Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 26


__ADS_3

Di sebuah ruangan dengan bau khasnya dan didominasi dengan cat berwarna putih. Mishel terbaring di atas brangkar yang tersedia di sana. Sudah ada Bu Fira yang sejak tadi menunggu dengan cemas dan penuh penyesalan. Menyalahkan dirinya sendiri yang sudah menjadi penyebab putrinya menjadi seperti sekarang. Seharusnya dia menolak saat sang putri mengajaknya berjualan hari ini. Tapi saat melihat semangat di wajah Mishel siapa yang tidak luluh. Mana mungkin Bu Fira tega mematahkan semangat putrinya dalam mencari uang yang hanya bisa dilakukan di akhir pekan.


"Maafkan ibu nak, kamu pasti kelelahan." Bu Fira sejak tadi tidak beranjak dari samping putrinya, terus menggenggam tangan Mishel tak sekalipun melepaskannya.


Sementara itu Marco yang tadi membawa Mishel ke rumah sakit saat ini dia sedang menemui dokter yang tadi memeriksa wanita itu.


"Apa Anda suaminya?" tanya dokter.


Marco tak langsung menjawab tapi melihat dia yang tadi membawa Mishel pasti semua orang akan mengira hal yang sama.


"Ah ya, bagaimana keadaannya? Tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan kan dok?" tanyanya.


"Pasien saat ini hanya kelelahan dan tekanan darahnya sangat rendah. Perutnya juga sedikit kram saat saya memeriksanya. Jika seperti ini terus mungkin dia akan segera mengalami pembukaan dan segera melahirkan. Beruntung dia memilih suami yang sigap seperti Anda. Oh ya saya minta Anda bisa lebih memperhatikannya lagi."

__ADS_1


"Ba—baik Dok," jawab Marco dengan canggung.


Setelah menemui dokter, Marco kembali ke ruangan Mishel untuk melihat keadaannya. Di depan pintu dia tampak ragu untuk masuk, dia juga tidak tau harus bertanya apa saat wanita itu mungkin sudah siuman. Tapi dia juga penasaran ingin melihat bagaimana keadaannya. Nanti saja dia pikirkan alasannya, dia akan masuk sekarang.


Tepat bersamaan dengan itu, Mishel juga baru saja membuka mata. Terkejut saat melihat di mana dia berada saat ini dan ibunya yang tampak khawatir ada di sampingnya. Terakhir dia mengingat kepalanya terasa pusing lalu pandangannya kabur dan tidak ingat apa-apa setelahnya.


"Nak, kamu sudah sadar?" Bu Fira begitu lega karena akhirnya sang putri bangun juga.


"Tadi kamu pingsan nak, kamu tidak ingat? Seharusnya kamu bilang pada ibu jika lelah, kenapa kamu diam saja. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu dan bayimu, ibu tidak akan memaafkan diri ibu sendiri jika sampai itu terjadi." Bu Fira mengomel dengan berderai air mata. Dia sangat khawatir sungguh, tidak tega melihat putrinya saat pingsan tadi.


"Aku tidak apa-apa Bu, aku hanya kelelahan. Sekarang aku sudah tidak apa-apa."


"Kamu itu! Ibu sangat mencemaskan mu, apa kamu tau itu?"

__ADS_1


",Aku tau Bu, maaf sudah membuat ibu cemas." Mishel memeluk ibunya, dia sangat bahagia saat ada yang peduli padanya seperti ibu. Hanya ibunya yang bisa seperti ini.


"Lain kali ini tidak mau menuruti apa mau mu lagi. Kamu harus beristirahat saja di rumah, kamu itu harus mengumpulkan tenaga untuk persalinan nanti. Kamu mengerti?!" peringat Bu Fira.


"Iya Bu, aku akan mendengarkan nasihat ibu. Jangan marah lagi ya," pinta Mishel. "Aku hanya ingin memanfaatkan kesempatan Bu, hanya diakhir pekan kita bisa mendapatkan uang. Aku ingin mengumpulkan banyak uang agar kita tidak merepotkan keluarga mamah Ayu. Mereka sudah sangat baik, aku tidak ingin selamanya menjadi beban untuk mereka," lanjut Mishel. Meski dia tau apa yang dilakukan mereka adalah demi cucunya tapi Mishel merasa tidak pantas menerima semua itu.


"Ibu mengerti nak, kamu tidak perlu memikirkannya. Setelah rumah lama kita laku terjual ibu akan segera mencari tempat tinggal untuk kita. Walaupun mereka sangat baik padamu, ibu mengerti bagaimana perasaan mu nak. Kita akan berusaha bersama-sama."


"Terimakasih Bu. Terimakasih sudah selalu ada untukku."


Tanpa mereka sadari jika sejak tadi Marco menelinga pembicaraan mereka. Dia yang baru saja masuk terdiam di depan pintu yang tidak bisa dilihat oleh mereka. Perlahan dia keluar dari sana karena tidak ingin membuat mereka merasa canggung jika tiba-tiba melihatnya di dalam sana.


"Mungkinkah dia berbeda," gumam Marco.

__ADS_1


__ADS_2