Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
BENARKAH??


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Beberapa hari berlalu, kondisi Calista yang kian membaik setelah beberapa menjalani terapi membuat wanita meminta sang suami untuk kembali ke rumahnya. Calista teramat rindu dengan rumah pribadi keduanya. Berhubung ini hari Minggu, dan Darren tak bekerja, setelah sarapan keduanya pun membicarakan hal ini pada Mona dan Aeron. Pukul sembilan pagi keduanya sudah bersiap dengan segala perlengkapan untuk kembali ke rumahnya.


"Kau yakin sayang..."tanya Mona saat mengantarkan putrinya itu ke depan rumah.


Calista menggangguk, "tentu Bu," balasnya dengan senyumnya.


Mona menghela nafasnya dalam, sebenarnya terlalu berat untuk mengijinkan putrinya kembali ke rumahnya, ia jauh lebih senang Calista berada di rumahnya, karena itu ia bisa jauh lebih dekat dengan Calista maupun cucunya, pun ia dapat memantau jelas kesehatan Calista. Tapi dokter mengatakan untuk tak membuat Calista stress, dan mencoba menuruti saja apa kemauannya.


Aeron mengusap lembut lengan istrinya, "sayang," panggilnya, membuat Mona melirik, Aeron tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, seolah memberikan kode pada istrinya untuk tak terlalu memberatkan putrinya.


"Baiklah, kalian berhati-hatilah. Ingat kau tidak boleh kelelahan, minum obat Dengan teratur,"pesannya sambil mengusap lembut kepala Calista.


Calista mengangguk, "iya ibu. Aku tak mungkin kelelahan, aku akan jaga diri,"jawabnya yang membuat Mona merasa lega.


Mana mungkin lelah, sedangkan ia telah membawa seorang pengasuh untuk Senja, juga seorang perawat yang khusus untuk dirinya.


"Terimakasih Ayah, Ibu," kata Darren usai menuntun Calista masuk ke dalam mobil.


"Berhati-hatilah, kami akan sering berkunjung nanti,"jawab Aeron yang di balas senyuman oleh Darren.


.

__ADS_1


.


.


.


"Ayolah mas aku ingin, "pinta Calista.


Darren yang tengah duduk bersandar di ranjang sambil memangku laptop di tangannya melirik ke arah istrinya, "kenapa kau begitu kekeh mengundang mereka, tidak ada acara apa-apa, dan itu sungguh menganggu,"balasnya mendengus kesal.


Calista mencebik lalu merangkak naik ke ranjang duduk di hadapan sang suami, "aku hanya ingin kenalan dengan mereka. Kau bilang lusa Kak Leno akan membawa Dita ke Amerika,"jelas Calista.


Darren mengangguk, benar memang setelah setelah mendapatkan ijin dari ayah mertuanya Leno akan membawa Dita kembali ke mereka.


Calista mencondongkan wajahnya lalu memberanikan diri mengecup lembut pipi sebelah kiri suaminya membuat Darren mengerjap gugup, "sayang" panggilnya, Calista yang semula hendak menjuntai kan kakinya ke lantai kembali mengurungkan niatnya, "ada apa?"tanya Calista.


"Kau tau orang bekerja itu tidak boleh setengah-setengah,"jelasnya membuat Calista bingung.


Calista mengernyitkan keningnya bingung menatap wajah suaminya yang tersenyum menggoda lalu menunjuk pipi sebelah kanan dan bibirnya.


"Hah.."desah Calista melongo masih tak mengerti.


"Kau mencium pipi ku sebelah kiri, sementara yang kanan tidak tentu saja itu membuatnya iri sayang, apa lagi yang tengah,"ucap Darren menunjuk bibirnya.

__ADS_1


"Astaga! itu mah akalanmu. Aku tidak mungkin melakukan lebih, kau tau keadaanku jelas sayang.."jawab Calista sendu.


Darren menutup laptop di pangkuannya usai menyimpan file yang semula ia kerjakan, ia meletakkannya di atas nakas, kemudian tangannya bergerak menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Mas..."pekik Calista, saat tubuhnya kini justru jatuh menimpa tubuh suaminya.


"Sebentar saja sayang!,"pintanya lembut ia meletakan kepalanya di ceruk leher istrinya, menghirup aromanya dengan dalam. Terasa nyaman, bahkan harumnya masih sama.


Ia menegakkan wajah istrinya lalu membingkai wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya sendiri, "kau sudah minum obat.."tanyanya lembut.


Calista mengangguk, sambil mencoba turun dari atas tubuh suaminya, ia tak kuasa menahan sedihnya melihat suaminya tengah mencoba menahan gairahnya.


"Aku ingin melihat Senja mas. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu,"ujar Calista, ia beranjak dari sana, beberapa detik ia melangkah Calista kembali melirik ke arah suaminya, "maaf mas.."ucapnya.


Darren bangkit dari tempat tidurnya, lalu mendekati istrinya tersenyum tipis, "jangan sedih sayang! aku tak masalah. Aku masih bisa menyelesaikannya sendiri. Meski harus menahannya selama beberapa bulan atau tahun pun aku siap. Asal kau tak meninggalkan ku.."serunya.


Calista tersenyum haru, ia mengangkat tangannya mengusap lembut wajah suaminya, "tunggu aku benar-benar sehat sayang! aku janji akan membuatmu senang,"balasnya.


Darren mencondongkan wajahnya, "benarkah?"tanyanya, Calista mengangguk, "dengan senang hati,"imbuhnya.


Usai itu Calista pun kembali berpamitan untuk kembali menemui Senja yang tengah bersama pengasuhnya, Darren pun mengijinkannya.


β€’β€’

__ADS_1


Tbc


__ADS_2