Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Kenyataan pahit


__ADS_3

Prakkk..


Ponsel yang berada dalam genggamannya mendadak jatuh begitu saja, setelah ia mendengar kabar istrinya pingsan dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"T-tuan..."Wildan mencoba bertanya, perihal apa yang tejadi.


Darren hanya menatap satu persatu orang yang berada dalam meja segi oval itu, matanya kian berkaca-kaca, jantungnya serasa di remas ingin berhenti saat itu juga.


"M-maaf.."hanya satu kata yang mampu ia ucapkan. Setelah itu, secepat kilat ia melenggang pergi begitu saja, dengan perasaan kalut dan takut.


"Darren, apa yang terjadi..?"teriak Randy, namun tak di ngindahkan olehnya. Namun, melihat wajah sang ponakan yang terlihat panik, ia bisa menduga sesuatu buruk telah terjadi.


Pada akhirnya Randy memilih menunda rapat itu. Tak lama dering ponsel miliknya membuat Randy cepat mengangkat ponselnya.


"....."


"Apa..?"


••


"Biarkan saya yang menyetir Tuan.."pinta Wildan begitu ia berhasil menghalangi jalan Darren.


"Tidak, biar aku saja. Aku harus segera sampai rumah sakit, berikan kuncinya Wildan.."pintanya dengan nada membentak dan frustasi.


"Akan sangat berbahaya jika anda menyetir dalam kondisi seperti ini Tuan.."ucap Wildan.


Benar, apa yang di ucapkan Wildan memang benar. Akhirnya, Darren mengangguk menuruti perintah Wildan. Membuka mobilnya Darren duduk di belakang kursi kemudi.


"Cepat Wildan.."seru Darren.


Kini mobil telah meninggalkan area perusahaan.


"Wildan apa kau tidak bisa menambah laju kecepatannya? Cepat Wildan istriku sakit.."gertaknya.


"Ini sudah sangat cepat Tuan.."sahut Wildan.

__ADS_1


••


Brak..


Sampai di loby rumah sakit, Darren membuka pintu mobilnya berjalan masuk dengan tergesa. Perasaan kalut dan takut terus menghinggapinya.


Pagi tadi ia melihat istrinya baik-baik saja, lalu kenapa tiba-tiba ia pingsan, apa yang terjadi? Andainya ia mengikuti kata hatinya untuk tetap diam di rumah, mungkin ini takkan terjadi pada istri cantiknya.


Dengan nafas terengah-engah akhirnya Darren sampai di depan pintu UGD, di sana ia melihat Mama Meysa dan Dita berdiri dengan wajah memucat.


"Ma.."panggil Darren.


Meysa mengangkat wajahnya menatap Darren dengan pandangan berkaca-kaca, ia melihat kondisi Darren yang terlihat begitu berantakan.


"Ma, apa yang terjadi? Kenapa istriku bisa pingsan ma.."cecar Darren. Dita menatap Tuannya dengan rasa kasihan.


"Darren itu semua pasti karena Calista-"


Krek.. bunyi pintu di buka membuat Meysa tak lagi melanjutkan ucapannya saat seorang dokter keluar dari ruang UGD tempat di mana istrinya berada. Segera, ketiganya melangkah mendekati dokter itu.


"Saya..."sahut Darren.


"Ada yang perlu saya bicarakan dengan anda, saya tunggu di ruangan.."serunya


Darren mengangguk, sementara perasaannya semakin takut.


"Ma, Darren temui dokter dulu ya. Tolong jaga Calista.."pintanya yang di angguki oleh Meysa..


•••


Keluar dari ruangan Dokter, Darren menggenggam erat kertas hasil laboratorium tentang kesehatan Calista. Dengan air mata berderai, Darren terus melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah.


"Ya Tuhan, kenapa kau harus hukum aku dengan cara seperti ini,"lirihnya. Menghentikan langkahnya Darren terisak, tak peduli pandangan lalu lalang orang yang berjalan menatap dirinya.


Tangannya mengepal dengan sempurna, bersandar pada tembok, ia meninju tembok di depannya. Rasa takut kian menyergap dalam dadanya.

__ADS_1


Sebuah KEHILANGAN, mampu membuat dunianya kini berhenti bernafas.


"Kenapa harus Calista..?"


Kata itu terus ia gumamkan sepanjang jalan. Ya kenapa harus Calista? Kenapa harus istrinya yang sakit, kenapa tidak dirinya saja. Bukankah dirinya yang selama ini banyak dosa.


"Aaaaaa, kau jahat tidak adil Tuhan..."teriaknya frustasi. Darren mengacak-acak rambutnya, sementara tangisnya kian meluruh. Rangkaian penjelasan dokter terus menggema dalam otaknya.


KANKER OTAK.


Salah satu jenis yang mematikan, kenapa ia harus hinggap pada tubuh istrinya. Selama ini ia terlalu abai kala Calista mengeluh sakit kepala.


"Ahh bodoh..."


Darren menggelengkan kepalanya dengan kuat, "Tidak, aku tidak mau kehilangan istriku. Aku harus melakukan sesuatu.."ucapnya.


Ia kembali melangkahkan kakinya ke tempat di mana istrinya berada. Dalam hati ia terus berharap bahwa hasil tes itu salah.


Namun yang mampu membuat ia terkejut adalah penjelasan dokter yang cukup meyakinkan.


Dua bulan yang lalu Nyonya Meysa juga membawa istri anda kemari untuk melakukan pemeriksaaan, hasilnya tetap sama Tuan. Ini bukan kesalahan, hasilnya akurat Tuan. Kami tidak mungkin salah dalam memberikan laporan.


Darren tak menyangka jika Calista dan Mama Meysa jauh lebih dulu mengetahui ini. Bagaimnaa istrinya bisa sekuat itu? Kenapa ia justru menyembunyikan kebenaran itu serapat mungkin.


Ya Tuhan, Darren tak menyangka jika kecurigaan tentang sesuatu yang di sembunyikan Calista adalah kondisi tubuhnya sendiri. Kenapa wanita itu tak jujur saja padanya.


••


Like


Komentar


Hadiah


Tbc

__ADS_1


__ADS_2