
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Hujan deras yang turun menjadikan cuaca lebih dingin sepasang pengantin baru, yang masih tidur dengan keadaan polos di balik selimut tebal yang menutupinya, semakin mengeratkan pelukannya.
Dita tersentak saat merasakan tangan suaminya kembali bergelya dan merayap di tubuhnya.
"Mas, kamu mau apa?"pekiknya terkejut, ia mencoba menepis tangan suaminya.
Leno terkekeh, "di luar hujan.."
"Lalu apa hubungannya...?"tanya Dita.
"Cuacanya jadi dingin, jadi aku mau membuat tubuh kita hangat..."ujarnya, sembari kembali mencoba mencondongkan wajahnya bersiap kembali men cum Bu istrinya, namun Dita kembali melengos.
"Enggak ah ini masih sakit, perih.."ujarnya memasang wajah melas.
"Karena masih baru, entar kalau udah sering juga enggak. Jadi sekarang harus mencoba lagi.."rayunya lagi.
"Tapi-"
"Dosa Lo nolak suami!,"ancamnya yang membuat wajah Dita pucat, "lagi emang kamu gak liat punyaku udah meronta-ronta gitu..."ucapnya sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, lalu mengecupnya dengan pelan, sedikit menyisakan noda berwarna ungu di sana.
"Em..."Dita meleguh saat merasakan hangatnya cum bu an yang suaminya berikan itu, ia menggigit bibir bawahnya agar bibirnya tak mengeluarkan suara-suara laknat itu.
Tangan Leno kembali bergelya tak melewati setiap inci tubuh istrinya.
__ADS_1
Kini Leno kembali menyingkap selimut tebal yang membalut tubuh keduanya, ia mengubah posisi istrinya menjadi telen tang, sementara dirinya mulai menindih kembali tubuh istrinya.
Melihat keadaan istrinya yang terlihat pasrah, Leno pun mulai melancarkan aksinya, ia menenggelamkan wajahnya di bukit kembar istrinya yang terlihat begitu menantang, ia menyesap, mere mas nya dengan pelan, menciptakan leguhan-leguhan di sana. Leno mencondongkan wajahnya, membenamkan bibirnya di bibir ranum istrinya hingga keduanya saling melu mat.
Tiap inci tubuh sang istri tak kan ia lewatkan dengan sentuhannya. Keduanya terus saling men cum Bu, tak kan ia lewatkan dengan tersisa. Saling menciptakan sensasi yang semakin menggila diliputi gairah-gairah, yang seolah belum terpuaskan.
Hentakan demi hentakan kembali terus Leno ciptakan. Sampai pada akhirnya tubuhnya kembali ambruk di atas tubuh istrinya, Leno kembali menggulingkan tubuhnya di samping istrinya, mencium keningnya dengan pelan dan penuh cinta.
"Udah hangat kan...?"tanyanya pada Dita.
"Gak cuman hangat, tapi mandi keringat ini..."cebiknya, wanita memanyunkan bibirnya.
Leno terkekeh gemas, "sayang kan untuk di lewatkan..."serunya.
Leno kembali bangkit mengambil selimut Yang semula ia buang kini ia pungut kembali, untuk menutupi tubuh keduanya.
"Kenapa?"tanyanya.
Dita menggeleng, "aku gak nyaman. Pengen mandi mas..."sahutnya.
"Jangan sekarang, nanti tunggu pagi. Takutnya aku mau nambah lagi..."ucap Leno yang langsung mendapatkan cubitan dari Dita.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Calista terbangun saat mendengar suara Senja yang menangis, ia menjuntaikan kakinya di lantai berjalan melangkah pelan menghampiri putrinya yang berada dalam box bayi.
"Sayang,.."panggilnya pada putri tercintanya.
"Haus ya, bentar ya Mommy buatkan susu dulu.."tambahnya, beruntung di kamar itu sudah tersedia segala perlengkapan Senja, jadi untuk membuatkan susu pun Calista tak perlu melangkah keluar.
Usai susu dalam botol itupun jadi, Calista menggendong Senja membawanya duduk di ranjang tepat tidurnya, sambil memberikan susu itu pada Senja.
Calista tersenyum menatap wajah lelap suaminya, biasanya Darren pasti akan dengan sigap membuka matanya saat mendengar tangisan Senja. Dan mungkin malam ini peri itu begitu lelah, hingga tertidur lelap.
"Mommy bahagia sayang, bisa gendong kamu. Ya Mommy pasti akan sembuh,.."ucapnya pada Senja.
Calista mengingat kembali rangkaian pengobatan yang ia jalani, tahap demi tahap ia nikmati dan sekarang ia masih menunggu hasilnya, dokter mengatakan kemajuan Calista untuk segera sembuh semakin meningkat.
Calista terharu, semua berkata dukungan orang-orang cinta di dekatnya, mereka mendukungnya.
Calista menatap wajah putrinya yang terlelap dalam dekapannya, perlahan ia membaringkan ya di sebelahnya, ia ingin tidur sambil mendekap Senja, ia mengecup pipi Senja pelan. Lalu ia membaringkan tubuhnya secara perlahan menyusul suami dan anaknya untuk kembali tidur.
β’β’β’β’
__ADS_1
Tbc