Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Darren cemburu


__ADS_3

Di sebuah rumah tampak kedua pria yang berbeda usia tengah berdebat.


"Leno, kan sudah Papa bilang, berhentilah untuk main-main, mulai sekarang kau harus memegang perusahaan Papa,"ucap Randy seorang pria paruh baya yang merupakan suami dari Bibi Nancy.


Leno berdecak tak suka, "aku tidak tertarik dalam dunia bisnismu Pa, bukankah ada Darren kenapa Papa masih mendesak aku terus,"tukas Leno.


Randy menatap tajam putranya, "lalu apa yang kau sukai? Kau hanya tau tentang bersenang-senang dengan wanita yang tidak jelas di luaran sana,"tuding Randy pada putranya, terbesit rasa kecewa dalam dirinya. Bagaimana bisa putranya sendiri justru selalu membantah dirinya, sedangkan Darren yang hanya seorang keponakan selalu menurut perkataan dirinya dan istrinya.


Leno mendengkus, selalu itu yang Papanya katakan, seakan dirinya begitu terlihat jelek di matanya, "aku mempunyai usaha sendiri, pelase Papa jangan paksa aku, biarkan Darren yang memegang perusahaan Papa sepenuhnya,"sahutnya. Benar memang Leno tak suka memasuki dunia bisnis kantoran papanya, pria itu lebih suka menghabiskan waktunya di dealerr miliknya yang kini telah memiliki beberapa cabang, ia juga jarang pulang karena bila bertemu dengan papanya pasti akan selalu berdebat. Entah soal pekerjaan atau wanita, Randy kerap memintanya untuk menikah, tapi Leno kekeh menolak bukan karena ia tak normal, melainkan sampai detik ini hatinya belum mampu terbuka untuk menggantikan sosok wanita yang tak sengaja pernah ia cintai. Pria itu lebih memilih menyibukkan dirinya dengan dunia kerjanya, bahkan saat Darren menikahpun Leno tak turut hadir, dan kini Nancy selaku mama Leno memintanya untuk pulang dan bertemu dengan Darren dan istrinya.


"Pa sudahlah. Tidak capek apa? Berdebat terus,"ujar Nancy.


Randy mengehela nafasnya, sementara Leno tampak terdiam acuh, "Leno ayo kita pergi ke rumah Darren, kau sudah siapkan?"ujar Nancy yang baru datang dengan keadaan uang sudah rapi. Hari ini Nancy memang sengaja menyuruh Leno pulang untuk bertemu dengan Darren.


"Iya ma,"sahut Leno.


•••


Darren menatap punggung istrinya yang tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias dalam kamarnya.


"Jadi, karena Bibi Nancy dan kakakmu mau datang, kau tidak berangkat kerja gitu mas?"tanya Calista usai menyelesaikan ritualnya, ia memutar tubuhnya menatap Darren yang tengah terdiam menatap dirinya tak berkedip.

__ADS_1


"Mas..!!!"sentak Calista membuat Darren tersadar.


"Ya sayang, ada apa?"gelagap Darren, mendadak ia jadi linglung.


"Lamunin apa sih mas? Kok aku nanya gak di jawab,"dengus Calista kesal.


"Liatin kamu kok, habis kamu cantik banget sih,"pujinya membuat Calista mengangkat kedua alisnya bingung dan heran, sejak kapan suaminya itu pandai menggombal.


"Cihh gak cocok mas kamu gombalin aku tapi mukanya tetap datar kaya kanebo kering begitu,"cetus Calista membuat Darren tergelak, pria itu segera bangkit berjalan menuju cermin dan melihat pantulan wajahnya, memangnya ada yang salah dari wajahnya.


"Jelek banget sih, tampan begini disamaain kanebo kering,"dengus Darren tak suka, sementara Calista justru terkekeh menikmati raut wajah kesal suaminya, dibandingkan saat Darren tengah menggombal ternyata lebih menyenangkan saat melihat wajah suaminya itu terlihat jengkel.


•••


Suara pantulan sepatu dan sandal pada lantai marmer mengusik indra pendengaran keduanya saat langkah kaki itu semakin mendekat, Leno yang tengah menunduk spontan mengangkat wajahnya.


"Bibi, Kakak kalian sudah lama menunggu?"tanya Darren yang baru tiba, di belakangnya di susul Calista yang tampak cantik dalam balutan gaun berwarna biru laut itu.


Leno tersentak begitu melihat wajah istri Darren yang begitu familiar, "Calista"lirih Leno.


Ketiganya sontak mengalihkan tatapannya ke Leno, "Kak Leno,"sahut Calista.

__ADS_1


Darren mengernyit heran, "kalian udah saling mengenal?"tanya Darren.


Calista mengangguk, "dia senior dulu semasa aku kuliah mas,"


"Iya Darren, apa yang diucapkan Calista itu benar,"timpal Leno.


Darren mengangguk, setelahnya mereka menikmati terus berbincang-bincang.


Aku gak nyangka ternyata wanita yang ku cintai sekarang sudah jadi istri adikku sendiri, sekian tahun aku tidak pernah bertemu dengannya, sekali bertemu dia sudah bersuami.


Selama berbincang-bincang tak jarang Darren kerap menangkap arah pandang Leno pada istrinya, dia bukan pria yang polos, Darren tau arti tatapan itu. Tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya, kini rasa cemburu telah menggrogoti hatinya.


"Kakak apa kau tidak bosan terus menatap istriku?" cetus Darren to the point, Darren bukanlah tipikal pria yang suka basa-basi, maka jika tidak suka ia akan katakan saat itu juga.


Bibi Nancy dan Calista tergelak menatap keduanya, Calista menatap wajah suaminya yang kini terlihat sedang menahan amarahnya.


"Darren maaf kakak tidak bermaksud begitu, kakak hanya tidak menyangka jika Calista sudah menikah, dan itu denganmu."tutur Leno.


Darren tersenyum sinis, "bukan karena kau menyukai dirinya kan?"tanyanya dengan seringai tajam.


•••

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2