
Setelah memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya serta janin akhirnya Mishel memutuskan setuju dengan pendapat ibu dan pak Simon. Dia akan mencoba meminta pertanggungjawaban pria yang sudah dengan tega menodainya. Meski dalam hati dia tidak yakin pria itu mau bertanggungjawab. Dia sudah menyiapkan hatinya jika nanti mendapatkan penolakan atau bahkan hinaan dari orang kaya itu.
Ya, Mishel sadar diri siapa dirinya. Hanya seorang wanita biasa, anak dari seorang janda yang ditinggal suaminya. Hanya orang miskin yang harus bekerja keras untuk menyambung hidup.
Malam itu akhirnya Mishel mengirim pesan pada temannya yang ia yakini tau alamat pria itu. Karena suami temannya berteman dengan pria br33ngsek itu. Mishel pernah melihatnya saat berada di acara resepsi pernikahan temannya.
Dering telepon terus berbunyi setelah Mishel mengirim pesan singkat pada temannya. Pasti temannya bertanya-tanya mengapa dia meminta alamat tempat tinggal pria itu tapi Mishel tidak ingin menjelaskannya sekarang, dia belum siap jika lebih banyak orang yang tau keadaannya.
"Maaf Ale, aku tidak bisa mengangkat telepon mu. Aku akan menemuimu jika aku sudah siap bercerita," gumam Mishel. Dia hanya mengirim pesan jika dia sangat membutuhkan alamat itu dan mengatakan belum siap menceritakannya. Untungnya temannya itu sangat pengertian, meski Mishel tidak mau memberitahu nya tapi temannya itu tetap memberikan alamat pria itu pada Mishel.
Akhirnya dia mendapatkan alamat rumah pria itu. Tentu saja Mishel tau perusahaan milik pria itu karena sering di muat di koran dan majalah. Tapi dia tidak mungkin mencari pria itu ke perusahaan untuk membicarakan hal yang sangat pribadi ini.
Mishel pun mengusap perutnya, ada perasaan aneh setiap kali dia menyentuh perutnya sendiri. Rasanya berbeda saat belum ada kehidupan di dalam sana.
"Kenapa kau sangat tidak beruntung nak, kenapa kau harus hadir di dalam kandungan seorang ibu sepertiku." Mishel mengajak bayi dalam kandungannya berbicara.
...
Keesokan harinya.
__ADS_1
Pak Simon dan istrinya sudah datang ke rumah Bu Fira. Tadinya Nyonya Winda mau kembali mengajak ibu-ibu seperti kemarin tapi sang suami melarangnya dengan alasan kemanusiaan. Wanita itu jadi makin kesal pada keluarga janda itu karena sikap suaminya yang begitu perhatian pada keluarga mereka.
Mereka datang karena Tuan Simon akan ikut menemani mereka untuk menemui keluarga laki-laki itu. Tuan Simon tidak tega melihat mereka berdua tanpa seorang laki-laki datang meminta keadilan untuk gadis malang itu. Sejujurnya pak Simon pernah ada niatan untuk mengangkat Mishel jadi anak angkatnya saat usai gadis itu masih sangat kecil. Itu karena dia tidak tega melihat bi Fira yang kesulitan seorang diri. Namun, istrinya menentang keras niatan tersebut dengan banyak alasan dan parahnya Nyonya Winda menuduh suaminya sendiri berselingkuh dengan Bu Fira yang merupakan janda beranak satu.
Jadilah Nyonya Winda pun ikut pergi karena dia tidak mau membiarkan sang suami sendirian bersama janda itu.
"Bagaimana nak Mishel? Apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Tuan Simon pada Mishel yang matanya tampak sangat sembab, pastilah dia telah menangis semalam. Takdir memang tidak bisa ditebak, Tuan Simon hanya kasihan pada Bu Fira dan putrinya yang sejak dulu harus berjuang tanpa seorang laki-laki di samping mereka.
Mishel mengangguk dengan berat karena kalau bisa dia ingin membesarkan anaknya sendiri saja dari pada mendapatkan hinaan lagi nantinya saat meminta pertanggungjawaban.
Ibu Fira yang mengerti perasaan putrinya pun menggenggam tangan putrinya erat.
...
Di bawah langit ibukota yang cukup cerah pagi ini. Mobil yang dikendarai Tuan Simon berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah bak istana. Mereka berhenti tepat di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi.
Tuan Simon melihat sekeliling, memastikan rumah yang dimaksud oleh Mishel benar yang mereka lihat sekarang.
"Nak, apa benar ini rumahnya?" tanya Tuan Simon.
__ADS_1
Pertanyaan yang sama juga meliputi seorang wanita yang duduk di samping tuan Simon. Siapa lagi kalau bukan sang istri yang sedang melongo melihat kemegahan rumah itu. Dalam hatinya berdecak, mana mungkin anak janda itu terlibat hubungan dengan pemilik rumah ini. Mungkin dengan pembantu atau tukang kebunnya, pikir Nyonya Winda.
"Nak? Bagaimana, apa benar ini alamatnya?" Bu Fira coba bertanya hal yang sama.
Mishel hanya mengangguk, pikirannya sudah berkelana entah kemana. Tidak tertarik lagi dengan rumah mewah itu. Yang dia pikirkan bagaimana nanti di dalam sana jika dia mendapatkan penolakan.
Pak Simon coba berbicara pada penjaga agar membukakan pintu gerbang tapi tentu tidak menyebutkan secara gamblang tentang maksud tujuan mereka. Biar pada orang yang dituju saja dia akan berbicara. Dan penjaga pun membukakan pintu setelah mendapatkan persetujuan dari tuannya.
Mobil Tuan Simon memasuki halaman yang sangat luas itu dan berhenti di depan teras yang di topang oleh pilar-pilar besar dan kokoh. Dari luar saja sudah bisa di lihat jika rumah itu jelas memiliki nilai yang sangat fantastis.
Mereka pun turun, Mishel yang mulai gelisah tak karuan karena takut bertemu dengan laki-laki itu lagi. Ada juga nyonya Winda yang makin menganga lebar melihat dari dekat bagaimana bangunan megah itu. Dirinya yang selama ini merasa sudah cukup kaya saja sampai takjub.
Mereka sudah ada di dalam. Setelah tadi kepala pelayan mempersilahkan mereka untuk masuk. Untungnya Tuan Simon pandai membuat alasan agar mereka diijinkan bertemu dengan tuan rumah.
"Heh Mishel, kamu yakin ini tempatnya? Kamu jangan sampai mempermalukan kami ya, jangan-jangan kamu hanya mengaku-ngaku saja. Mana mungkin tuan rumah ini menghamilinya!" tuduh nyonya Winda seakan tidak terima jika pria yang merupakan ayah janin itu adalah orang Kaya. Padahal dia sudah membayangkan kalau mungkin pria itu hanya pria biasa atau pria tua, tapi ini apa. Dia tidak bisa menghina keluarga janda itu lagi kalau sampai benar anak yang di kandung Mishel adalah orang yang sangat berada.
Mishel tak menjawab pertanyaan Nyonya Winda, dia menunduk dalam sejak tadi sambil memeras jemari tangannya hingga kuku-kuku panjang nya menusuk ke kulit. Tapi itu sama sekali tidak sakit karena rasa takutnya lebih besar dari rasa sakit itu.
Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Salah satu bagian yang membuat Nyonya Winda terkagum-kagum adalah tangga karena desain nya yang sangat elegan. Di mana seorang wanita cantik di usianya sedang menuruni tangga dengan senyum ramahnya. Tanpa dia tau kalau tamu yang datang adalah untuk meminta pertanggungjawaban dari sang putra yang selama ini ia anggap anak laki-laki yang baik dan bertanggungjawab.
__ADS_1