Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
SENGAJA


__ADS_3

Detik terus berganti menit, menit berganti jam perlahan langit mulai menggelap, Dita masih sibuk dengan pemikirannya, menimbang-nimbang langkah apa yang harus ia buat. Ia terus mondar-mandi di dalam kamarnya, kemudian ia melangkahkan kakinya keluar.


"Cari siapa?"tanya Ayah Dita melihat putrinya menengok kesana-kesini.


Dita menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "ganti baju dong Dita, kan udah ayah bilang dandan yang cantik bentar lagi calon suami mau datang. Ini malah masih pakai baju rumahan gitu,.."ucap Ayah Dita..


"Ya ayah, ini juga lagi nyari Kak Widya.."sahutnya.


"Hayo ada apa cari aku..?"seorang wanita dewasa menghampiri Dita, dia Widya merupakan Kakak kandung dari Wildan.


"Kamar aku yuk kak, bantuin aku..."Dita segera menyeret Widya menuju kamarnya.


"Dit nanti Ciara nyariin aku lho.."ujar Widya,


"Kan ada ayah juga, aku perlu bantuan kakak juga..."serunya.


"Baiklah.."







Jona duduk dengan gelisah di belakang kursi kemudi, semua itu tidak luput dari tatapan Julian.


"Gak usah gugup gitu, gak nyesel deh kamu kalau udah kenal dia.."ujar Julian, Liliana hanya tersenyum tipis.


Jona mendengkus, "Cantik gak Pa? Seksi kan pa, awas aja kalau bodynya jelek.."


"Cantik lah.. cantik banget hatinya.."jawab Julian.


"Kasih tau fotonya dong Pa..?"pinta Jona.


"Enggak, orang buat surprise kok.."


Jona hanya mencibirkan bibirnya.



__ADS_1





"Jadi apa yang mesti kakak bantu..?"tanya Widya setelah sampai di kamar Dita.


Dita duduk di kursi menghadap meja riasnya, "kuncir rambut aku kak.."pintanya sambil memberikan kunciran rambut pada kakak sepupunya itu.


"Oh kuncir ekor kuda ya? Rambutmu emang panjang jadi terlihat cantik emang kalau di ikat ekor kuda.."ujar Widya.


"Eh bukan begitu kak..."


"Lalu..."


"Kuncir dua.."


"Apa???"Widya terkejut.


"Iya kuncir dua, kaya kakak nguncir Ciara kalau mau berangkat sekolah itu lho.."ujar Dita.


"Ngaco ah, Ciara kan masih kecil, lha kamu kan dah besar Dit, lagi bentar lagi calon suamimu datang, kamu mau buat dia ilfil liat penampilan kamu.."


Calon suami? Cih calon suami apaan, emangnya sudah tentu Dita mau menerima dia gitu.


"lho kok..."


"Ya kalau emang dia mau Nerima aku apa adanya it's okay aku jalani, kalau dia liat aku kaya gini dia ilfil berarti dia gak cocok buat aku, gitu aja kok repot sih kak..."


Widya menggelengkan kepalanya, entah apa yang ada di otak Dita sampai punya rencana seperti itu.






Pukul delapan malam, deru mobil terdengar di depan rumah, membuat jantung Dita berdebar tak karuan.


"Itu udah pada datang, ayo keluar.."ajak Widya.


"Enggak mau, kakak duluan aja. Nanti aku nyusul.."jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah.."Widya melangkah keluar meninggalkan Dita.


Sepeninggal Widya, Dita berjalan mengendap-endap mendekati pintu lalu membukanya sedikit, ia berusaha melihat siapa pria itu. Namun hal itu sia-sia, ia hanya mendengar ayahnya itu hanya mempersilahkan mereka duduk.


"Lho Widya di mana Dita, kok gak ikut keluar..?"tanya ayah Dita bingung.


Widya yang tengah menatap wajah pria tampan di depannya itu terlonjak, "i-iya dia ada di kamarnya yah..."


"Anak itu.."Ayah Dita menggelengkan kepalanya.


"Gak papa kok Pak, mungkin dia masih dandan yang cantik.."sahut ibu dari pria itu.


"Panggilkan dia Widya.."perintahnya.


Widya melangkahkan kakinya menuju kamar Dita bermaksud memanggil Dita.


"Kamu yakin mau keluar dengan dandanan begitu..?"tanya Widya pada Dita.


Dita mengangguk, "iyalah.."


"Ntar kamu nyesel lho,.."


"Gak akan.."kekeh Dita.


"Kau tau tidak, kalau pria itu sangat t-"


"Ih berisik ayo cepat keluar.."Dita memotong ucapan Widya dengan cepat, lalu menyeretnya keluar.


Tap.. tap.. bunyi dentuman sandal dengan lantai terdengar mengalihkan semua orang yang sedang mengobrol di ruang tamu, kini semua mata memandang ke arahnya.


"Hai semuanya..."sapa Dita dengan percaya diri.






Prulllll... uhuk.. uhuk...


" kamu..."


•••

__ADS_1


Tbc


__ADS_2