Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Rumah Baru


__ADS_3

"Sudah sampai Tuan..."ucap Wildan begitu mobil berhenti tepat di pekarangan rumah dua lantai itu.


Darren maupun Calista pun tersadar, keduanya melihat ke arah samping, "oh ya, saya lupa.. Makasih Wildan.."seru Darren.


Wildan melirik atasannya itu dengan heran, sejak kapan Darren pandai berterima kasih, "sama-sama Tuan,.."


"Mas ini rumah siapa..?"tanya Calista usai Darren membawanya turun dari mobil. Wanita itu menatap kagum bangunan megah rumah itu, dengan tanaman hijau yang mengitari rumah itu, beserta tanaman bunga kecil yang di tengahnya terdapat air mancur yang mengalir, indah sekali terlihat begitu cantik. Melirik ke arah halaman samping juga terdapat sebuah ayunan. Calista langsung jatuh hati pada rumah itu.


"Ini rumah kita sayang..."jawab Darren, sembari merangkul lengan istrinya.


"Benarkah? Rumah ini indah sekali mas, seperti rumah impianku..."decak Calista, wanita itu menatap suaminya dengan mimik wajah lucu antara percaya dan tidak.


Darren menggelengkan kepalanya, tak ingin banyak bicara, ia lebih memilih membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah. Calista hanya diam sembari menatap kagum setiap sudut rumah itu, Darren merasa senang dan puas melihat raut bahagia istrinya.


"Sungguh indah..."sekali lagi Calista berucap kagum akan rumah itu.


Darren segera menggandeng lengan istrinya menuju kamar mereka yang ada lantai bawah, berhubung Calista tengah hamil, Darren tidak ingin istrinya merasa lelah jika harus sering naik turun tangga.

__ADS_1


"Ini kamar kita sayang.."ujar Darren menatap istrinya yang tengah berbinar bahagia. Kamar dengan nuansa warna gold itu terlihat begitu mewah.


"Jadi ini beneran rumah kita mas...?"tanya Calista lagi.


"Ya sayang, mulai sekarang inilah rumah kita. Ini kejutan yang ingin ku berikan untukmu, apakah kau menyukainya...?"Darren bertanya sembari menggenggam tangan istrinya. Calista menatap haru pada suaminya kini.


"Tapi, bukankah kita sudah mempunyai rumah mas. Rumah yang selama ini kita tinggali itu..."seru Calista.


Darren menggiring istrinya untuk duduk di pinggir ranjang, sementara dirinya berjongkok menatap kedua mata istrinya yang tampak berkaca-kaca.


"Aku ingin memulai semuanya dengan baru sayang. Rumah ini memang sengaja aku berikan untuk kamu dan anak-anak kita kelak. Kau bukan lagi istri pengganti lagi seperti dulu, aku ingin menghabiskan waktu denganmu semumur hidupku sayang..."ujar Darren ia menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca.


Teri**makasih Tuhan.. Terimakasih, aku sangat bahagia, jika boleh izinkan aku untuk hidup lebih lama lagi bersama suamiku..lirihnya.


Melepas pelukannya Darren menatap istrinya dalam-dalam, ada sebuah kerinduan yang membuncah dalam dadanya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada istrinya. Aroma maskulin menguar dan masuk ke dalam indra penciuman Calista, membuatnya terasa nyaman. Darren mengusap lembut kepala Calista, dan sesuatu yang lembut dan hangat berlabuh di keningnya, hanya sekilas namun dapat mengubah raut wajah Calista yang kini tampak merona.


Tak cukup kecupan di kening, kini kecupan itu beralih ke pipi dan berhenti tepat di bibir ranum istrinya. Calista yang semula hanya diam kini terlihat begitu menikmati permainan lidah suaminya, tak jarang ia pun membalas ******* suaminya. Ciuman kerinduan itu menjadi lebih menuntut ke hal yang lebih, sampai pada akhirnya Darren menyadari kening istrinya mengekerut terlihat menahan sesuatu, akhirnya ia melepaskan ciumannya.

__ADS_1


"Kenapa...?"tanya Darren denga khawatir.


Calista menggeleng, "tidak.."


"Pusing...?"tanyanya lagi. Calista mengangguk.


Darren mengusap wajahnya frustasi bagaimana ia bisa hampir lepas kendali, bahkan kondisi istrinya tengah hamil muda, pun dirinya juga belum sepenuhnya pulih, "maaf sayang, aku hampir saja lepas kendali. Lebih baik sekarang kau istirahatlah.."


"Tapi mas, kamu gimana kan..."Calista melirik ke arah bagian bawah celana suaminya.


Darren mengikuti arah pandang istrinya, "aku selesaikannya di kamar mandi, kau istirahatlah.."serunya sebelum akhirnya ia berlalu ke kamar mandi dengan sedikit berlari.


Calista terkekeh, sebelum kemudian ia merangkak naik ke tempat tidur untuk istirahat.


Satu jam kemudian Darren keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang membalut pinggangnya, ia melirik ke arah istrinya yang tampak sudah terlelap.


"Bagaimana bisa hasratku langsung berkorbar hanya dengan menciumnya saja. Dia sedang hamil aku harus pandai-pandai menahan diri.."gumam Darren, sebelum ia berlalu mendekati lemari untuk berganti pakaian. Untungnya, semua kebutuhannya sudah tersedia di rumah itu.

__ADS_1


•••


Tbc.


__ADS_2