Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Byantara mengalah


__ADS_3

"Ibu, aku tidak mau ikut pergi ke Villa," ujar Anggita sedikit berbisik, takut terdengar oleh Benji begitu ada kesempatan. Saat itu mereka sedang berada di kamar Anggita, sedangkan Benji sedang asyik menonton film Doraemon kegemarannya.


"Kenapa Gita? Ibu kangen pergi sekeluarga bersama-sama seperti dulu, seperti saat ayah mu masih hidup. Sudah begitu lama kita tidak pergi bersama. Bukankah dulu kau paling senang menunggu liburan, agar kita sekeluarga bisa bermain di Villa itu?" tanya Bu Darmawan.


Anggita terdiam dan teringat masa itu kembali. Sudah sejak pertama dia bertemu dengan Byantara, Anggita langsung menyukai Byantara walaupun saat itu dia belum mengerti arti cinta dan belum bercita-cita menjadi istri Byantara. Bahkan setiap memandang Byantara, Anggita selalu memandang kagum pada sang kakak angkat. Sayang sejak muda Byantara sudah sibuk, dan didikan dari Pak Darmawan agak keras, sehingga Byantara selalu kelihatan kaku, serius dan jarang berbincang-bincang dengan Anggita maupun Bu Darmawan.


Tapi setiap Anggita mengajak Byantara berbicara dan menanyakan sesuatu, Byantara tetap akan menjawabnya walau tidak terlalu ramah.


Ketika akhir tahun tiba, biasa Pak Darmawan akan mengajak mereka sekeluarga ke Villa untuk berlibur, untuk berlibur pak Darmawan lebih suka ke Villanya daripada ke luar negeri, mungkin sudah bosan ke luar negeri untuk urusan pekerjaan.


Saat itulah, baik Pak Darmawan dan Byantara baru bersikap santai. Bahkan Byantara pernah menawari Anggita untuk belajar bagaimana cara menunggang kuda. Anggita sudah pasti menerima tawaran itu dengan senang hati. Anggita benar-benar merasa saat mereka berada di Villa, Byantara berubah menjadi orang berbeda, bahkan Anggita merasa dia menjadi adik kesayangan Byantara, kalau mereka berada di Villa. Hal itu membuat Anggita setiap tahun selalu menunggu saat itu tiba, saat liburan keluarga Darmawan. Anggita merasa Byantara menjadi Kakak yang begitu perhatian dan menyayangi dia setiap mereka sedang berlibur.


Saat Byantara dan Anggita menikah, Anggita hanya mempunyai satu permintaan, Anggita ingin mereka berbulan madu ke Villa itu, Anggita berharap sepulang bulan madu hubungannya akan membaik dengan Byantara. Bahkan Anggita sudah berencana akan mengambil hati Byantara pada saat mereka berbulan madu, sehingga Byantara bisa menjadi baik padanya kalau pulang dari sana. Tapi sayang, Byantara tidak mau mengabulkan permintaannya dengan alasan sibuk, padahal pak Darmawan sudah memberi ijin. Teringat hal itu, Anggita merasa hatinya terasa sakit kembali.


***********


"Tapi kini aku sudah bukan keluarga Darmawan lagi, bu. Aku sudah bercerai dengan Byantara," sahut Anggita akhirnya.


"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu Gita, kau selamanya tetap keluarga Darmawan. Ibu tentu berharap kau menjadi istri Byantara kembali. Tetapi walau kau tidak mau, kau tetap anak ibu. Apalagi kini kau sudah memiliki Benji!" ujar Bu Darmawan sambil menggenggam tangan Anggita.


Menatap wajah Bu Darmawan yang sedih, akhirnya Anggita tidak bisa menolak keinginan Bu Darmawan lagi.


"Baiklah Bu, kalau ibu memang mau aku pergi, aku akan menurut saja pada ibu," jawab Anggita pasrah.


"Terimakasih Gita, kau memang anak ibu yang baik! Kau selalu ingin menyenangkan hati ibu," ujar Bu Darmawan sambil memeluk Anggita terharu.


**********


"Benji!" panggil Byantara yang mendadak sudah muncul di kamar Anggita.


"Papa!" panggil Benji senang dan langsung mengalihkan perhatiannya dari televisi dan berlari ke arah Byantara.

__ADS_1


Anggita sebenarnya kesal dengan Byantara yang dengan seenaknya masuk ke kamarnya entah sejak kapan. Tetapi karena sedang ada Bu Darmawan, Anggita pun tidak menegur Byantara.


"Ini papa sudah membelikan apa yang sudah papa janjikan pada Benji?" ujar Byantara sambil memberikan sebuah bungkusan pada Benji.


Benji langsung menerima bungkusan itu dengan senang dan langsung merentang kan kedua tangannya meminta gendong pada Byantara. Byantara dengan sigap langsung menggendong Benji. Sedangkan Benji langsung memeluk leher Byantara.


"Terimakasih pa!" ujar Benji.


Bu Darmawan tersenyum melihat hubungan Byantara dan Benji yang semakin membaik. Sedangkan Anggita malah merasa khawatir melihat kedekatan hubungan Byantara dan Benji, Anggita benar-benar khawatir kalau Byantara akan merebut Benji darinya.


"Benji! Turun! papa sudah capek, papa kan baru pulang," perintah Anggita.


"Papa kan cowok! Cowok itu kuat ma." bantah Benji yang malah semakin mengeratkan pelukan tangannya di leher Byantara. Sepertinya Benji sudah menemukan kuda baru.


"Benar gak Pa?" tanya Benji menatap ke sang ayah.


"Tentu benar Benji! Apalagi papanya Benji pasti lebih kuat lagi dari pada yang lain," sahut Byantara tersenyum angkuh, sambil memandang ke arah Anggita.


Huh! Dia pasti hendak memanasi aku mentang-mentang Benji sudah dekat dengannya, pikir Anggita ketika melihat tatapan Byantara yang mengarah kepadanya. Anggita langsung melengos dan membuang pandangannya ke samping, Anggita tidak ingin bertatapan dengan Byantara.


Ha-ha-ha, syukuri. Sudah sombong gitu malah diragukan anaknya sendiri! tawa Anggita dalam hati, Anggita langsung mengulum bibirnya berusaha menahan tawanya itu.


"Wah menghina papa! Kok Benji bisa ragu sama papa sendiri?", tanya Byantara tetapi masih belum melepaskan tatapannya dari Anggita. Byantara tahu sepertinya Anggita berusaha menahan tawanya.


Awas Gita, akan ku buktikan! Aku tidak semudah itu bisa kalah dari yang lain! gerutu Byantara dalam hati karena merasa Anggita menertawakannya.


"Teman Benji bilang kalau papanya yang paling kuat!" sahut Benji terlihat ragu.


"Lho kok bisa yakin begitu temannya Benji?" tanya Byantara yang tidak terima.


"Kata teman Benji dia pernah lihat papanya gendong mamanya saat sakit. Terus dia tanya Benji, pernah gak papa gendong mama!" ujar Benji dengan polos.

__ADS_1


"Mau lihat kemampuan papa?" tawar Byantara yang tidak terima kekuatannya diragukan Benji.


Benji langsung mengangguk berkali-kali tanda setuju


Byantara langsung meletakkan Benji ke bawah, setelah itu langsung melangkah mendekati Anggita. Bu Darmawan dari tadi hanya senyum-senyum saja melihat tingkah Benji.


Anggita terlambat sadar, tahu-tahu saja Byantara sudah menggendongnya ala bridal style.


"Mas Byan! Turunkan aku! Apa yang kau lakukan?" tanya Anggita merasa malu, apalagi ada Bu Darmawan bersama mereka,


Andaikata tidak ada Bu Darmawan, sudah pasti Anggita akan memberontak dan memukul Byantara, Byantara juga pintar menggunakan kesempatan yang ada, Byantara cukup mengenal Anggita yang pasti tidak berani bersikap kasar kalau ada ibunya.


**********


"Mas Byan! Turunkan aku!" tegur Anggita sekali lagi.


"Akan ku turunkan sesudah Benji percaya pada kekuatan ku!" sahut Byantara yang tersenyum ke arah Anggita.


"Hore! Papa Benji kuat! Lebih kuat daripada papanya teman Beji!" teriak Benji kagum.


"Kau sudah dengar kan? Sekarang turunkan aku!" omel Anggita kesal.


Karena sudah tidak ada alasan lagi akhirnya Byantara mau tidak mau menurunkan tubuh Anggita perlahan. Kalau menuruti keinginannya, Byantara rasanya masih ingin mendekap tubuh Anggita, dan mencium wangi tubuh Anggita dari dekat.


"Benji! Besok-besok kau jangan jadikan mama sebagai percobaan ya!" omel Anggita yang merasa kesal.


"Iya ma," sahut Benji akhirnya menunduk karena merasa bersalah.


"Sudah Gita, jangan menyalahkan Benji, setiap anak pasti merasa bangga pada orang tuanya sendiri!" bela Bu Darmawan yang bangun dari duduknya dan memegang kedua bahu Benji.


Byantara yang berdiri canggung, akhirnya mendekati Anggita.

__ADS_1


"Maaf Gita, aku cuman mau menyenangkan Benji, kau jangan marah lagi, marah saja pada ku, aku yang salah, sudah menggendong mu tanpa ijin" ujar Byantara akhirnya mengalah.


Bersambung...........


__ADS_2