
Tiba di Indonesia, Mona dan Aeron bergegas menuju rumah Darren dan Calista. Dalam perjalanan berkali-kali Mona meremas tangannya yang tampak terasa dingin, entah kenapa batinnya tak tenang, ia begitu resah memikirkan keadaan putrinya. Meski, Darren hanya mengatakan pada dirinya Calista baik-baik saja hanya perlu istirahat.
Namun meski begitu, ia merasa ada sesuatu menantunya tutupi darinya.
"Kenapa bu?"tanya Aeron saat melihat tubuh istrinya yang tak tenang dalam perjalanan pulang. Saat sang sopi pribadi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ibu hanya memikirkan Calista, Yah.."jawabnya menghela nafasnya lemah.
Aeron mengambil tangan istrinya menggenggamnya lembut, "tenang bu, semua baik-baik saja. Dia itu anak yang kuat, bukankah Darren juga mengatakan Calista hanya kelelahan saja makanya ia pingsan.."tutur Aeron menenangkan istrinya.
Mona menyandarkan tubuhnya di kursi, "iya sih. Tapi entah kenapa perasaanku tetap resah, aku merasa mereka menutupi sesuatu dari kita.."
Aeron mengernyitkan dahinya, dalam hati ia juga membenarkan ucapan istrinya, kontak batin untuk seorang ibu memang begitu kuat. Meski begitu ia tetap berusaha menyangkalnya, ia tetap berharap semua baik-baik saja.
"Itu hanya perasaanmu saja bu, mungkin karena kamu terlalu merindukannya..."ujar Aeron.
Mona mengangguk tersenyum masam, "iya ibu harap juga begitu.."
••
Mobil mercy yang di tumpangi Mona dan Aeron tiba di kediaman Darren, usai melewati gerbang yang di jaga seorang satpam, kini kedua nya telah sampai di depan rumah itu.
Mona berusaha menetralkan perasaannya, tak ingin berburuk sangka, usai sang sopir membukakan pintu mobilnya kedua turun bergegas berjalan masuk.
"Selamat datang nyonya, tuan.."sapa seorang wanita paruh baya, yang merupakan asisten rumah tangga Darren.
Keduanya mengangguk, "oh ya Bi, di mana Calista dan Darren...?"tanya Mona saat menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Bi Nah.
"Tuan sedang di ruang kerjanya, sedangkan Nyonya Calista sedang berada di taman belakang bersama pelayannya.."tutur Bi Nah.
Kerja? Di rumah? Mona mengernyitkan dahinya bingung, kenapa Darren harus melakukan pekerjaan di rumah, bukankah dia bilang Calista baik-baik saja.
__ADS_1
"Perlukah saya panggilkan mereka Tuan, Nyonya..."tanya Bi Nah.
Mona menggeleng, "tidak perlu, saya akan menemui putri saya sendiri, kau lanjutkan saja pekerjaanmu.."titahnya.
"Baik Nyonya..."
"Ayo yah, kita masuk temui Calista. Dia pasti senang kita datang.."ajak Mona pada suaminya.
"Iya sayang.."
Keduanya melangkahkan kakinya masuk, menuju pintu belakang rumah yang menembus taman belakang. Sejenak Mona menghentikan langkah kakinya, menatap sang putri yang tengah terduduk lemas, melihat para pelayan tengah merawat tanaman bunga kesayangannya.
Entah kenapa batinya ada yang bergejolak, nalurinya menyatakan ada sesuatu yang tidak beres dari putri tercintanya, Calista tampak begitu pucat dan kurus. Kenapa? bukankah seorang ibu hamil harusnya terlihat berisi, kandungan Calista bahkan sudah melewati trimester pertama, harusnya rasa mual itu biasanya sudah tak begitu ia rasa kan.
Melihat kedua orang tua majikannya di ambang pintu, Dita yang merupakan pelayan pribadi putrinya pun mengangguk, "Tuan, Nyonya.."sapanya.
Calista mengalihkan pandangannya ke arah pintu, "Ayah, Ibu..."pekiknya girang. Rasa rindu yang membuncah membuat ia langsung bangkit dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya dengan cepat menemui kedua orang tuanya.
"Awww..."Calista meringis saat merasakan rasa nyeri kembali menyerang kepalanya, sejenak ia menghentikan langkahnya.
"Apa yang terjadi sayang? katakan pada ibu..?"cecar Mona.
Calista menggelengkan kepalanya, "Ibu aku baik-baik saja. Tadi aku hanya memrasa terlalu senang jadi aku berlari, aku lupa kalau aku sedang hamil.."dustanya.
"Kau yakin..?"timpal Aeron.
Calista mengangguk.
••
"Ayah.."seru Darren begitu membuka pintu ruang kerjanya mendapati sang ayah mertua yang mengetuk pintunya.
__ADS_1
"Kapan ayah sampai?"sambung Darren sambil menyalami tangan ayah mertuanya.
"Barus saja.."jawabnya, ia melirik ke dalam. Darren yang mengerti akan ada sesuatu yang penting untuk ayah bicarakan pun mengajaknya untuk masuk.
"Apa yang kau sembunyikan dari kami, Darren..?"tanyanya to the point, usai keduanya kembali duduk saling berhadapan.
Darren menunduk, "a-aku..."
Brak.. Aeron menggebrak mejanya di depanya, "katakan apa yang kau sembunyikan Darren. Melihat wajah putriku, aku yakin sesuatu telah terjadi padanya.."sarkasnya.
"Ca-calista mengidap kanker otak, ayah.."ucapnya terasa sulit untuk berucap, namun pada akhirnya kata itu mampu ia keluarkan juga.
Brak..
Tenggorokan Aerona terasa tercekat, secepat itu ia bangkit dari kursinya dengan perasaan kaget sampai kursi yang ia duduki jatuh terguling ke belakang.
"A-apa?"tanyanya dengan susah.
"Iya ayah, Calista mengidap penyakit kanker otak.."ucap Darren menunduk.
Brakkkkkkkk...
Dorongan sebuah pintu mengejutkan keduanya.
••
**Like
Komentar
Hadiah
__ADS_1
Vota
Tbc**