
"Mengapa kau harus tinggal di tempat seperti itu?" tanya Byantara ketika mobil mereka memasuki gang yang agak sempit dan berhenti di rumah yang bercat biru. Walaupun tempat penginapannya termasuk bagus, tapi buat seorang Byantara tentu terlalu sederhana
"Bukankah tadi aku sudah bilang kalau kau tidak usah mengantar aku? Aku sudah tahu kalau kau tidak akan terbiasa dengan tempat seperti ini. Kau tidak usah ikut masuk, aku masuk sendiri saja! Ini sudah lebih bagus dibandingkan rumah yang aku tinggali empat tahun yang lalu!" sindir Anggita yang langsung keluar dari mobil sambil menarik Benji untuk mengikutinya.
Byantara mengepalkan tangannya berusaha menahan emosinya, tapi Byantara ikut keluar juga dari mobil dan mengekor di belakang Anggita.
Ketika melihat Anggita masuk ke dalam kamar yang berukuran tiga kali empat, Byantara menahan mulutnya untuk tidak berkomentar lagi, dari pada Anggita selalu menjawabnya dengan sinis.
Tetapi ketika Benji sudah menyusul Anggita masuk ke dalam kamar, Benji langsung menutup pintu kamar itu, Byantara bahkan mendengar suara kunci diputar.
Sepertinya ibu dan anak ini sudah janjian mau bikin aku emosi. Aku harus menahan diri, aku tidak boleh kalah dan terpancing oleh kelakuan mereka! pikir Byantara menghela nafas panjang, berusaha menghilangkan rasa emosinya yang mulai naik.
*********
Anggita langsung tersenyum dan memberikan tanda jempol ke Benji saat melihat Benji mengunci pintu kamar mereka.
Bagaimana juga Anggita masih dendam dan benci pada Byantara, saat seperti ini Anggita sama sekali sudah tidak memperdulikan segala ajaran sopan santun. Anggita ikut senang, secara tidak langsung Benji membalaskan dendamnya.
Huh! Biar tahu rasa digituin anak sendiri! Ini masih tidak seberapa! gerutu Anggita dalam hati dan mulai memasukkan baju-baju nya ke dalam kopor kembali. Sebetulnya baju Anggita dan Benji tidak lah terlalu banyak, sebentar saja Anggita sudah selesai mengerjakannya.
Anggita yang merasa enggan bersama dengan Byantara, akhirnya merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan kedua kakinya yang menggantung di tempat tidur.
"Ayo Benji, sini bobok sebentar sebelum bertemu nenek Benji!" panggil Anggita sambil menepuk kasur di sebelahnya. Benji pun menurut dan segera merebahkan tubuhnya di samping Anggita. Angin yang sejuk membuat Anggita malah benar-benar tertidur. Ketika terbangun, Anggita langsung merasa kaget, sepertinya dia tertidur cukup lama, mungkin sekitar empat puluh menit, saat Anggita melihat jam di telpon genggamnya. Tampak Benji yang rupanya tertidur juga di samping nya, pantas saja Benji sama sekali tidak mengganggu.
Jangan-jangan Byantara sudah kembali. Orang seperti itu mana mungkin sabar menunggu? Aku harus siap-siap menerima kemarahannya. Ah! Biarkan saja, lebih bagus aku tidak usah kembali ke Mansion nya. Semoga saja dia marah dan tidak menginginkan aku dan Benji lagi! Harap Anggita sambil membuka pintu kamar dan mengintip ke luar.
__ADS_1
"Kau merasa seru mempermainkan ku? Kau pikir aku akan pergi karena kau keluarnya lama?" tanya Byantara tiba-tiba yang ternyata berdiri di samping pintu kamarnya, dan terlihat sedang menyenderkan tubuhnya di tembok kamar itu. Anggita tentu merasa kaget, dia tidak menyangka kalau Byantara masih berada di depan kamarnya.
"Kau sengaja bukan?" tanya Byantara kesal dan menarik pergelangan tangan Anggita agar tidak bersembunyi di kamar lagi. Anggita yang tidak menyangka kalau Byantara akan menariknya menjadi hilang keseimbangan dan jatuh menubruk dada Byantara.
Byantara refleks langsung memeluk pinggang Anggita agar jangan sampai jatuh. Setelah beberapa saat dalam posisi itu, Anggita yang sadar terlebih dulu segera mendorong dada Byantara agar melepaskan pelukannya.
"Lepaskan! Kau sengaja kan?" omel Anggita.
"Aku hanya membantu mu, aku takut kau jatuh!" sahut Byantara mengalah dan perlahan melepaskan pelukannya, padahal kalau menuruti keinginannya, Byantara masih ingin memeluk Anggita, Byantara merasa rindu dengan wangi Lavender yang berasal dari rambut Anggita.
Bahkan wangi yang dia sukai juga tidak berubah, seharusnya dia tidak semudah itu melupakan cintanya pada ku!
*********
"Benji tertidur! Bagaimana kalau kau kembali saja. Nanti saat Benji bangun, aku akan naik kendaraan online menuju ke Mansion mu", ujar Anggita yang menyadarkan Byantara dari lamunannya.
"Andai bisa, aku tentu akan pergi dari iblis seperti mu!" sahut Anggita ketus.
Byantara langsung mencengkram kedua bahu Anggita dan menatap tajam ke arah Anggita.
"Kau coba saja berani kabur! Aku pasti akan membuat mu menyesal kalau kau melakukan itu!" ancam Byantara. Sesudah itu Byantara langsung melangkah masuk ke kamar Anggita tanpa berkata apa-apa lagi. Ketika melihat Benji yang masih tidur dengan nyenyak, Byantara langsung mengangkat tubuh Benji tanpa ijin Anggita lagi dan membawa Benji keluar menuju mobil. Sepertinya kali ini kesabaran Byantara sudah habis.
Anggita mau tidak mau segera mengambil tas kopernya dan mengejar Byantara yang melangkah lebar itu.
Untung saja Benji tidak bangun, kalau bangun sudah pasti Benji akan kaget karena berada dalam gendongan Byantara.
__ADS_1
"Kau masuk dulu!" perintah Byantara dengan dagunya menunjuk tempat duduk belakang. Kali ini Anggita menurut, tiba-tiba dia merasa takut juga melihat wajah dingin Byantara.
Setelah Anggita duduk, Byantara menaruh tubuh Benji di tempat duduk belakang, dengan kepala Benji yang berada di atas pangkuan Anggita. Sempat-sempatnya Byantara menatap tajam ke arah Anggita setelah meletakkan tubuh Benji.
"Kau ingat kata-kata ku! Kau jangan coba-coba mempermainkan aku, kau akan terima akibatnya kalau berani!" ancam Byantara.
Selama perjalanan pulang ke Mansion, Anggita tiba-tiba merasa suasana yang mencekam. Apalagi Anggita dapat merasakan beberapa kali Byantara menatap ke arahnya lewat kaca spion.
**********
"Kau tidak mengunjungi Gisella, Sam?" tanya nenek Tang setelah mereka selesai makan malam.
Samuel yang sejak tadi berusaha sabar, akhirnya meledak juga kemarahannya.
"Nenek! Selama ini saya selalu menuruti kehendak nenek, tapi kalau masalah jodoh nenek jangan memaksa saya untuk mendekati gadis yang mana! Sam sudah bilang kalau Sam menyukai Gita. Tidak mungkin Sam secepat itu berubah nek!" sahut Samuel melampiaskan kekecewaannya.
"Sam yakin pasti nenek yang sudah memaksa Gita untuk pergi dari sini!" tuduh Samuel.
"Gita sendiri yang ingin pergi Sam," sahut nenek Tang tidak mau mengaku.
"Aku yakin nenek yang mempengaruhi Gita. Gita pada awalnya masih baik-baik saja dan menerima ku. Pantas nenek tidak seperti biasanya meminta aku mengantar nenek pergi, jangan-jangan ini memang sudah rencana nenek sejak awal." tebak Samuel dengan benar.
"Nenek melakukannya demi kebaikan mu Samuel! Sebaiknya kau jangan merebut kepunyaan Byantara kalau tidak mau bermasalah!" nasehat nenek Tang.
"Tapi itu bukan kebaikan untuk ku nek! Apakah nenek mengerti perasaan ku? Aku tidak rela nek! Hati ku merasa sakit. Aku yakin Gita juga menyukai ku! Siapa bilang kalau Gita miliknya Byantara? Mereka sudah bercerai nek!" ujar Samuel marah sesudah itu langsung melangkah keluar dari ruang makan itu. Nenek Tang hanya termangu menatap Samuel yang beranjak pergi. Baru kali ini Samuel terlihat marah, padahal biasanya Samuel sangat sabar dan sopan.
__ADS_1
Maafkan nenek Sam, tetap saja nenek yakin kau dan Gita tidak mungkin bisa bersatu! Sebaiknya kau sadar sejak awal, daripada semakin lama akan membuat mu semakin sakit hati!
Bersambung.............