Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 1


__ADS_3

Pagi itu seorang wanita terduduk lemas di lantai kamar mandi yang ada di rumahnya,


air matanya berjatuhan setelah mengetahui kenyataan yang begitu menyakitkan


baginya. Mungkin untuk sebagian orang kenyataan seperti ini adalah saat-saat


yang di nantikan tapi bagi seorang perempuan yang Bernama Mishel itu adalah


sesuatu yang tidak pernah ia harapkan sekarang.


“Hiks, hiks, hiks … kenapa harus seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?”


tanyanya sembari menatap sebuah alat yang ia beli di apotik kemarin. Sebuah


alat yang menampilkan dua garis biru di atasnya.


Ini berawal karena sudah seminggu ini dia selalu merasa pusing dan tidak enak badan.


Dia juga terkadang mual di pagi hari. Dia juga jadi tidak focus bekerja karena


itulah kemarin dia coba pergi ke dokter untuk mengetahui sakit apa yang


dideritanya. Mishel pun menceritakan gejala yang dideritanya.


“Jadi saya sakit apa dok?” tanya Mishel.


“Maaf sebelumnya apa Anda sudah menikah Nona?” tanya Dokter itu.


Mishel pun menggeleng dan bertanya-tanya apa hubungan penyakitnya dengan statusnya.


“Boleh saya tau, kapan terakhir Anda mendapatkan tamu bulanan?”


Mishel mulai memikirkannya, dia hampir lupa tapi yang dia ingat terakhir dia mendapat


tamu bulanan adalah hari sebelum dia bertemu pria br33ngs3k itu. Setelah itu


dia tidak pernah mendapatkan tamu bulanan lagi sampai sekarang.


“Mungkin sekitar dua bulan yang lalu dok,” jawab Mishel. “Memang apa hubungannya dengan


penyakit say aini Dok?”


“Begini Nona, berdasarkan gejala yang Anda sebutkan tadi kemungkinkan Anda sedang


hamil. Untuk memastikannya Anda bisa mengunjungi dokter kandungan atau anda


juga bisa menggunakan alat tes kehamilan yang bisa anda dapatkan di apotik.”

__ADS_1


Setelah dari dokter pikiran Mishel semakin kacau, dia enggan untuk percaya kalau saat


ini ada kehidupan lain di dalam perutnya. Dia tidak mau benih yang tertinggal


di rahimnya dari pria itu tumbuh di dalam rahimnya. Sungguh Mishel tidak mau


terlibat apapun lagi dengan orang kaya.


Namun, perempuan itu tetap membeli apa yang dokter sarankan di apotik terdekat. Dia


bahkan membeli beberapa.


Dan pagi ini dia baru saja mencoba semuanya dan hasilnya tetap sama saja. Semua


alat tes kehamilan yang dia beli menunjukan dua garis biru yang itu berarti dia


benar hamil. Mishel hanya bisa menangis saat ini, entah bagaimana nasibnya


kedepannya. Dia yang hanya tinggal dengan sang ibu tidak ingin membuat sang ibu


kecewa dengan kenyataan itu tapi dia juga tidak mungkin menyembunyikan hal


seperti itu karena pada akhirnya pasti akan ketahuan juga.


Tok tok tok


“Nak, apa kau di dalam. Kenapa lama sekali, apa kamu tidak bekerja?” tanya sang ibu.


lama di kamar mandi yang hanya ada satu di rumahnya itu sehingga ibu nya pun


tau jika dia ada di balam sana sejak tadi.


“Iya bu, sebentar lagi. Perutku mulas,” jawab Mishel sambil menggigit bibirnya agar


tidak menangis. Bagaimana dia harus menjelaskannya pada ang ibu. Dia jelas


belum siap untuk mengatakannya sekarang, dia pikir mungkin tidak sekarang. Dia


harus memikirkannya dulu apa yang akan dia lakukan untuk kedepannya.


Mishel keluar dari kamarnya setelah bersiap dan memakai seragam kerjanya. Dia


menghampiri sang ibu yang sudah ada di meja makan.


“Pagi bu,” sapa Mishel.


“Pagi nak, duduklah. Ibu sudah masak makanan kesukaanmu.”

__ADS_1


Mishel melihat makanan yang tersaji di meja makan. Makanan yang biasanya dia sangat


suka tapi kali ini baru mencium aromanya saja sudah membuat dia ingin


mengeluarkan isi perutnya.


“Mmmpp…” Mishel menutupi mulutnya lalu berlari ke kamar mandi dengan cepat, tidak lupa


dia juga mengunci pintunya dari dalam agar sang ibu tidak melihat apa yang


terjadi. Sudah seminggu ini dia mual seperti ini tapi biasanya tidak sampai


muntah seperti sekarang. Dia masih bisa mengisi perutnya.


“Hoeekk hoeek.” Mishel tidak tahan untuk menuras perutnya meski rasanya sudah tidak ada


lagi yang bisa dia keluarkan.


“Nak apa yang terjadi, kau kenapa?” sang ibu mengetuk pintu dengan cemas melihat


putrinya berlarian masuk ke kamar mandi.


Mishel yang merasa lemas pun menyalakan kran kamar mandi agar ibunya tidak curiga.


“Perutku sakit lagi bu,” katanya berbohong.


“Apa tidak apa-apa, bagaimana kalau kau ijin hari ini nak. Ibu tidak mau kamu


kenapa-napa.”


“Tidak apa-apa bu, nanti juga sembuh sendiri.”


Setelah puas memuntahkan isi perutnya Mishel pun keluar dan melanjutkan makan dengan


menahan rasa mual. Dia tidak ingin membuat ibunya curiga dan tidak mungkin dia


bekerja dalam keadaan perut kosong yang ada dia makin lemas nanti.


“Wajahmu sangat pucat nak, ayo kita ke dokter saja,”ajak ibu Fira melihat putrinya yang


tampak pucat dan lesu.


“Tidak apa-apa bu, aku harus berangkat kerja hari ini.”


“Apa tidak sebaiknya ijin dulu hari ini.”


“Tidak bu, aku sudah banyak ijin. Tidak enak pada atasan.”

__ADS_1


“Baiklah, tapi kalau kamu merasa pusing lebih baik kamu meminta ijin saja ya.”


“Iya bu,” jawab Mishel dengan menyematkan senyuman di bibirnya.


__ADS_2