
Tidak jauh beda dengan keadaan Calista, pun dengan Mona selaku Ibu kandung Calista ia merasa terluka, hatinya terasa tersayat dengan sebuah belati yang sangat tajam, sedari tadi ia tak berhenti menangis.
"Sudah lah Bu, jangan terus menangis. Atau nanti justru membuat Calista semakin sedih.."pinta Aeron.
"Seandainya waktu dapat di putar ulang Yah, aku tidak mungkin mengijinkan Darren meniakahi putri kita. Sekarang kita harus bagaimana, haruskah kita menahan putri kita untuk tetap di sini.."ujar Mona
"Sekarang bukan waku yang tepat untuk menyesali semua yang terjadi. Ini sebuah takdir yang tak dapat kita hindari.."jawab Aeron bijaksana.
"Tapi..." Mona menatap suaminya dengan sendu dan mata yang sembab.
"Sekarang kita hanya bisa memperbaiki keadaan Bu, meski hal itu pun tergantung keputusan Darren dan Calista. Sebagai orang tua kitapun mempunyai batasan untuk ikut campur dalam masalah rumah tangga mereka. Tapi percayalah jika Calista pasti mampu melewati semua cobaan rumah tangganya dengan baik.. Kau mengenal baik bukan bagaimana putri kita, dia wanita yang bertanggung jawab apapun yang dia lakukan dan putuskan.. Jika saatnya tiba Calista akan terlepas dari rasa bersalahnya dan Darren lah yang akan lebih menderita.." ucap Aeron dengan senyuman yang menenangkan istrinya.
"Tapi Ibu takut Ayah, saat ini kondisi Calista sedang hamil. Apakah tidak lebih baik jika kita menahan dia untuk tetap tinggal bersama kita.."seru Mona
Aeron menggeleng, "itu bukan ide yang baik, bu. Jangan seperti itu, biarkan Calista pulang, dia sudah menikah hak sepenuhnya sudah milik Darren. Dia mempunyai tanggunh jawab yang cukup besar.."ujar Aeron lembut.
"Lantas kita harus gimana yah..?"
"Biarkan semua tetap berjalan seperti sebelumnya sampai semua tiba waktunya. Tugas kita sebagai orang tua hanyalah menasehatinya saat dia salah langkah, namun tetap saja Darren lebih berhak atas Calista.. Percayalah dengan Ayah, bu. Aku akan melakukan yang terbaik untuk putri kita.."ujarnya.
Tak lama, terlihat Darren keluar dari kamar, lalu mendudukan dirinya di depan kedua mertunya yang bersebrangan dengan meja. Terlihat jelas raut wajah Darren yang sedang di landa kebingungan.
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan pada kami..."tanya Aeron penuh selidik.
"Iya... eh enggak pa..."jawab Darren dengan gugup, membuat Aeron menatapnya dengan geram.
"Kami harap kamu bisa di percaya untuk menjaga Calista dengan baik, apalagi kondisi Calista saat ini tengah hamil.."ujar Mona dengan nada dingin tanpa menatap Darren.
"Iya Bu.."
"Kalau kamu merasa tidak yakin, kamu bisa mengembalikan putri kami.."ujar Mona sebelum berlalu pergi meninggalkan keduanya.
Usai kepergian Mona, ruangan itu menjadi seunyi dan mencekam. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Aeron menatap Darren penuh selidik.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan pada saya..?" hardik Aeron tepat sasaran karena tepat sekali tubuh Darren langsung menegang kaku di tempatnya, ia terlihat sedang menimang-nimang pikirannya sebelum menjawab pertanyaan ayah mertuanya itu.
"Tidak ada ayah..."jawab Darren singkat.
"Tidak ada ? jawaban yang tidak jelas dari kamu itu justru membuat saya ingin sekali menghajarmu. Ingat sekali kata-kata saya ini, kau pasti akan menjadi orang yang paling menderita dan menyesal. Saat kau merasa terpuruk di situlah kau akan merasa sangat kehilangan hal yang paling berharga nantinya.."tegas Aeron.
Darren terdiam tak mampu menjawab lidahnya kelu.
"Kenapa diam saja..? apa tidak ada yang ingin kamu tanyakan tentang apa yang saya katakan barusan.."sambung Aeron
Namun saat Darren hendak menjawab ponsel dalam saku Darren berdering memperlihatkan Jona yang menelpon dirinya,.
__ADS_1
"Angkatlah siapa tau penting.."ujar Aeron pada Darren sebelum berlalu pergi.
Darren mengangguk segera mengangkat ponselnya.
"Apa kau masih mempunyai menjalankan misimu untuk balas dendam pada istrimu.."tanya Jona tiba-tiba.
"Ada apa..?"
"temui aku di cafe, banyak yang ingin bicarakan padamu.."
"Tidak bisa, besok saja.."
"Ini mendesak.."
"Katakan saja di telpon.."
"Aku berharap kau menyudahi untuk balas dendam pada istrimu itu Darren, sebagai temana aku tidak mau pada akhirnya kau menyesal dan menderita, jika suatu hari apa yang kau lakukan saat ini menurutmu benar ternyata hanya sebuah kesalah pahaman semata.."bentak Jona sebelum mematikan ponselnya.
Tubuh Darren terasa kaku menegang, sahabatnya itu seakan tau lebih banyak, ingin sekali ia berlari keluar menemui Jona tapi ia mengurungkan niatnya, rasanya tidak etis saat ini ia tengah berada di rumah mertuanya dan kondisi Calista sedang sakit.
"Damn'n it sialan..."pekik Darren frustasi.
🌹🌹🌹🌹
Beberapa hari ini Caren terus menyuruh seseorang untuk menyuruh seseorang untuk mengintai Calista. Agar ia bisa segera melaksanakan rencananya.
Mario hanya terdiam sinis menatap Caren, "Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat Ren,. Bolehkah aku menikmati tubuhnya lebih dulu sebelum kau membunuhnya.."seru Mario
"Tentu saja sayang.."ujar Caren sambil mendekati Mario lalu ******* bibirnya secara kasar dan penuh gairah.
🌹🌹
Meysa mendatangi kediaman Darren namun terlihat kosong, hanya ada pembantu di sana. Mereka bahkan tidak tau di mana Darren berada. Ia mencoba menghubungi Darren namun tak di angkat.
"Apa dia sedang mencoba mengkhianatiku.."geram Meysa penuh emosi segera memilih pergi dan berlalu ke rumah kedua orang tua Calista. Meysa tidak habis pikir Darren yang dulu begitu mencintai mendiang Breana kini telah berpaling, dan dengan mudah mengecewakannya.
Sementara itu Darren yang sedang berada di rumah mertuanya terdiam, sedari tadi ponselnya terus berbunyi namun ia mengacuhkannya. Ia sungguh merasa lelah menuruti kemauan Meysa.
"Kenapa tidak di angkat ponselnya..?"tanya Bibi Nancy sambil menepuk lembut pundak keponakannya. Bibi Nancy langsung datang ke rumah ke dua orang tua Calista begitu tau Caksita tengah mengandung.
"Gak apa-apa Bi, hanya telpon tidak penting.."jawab skenanya. Tapi entah kenapa Bibi Nancy merasa ada sesuatu yang di tutupi.
"Ya sudah Bibi mau membantu Ibu mertuamu untuk menyiapkan makan malam ya. Bibi harap mulai sekarang kamu harus lebih perhatikan Calista, dan susu hamil ini tolong kamu berikan padanya.."ujar Bibi Nancy sambil meletakkan segelas susu hamil di atas meja.
Sepeninggal Bibi Nancy, Darren segera memgambil segelas susu hamil itu dan berlalu pergi ke kamar Calista.
__ADS_1
Begitu masuk kamar terlihat Calista sedang duduk sembari menonton televisi dalam posisi memunggungi, namun pandangannya kosong wanita itu tengah melamun.
"Calista.."panggil Darren lembut sambil menepuk pundak istrinya, Calista tersentak begitu melihat suaminya berdiri di sampingnya.
"hem apa mas..?" jawab Calista.
Darren tidak menjawab pertanyaan Calista, ia langsung menyodorkan segelas susu ibu hamil pada istrinya, kemudian ia berlalu pergi begitu saja,. Calista mendesah resah, jujur saja perlakuan Darren yang dingin seperti ini malah lebih menyiksa dirinya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini padaku mas. Apakah sampai aku benar-benar tiada..."lirih Calista
Calista segera meminum susu itu hingga tandas tak tersisa, namun beberapa detik kemudian ia merasakan mual yang tidak terkira. Calista segera berlalu ke kamar mandi lalu memuntahkan segala isi perutnya.
Setelah di rasa selesai, Calista berjalan dengan lemas kembali ke kamar. Calista mendudukan dirinya di lantai, lalu menangis sambil memukul dadanya yang terasa sesak.
Darren yang masih bersembunyi di balik pintu melihat jelas apa yang terjadi dengan Calista, ingin sekali ia menghampiri istrinya dan merengkuh ke dalam pelukannya. Darren menahan dirinya mati-matian untuk tidak menghampiri istrinya. Namun, Darren memilih berlalu pergi dari kamar itu, sebelum ia lepas kontrol.
"Dimana Calista nak.."tanya Bibi Nancy saat melihat Darren.
"Ada di kamar Bi, aku ke taman sebentar ya Bi. Pengen ngerokok.."
Bibi Nancy tersentak, ia sangat mengenal keponakannya itu, Darren hanya akan merokok bila hatinya sedang merasa gundah.
Bibi Nancy segera berlalu ke kamar Calista, ia melihat Calista sedang terduduk di lantai.
"Kamu kenapa nak..?"
"Aku hanya lemas Bibi, habis muntah.."jawab Calista.
"Kenapa tidak meminta bantuan Darren.."
"Aku tidak mau merepotkannya Bi, lagian Mas Darren pasti masih lelah."dustanya.
"Ayo Bibi bantu keluar, kita makan malam.."ajak Bibi Nancy, menuntun Calista keluar menuju meja makan.
Namun baru saja mereka hendak memulai makan malam, Calista baru mendudukan dirinya. Semua di kejutkan dengan teriakan seorang wanita dari luar.
"Siapa ya Bi..."tanya Calista
"Bibi juga tidak tau nak, sebentar Bibi lihat dulu ya.."ujar Bibi Nancy berlalu keluar.
Begitu membuka pintu ia tersentak mendapati Meysa mendiang mama kandung Breana yang teriak-teriak memarahi Darren.
🌹🌹🌹
Yuk dukung author dengan cara like, komentar, hadiahnya ya
__ADS_1
Tbc