
Mengambil kursi meja rias lalu duduk di depan Darren.
"Kemarikan tanganmu.."pinta Calista.
"Tidak mau, tidak usah peduli pergilah sana.."tegas Darren.
Calista bangkit menarik tangan Darren, "Kau gila, sakit tau.."teriak Darren
"Diamm.. jika tidak ingin aku menambah lukamu.."hardik Calista tak kalah tegasnya, lho kok jadi Calista yang galak, padahal nyali Calista sudah menciut melihat tatapan tajam suaminya, dia pura-pura berani saja.
Tidak ingin banyak berdebat Darren pun menurut membiarkan Calista mengobati lukanya, dengan telaten Calista membersihkan luka di tangan Darren menggunakan alkohol, "Aww..."rintih Darren kala ia merasakan nyeri.
"Apakah sakit, sorry aku akan melakukannya perlahan.."ucapnya sembari meniup-niup tangan Darren.
Darren terus mengamati pergerakan tangan dan Bibir Calista, senyum tipis terbit di wajahnya melihat bagaimana lucunya Calista meniup-niup luka di tangan Darren. Darren memalingkan mukanya saat Calista kembali menegakkan tubuhnya, tangannya dengan cekatan membungkus telapak tangan Darren dengan dengan perban.
"Sudah.."
Calista melihat ke arah wajah Darren, "Sebentar hadaplah kemari, aku akan mengobati wajahmu yang memar.."
Aneh, Darren tidak membantah pria itu hanya menurut saja pada Calista. "Katakan padaku jika aku menekannya terlalu keras.."ujar Calista.
"Hem.."hanya sebuah deheman yang keluar dari bibir suaminya.
Calista mengangkat tangannya mulai mengobati luka di wajah Darren. Darren dapat melihat jelas bagaimana wajah istrinya. Calista memang cantik dan natural, hidungnya mancung, paras ayu berkulit putih, bibir ranumnya terlihat menggoda.
Glekk.. Darren menelan salivanya dengan susah. Ingin sekali ia mencicipi bibir ranum istrinya itunya, ia baru dapat melihat jelas wajah istrinya, karena saat malam pertama itu Darren melakukannya dengan setengah sadar dan penuh emosi.
"Sial.."umpatnya dalam hati,
"Aku baru melihat bibir dan wajahnya saja hasratku langsung bangun. Apalagi jika aku melihat yang lain.. Padahal tadi di bar aku begitu jijik dengan wanita penggoda itu. Dan dulu dengan Breana aku tidak mempunyai pikiran seperti ini.."gumamnya dalam hati agar tak terdengar oleh Calista.
__ADS_1
"Apakah sudah selesai.."tanya Darren, ia merasa sudah tak nyaman berhadapan dengan Calista, atau ia benar-benar akan memakan istrinya saat itu juga.
"Sudah.."ucapnya terakhir kali setelah mempelkan plaster di dahi suaminya.
"Kenapa kau melakukan ini.."tanya Darren saat Calista sedang menutup kotak obat p3k.
Calista menghentikan gerakannya, "Karena kau suamiku, dan aku istrimu.."jawaban yang logis memang.
"Bukankah jika kau membiarkan aku terluka itu akan lebih baik, aku tidak akan lagi berbuat kasar padamu.."ucap Darren
Calista tersenyum menatap Darren, lalu menggeleng, "Kau salah jika menilai diriku seperti itu.."
"Sulit untuk di percaya Calista.."ujar Darren
"Aku tau, aku tidak menyuruhmu untuk segera percaya padaku. Mengingat bagaimana latar belakang pertemuan dan pernikahan kita. Aku tidak menyalahkanmu atas semua yang terjadi padaku, mungkin jika aku yang berada di posisimu aku akan melakukan hal yang sama."tutur Calista.
Darren terdiam matanya masih menatap tajam Calista, "Tapi Mas Darren, bisakah aku tetap melakukan tugasku sebagi seorang istri.."
Darren tersenyum sinis, "Untuk apa, untuk mengambil hatiku agar aku lemah dan tak jadi membalaskan dendamku padamu.."
Darren membuang mukanya, "Akan ku pikirkan.."
Calista mengangguk, "Jangan dulu terkena air lukanya, kalau mau tidur lebih baik kau cukup mengganti pakaianmu saja.."
"Aku tau, kenapa kau begitu crewet. Pergilah sana, suaramu benar-benar menggangguku..."decak Darren.
"Baiklah, Mas Darren aku sarankan jangan suka minum-minum itu sangat tidak baik untuk kesehatanmu.."tutur Calista.
"Berisik.."ucapnya, walau dalam hati ia membenarkan segala ucapan Calista.
"Aku balik ke kamar, panggil aku jika kau membutuhan bantuan.."
__ADS_1
Calista melangkahkan kakinya keluar.
"Calista.."panggil Darren, membuat langkah Calista terhenti, ia kembali memutar tubuhnya.
"Ya.."
"Terimakasih.."ucap Darren sembari tersenyum tipis.
Calista hampir tak percaya melihat dan mendengarnya, untuk pertama kalinya Darren tersenyum dan berkata lembut.
Calista membalas senyum Darren balik, "sama-sama. Istirahatlah.."
🌹🌹🌹
Sepeninggal Calista, Darrren menghela nafas lega. "Untunglah dia sudah pergi, jantungku rasanya mau lepas berada di dekatnya. Sekuat tenaga aku menahan diri agar tak lepas kendali.."
Calista menjatuhkan dirinya di ranjang, manik matanya memandang langit-langit kamarnya.
"Kenapa jantungku berdebar melihat senyum Mas Darren ya, apa mungkin...."
Calista menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta padanya atau aku akan terluka.."
Membenahi posisinya, lalu ia mulai memejamkan matanya.
🌹🌹🌹
Jangan lupa
Like
Komentar
__ADS_1
Hadiahnya ya 😊
Tbc.