
Darren masih terdiam mengamati setiap inci wajah istrinya yang terlelap dalam dekapannya. Calista memintanya untuk memeluknya setiap tidur, pada akhirnya Darren menaikan tubuh tidur di sebelah istrinya.
Menghela nafasnya, Darren tersenyum getir saat melihat wajah istrinya yang terlihat begitu pucat, sekuat tenaga ia berusaha untuk tak terisak saat itu juga. Terhitung baru beberapa jam yang lalu ia mengetahui penyakit istrinya, rasanya sudah sangat menyakitkan, rasanya tak kuasa menerima ini, lalu bagaimana selama berbulan-bulan ini istrinya menyembunyikannya secara rapi darinya.
Ayah, Ibu..
Darren mengusap wajahnya secara kasar, saat mengingat nama Ayah Aeron dan Ibu Mona, bagaimana saat keduanya mengetahui keadaan putri tunggalnya kini. Saat ini keduanya memang sedang berada di luar negeri. Jika untuk Ayah Aeron, Darren yakin bisa kuat dan tegar, tapi bagaimana dengan Ibu Mona? pastilah wanita itu sangat histeris.
"Mas.."panggil Calista menatap wajah suaminya yang kini tampak sendu.
"Kenapa bangun hem..?"tanya Darren sembari mengecup lembut kening istrinya.
"Kenapa kamu tidak tidur..?"bukannya menjawab Calista jusru berbalik tanya.
Bagaimana aku bisa tidur, aku sangat takut sayang mellihatmu seperti ini, rasanya semangatku hampir mati.
"Aku belum ngantuk, kau tidurlah sayang.."seru Darren.
Calista menghela nafasnya lemah, guratan-guratan cemas di wajah suami dapat terlihat jelas, "kau memikirkan sesuatu? jangan jadikan semua ini beban sayang.."kata Calista.
Beban! Bagaimana istrinya bisa berfikir dirinya itu beban untuknya, sementara bagi Darren, Calista adalah hidupnya.
"Jangan pikirkan diriku, sekarang pikirkanlah kondisi dirimu.."seru Darren.
Calista terdiam, "aww.."ringisnya.
"Kenapa? Apa ada yang sakit, katakan..?"tanyanya dengan khawatir, secepat itu ia mengubah posisinya.
Calista tersenyum menggeleng, "tidak.."
Perlahan ia mengambil telapak tangan suaminya, lalu ia letakkan di perutnya, "tadi aku merasakan ada pergerakan di sini, rasanya aku senang sekali.."sambung Calista dengan senyum bahagia.
__ADS_1
Darren hanya terdiam mematung, melihat itu membuat Calista kecewa, apakah suaminya tidak senang mendengarnya.
"Kamu tidak bahagia ya mas, mendengarnya..?"tanya Calista dengan kecewa.
Darren tersenyum tipis, "bahagia sayang, tentu aku bahagia jika kamu pun bahagia.."elak Darren.
Meski terdengar ragu namun Calista berusaha mempercayainya, bagaimanapun ini situasi yang sulit untuk suaminya.
"Apakah besok aku bisa pulang ke rumah?" Calista berusaha mengalihkan pembicaraannya.
"Tidak, kau masih harus di rawat."jawab Darren.
Calista mendesah kecewa, "tapi aku ingin pulang mas, aku bosan berada di sini." rengeknya dengan nada memohon.
"Akan ku bicarakan pada dokter besok, sekarang tidurlah, aku akan ke kamar mandi sebentar.."seru Darren ia menjuntaikan kakinya melangkah ke kamar mandi.
Calista menatap suaminay dengan sedih. Sampai di kamar mandi Darren terisak pelan, jika depan Calista ia akan berusaha untuk kuat, nyatanya ia tak sekuat itu. Rasanya hancur melihat orang yang ia cintai kini harus menderita karena penyakitnya.
••
"Mas aku masih bisa berjalan.."ucap Calista saat turun dari mobil Darren justru menggendongnya.
"Diam! aku tak ingin di bantah. Jika kau tidak menurut perkataanku, maka aku akan memaksamu untuk berobat saat ini juga.."ancamnya sembari menatap wajah istri dalam gendongannya.
Calista menunduk malu, lalu ia sandarkan kepalanya di dada suaminya, yang terdengar berdetak begitu kencang. Meysa dan Nancy menatap keduanya dengan haru.
Bolehkah aku bersikap egois! Jangan ambil Calista dari sisi keponakanku, Tuhan.gumam Nancy
Melangkah pelan, Darren membawanya istrinya masuk ke dalam kamarnya, perlahan ia membaringkannya di sana, Darren mengambil selimut tebalnya untuk menyelimuti istrinya.
"Tidurlah, dua jam lagi aku akan membangunkamu untuk makan dan minum vitamin.."titah Darren, ia kecup lembut di keningnya. Usai itu Darren hendak memutar tubuhnya, untuk meninggalkan istrinya.
__ADS_1
"Mas.." Darren tersentak saat tangan lembut istrinya memegang pergelangan tangannya.
Pria itu kembali memutar tubunya menatap istrinya, "kenapa?"
"Jangan sedih, tersenyumlah.."pinta Calista.
"Aku tidak bisa.."
"Untuk aku mas, ku mohon.."ucapnya dengan memaksa. Usai itu Darren pun memaksakan senyumnya sembari menatap istrinya.
"Begitulah, jangan pernah pasang wajah dinginmu itu. Itu sangat menakutkan, bukankah suamiku sangat tampan jika sedang tersenyum.."puji Calista.
"Ya, aku hanya akan tersenyum padamu, sekarang tidurlah.."
Calista mengangguk, sebelum kemudian ia memejamkan kedua matanya. Darren tersenyum getir. Setelah itu, Darren melangkahkan kakinya keluar dari kamar menemui Bibi Nancy dan Mama Meysa.
"Aku harus apa Ma, Bi? Calista tak mau melakukan pengobatan sebelum anaknya lahir.."ucap Darren frustasi.
"Bibi tau ini semua berat, tapi turutilah permintaan Calista. Jika pun kau memaksanya untuk berobat lalu mengancam keselamatan anakmu, Calista tidak mau itu semua juga akan sia-sia, ia hanya tertekan dan stress.."ujar Bi Nancy.
"Mama sudah mencari informasi seputar pengobatan itu Darren, dan hasilnya sama. Semua itu beresiko untuk khasus istrimu yang tengah hamil.."timpal Mama Meysa.
••
Like
Komentar
Hadiah
Vote
__ADS_1
Tbc