren dengan datar.


"Baik..."lirih Calista.


"Meskipun kau sedang menhandung anakku, jangan berharap aku akan bersikap lembut padamu, semua tidak akan berubah Calista. Kamu paham bukan.."ucap Darren penuh tekanan.


Calista mengangguk lemah, lalu memalingkan mukanya tak sadar air matanya mulai mengalir, kemudian ia terisak pelan.


Darren dapat melihat badan istrinya yang bergetar, ia menatap istrinya dengan sendu, rasa sakit pun hinggap dalam hatinya. Berkata seperti itu sama juga dengan cara ia menyakitinya sendiri, Darren sadar bahwa hatinya saat ini sudah sepenuhnya terisi Calista.


Tak kuat melihat istrinya yang terisak Darren segera merengkuh istrinya membawanya ke dalam pelukannya, Maafkan aku Calista, batin Darren


Calista tetap terdiam mematung tak membalas pelukan suaminya, meskipun ia sangat membutuhkan dan merindukan pelukan ini.


🌹🌹🌹


Mohon maaf kalau alurnya lambat buat kalian bosan ya 😌


Dukung Author dengan Like, Komentar, Hadianya 😊


Makasih


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2