Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
NAMAKU MARIO


__ADS_3

Calista terisak menyadari kondisi dirinya yang mengenaskan, kedua tangannya di ikat, pun sekarang ia berada dalam ruangan yang gelap. Pikirannya kembali melayang, di mana suaminya saat ini pasti tengah kebingungan mencarinya.


Ceklek.. pintu kamar terbuka, seorang pria muda masuk membawa nampan yang berisi makanan di tangannya. Ia datang mendekati Calista sambil tersenyum, sementara Calista memberi tatapan yang menusuk padanya.


"Makanlah Nona.."ucapnya sembari meletakkan nampan yang ia bawa di atas ranjang.


"Siapa sebenarnya dirimu? Dan kenapa kau melakukan ini padaku, aku tidak mengenalmu..."tanya Calista dengan takut.


Pria itu semakin mendekat, melihat setiap inci wajah cantik Calista, lalu tersenyum manis.


"Dia benar-benar cantik, pantas saja Caren selalu iri padanya, andai saja aku lebih dulu bertemu dengannya..."batinnya.


"Jangan mendekat.."seru Calista, ia meringsek takut.


Pria itu hanya terkekeh kecil, "aku hanya akan melepaskan ikatan di kedua tanganmu, agar kau bisa makan.."serunya sembari melepaskan ikatan di kedua tangan Calista.


Harum semerbak wangi lavender menyeruak dalam indera penciumannya, "kenalkan namaku Mario, Nona Calista.."sambungnya sembari mengulurkan kedua tangannya.

__ADS_1


Calista melengos menatap ke arah pintu, "di mana Mama Meysa..?"


"Dia ada di ruangan bawah tanah, nanti aku akan mengantarmu kesana, sekarang makanlah lebih dulu Nona.."seru Mario sembari terus menatap Calista lekat-lekat. Calista beringsut takut, ia berdiri menjauh dari Mario.


"Aku tak ingin makan.."jawabnya.


Calista terus beringsut ketakutan, hingga ia hampir membentur meja.


"Tenanglah Nona, tidak usah takut. Aku hanya ingin melihatmu lebih dekat.."ucap Mario.


Dengan nafas yang terengah-engah, di sisa kekuatannya, Calista terus melirik ke arah pintu keluar yang masih dalam kondisi terbuka. Melihat kini Mario dalam keadaan lengah, Calista berlari keluar sembari memegangi perutnya.


"Kau tidak bisa lari kemanapun Nyonya Darren..."sentak seorang wanita dengan aura wajah yang menyeramkan, ia segera menarik tangan Calista dengan gerakan kasar, dan menyeretnya ke ruang bawah tanah tempat di mana ia menyekap Meysa.


"Lepaskan dia Caren, dia sedang hamil..."ujar Mario menatap Calista dengan kasihan.


Caren menatap Mario dengan tatapan tajam, "kau membelanya Mario? Tidak ingatkah semua yang terjadi padaku karena siapa, hah? Kau sudah berjanji padaku akan membantuku Mario.."bentak Caren, kini ia justru menarik kasar rambut Calista.

__ADS_1


"Awww..."Calista meringis sakit, rasa sakit di kepalanya mendadak hinggap begitu saja.


Caren tertawa jahat saat melihat Calista meringis kesakitan, ia melihat ke arah tangannya di mana rambut Calista sampai rontok, senyum kepuasan tercetak jelas di bibirnya.


"Carennnnn...."bentak Mario.


"Apa? Jika kau berani membelanya lagi, tak kan segan aku juga membunuhnya saat ini juga di depan matamu sendiri.."ancam Caren.


•••


Darren terlihat begitu frustasi, ia sudah mencari kemanapun setiap sudut tempat yang di singgahi istrinya, namun hasilnya nihil. Entah kemana Caren membawa istrinya pergi.


Ia sangat khawatir akan kondisi istrinya kini, mengingat kesehatan Calista yang memang tidak baik, kehamilannya yang kian membesar, lalu sekarang entah di mana dia berada. Darren seakan merasakan nafasnya berhenti saat itu juga. Aeron sudah mengerahkan anak buahnya, namun belum juga membuahkan hasil.


Jona menatap iba pada kondisi sahabatnya itu yang terlihat begitu kacau dan berantakan.


"Sebaiknya kau tidur dulu Darren, kau juga perlu istirahat.."tutur Jona.

__ADS_1


••


Tbc


__ADS_2