Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 11


__ADS_3

Siang itu di bawah teriknya matahari Marco dan kedua orangtuanya pergi ke rumah Mishel setelah paginya memberikan kabar pada mereka. Mereka pergi dengan satu mobil dan satu mobil di belakang membawa barang-barang bawaan yang akan diberikan pada Mishel. Gerry dan istrinya senang karena akhirnya sang putra akan menikah meskipun caranya seperti ini. Mungkin ini cara tuhan agar dia tidak lagi bermain-main dengan para wanita, agar dia bertaubat dan menjadi lebih baik.


Meski sebenarnya Marco masih belum bisa menerima kenyataan itu. Berkomitmen dengan seseorang tidak ada dalam rencananya karena dia masih kecewa dengan yang namanya wanita.


"Marco, ingat nanti di sana kau tidak boleh mengatakan hal yang menyakitkan pada mereka. Kamu yang salah di sini bukan mereka, kalau mereka tidak datang ke rumah dan bertemu Mamah pasti kau akan terus melakukan perbuatan buruk itu," ujar Ayunda pada putranya.  Dia khawatir nanti di sana putranya itu membuat masalah yang mungkin akan menyakiti calon menantunya. Dari cerita sang suami yang sudah menyelidiki tentang asal-usul dan kehidupan mereka, Ayunda jadi tau bagaimana mereka selama ini hidup tanpa sosok laki-laki. Lalu kemarin saat lingkungan mereka tau jika Mishel hamil, mereka kembali mendapatkan hinaan dari orang-orang.


"Iya Mah." Marco memandang jalanan di depan matanya. Melihat kemana arah mobil itu melaju.


Mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam jalan sempit untuk sampai ke rumah Mishel. Setelah bertanya pada orang beberapa kali akhirnya mereka menemukan rumah itu.


Tak berbeda jauh dengan Marco, Mishel pun sebenarnya ragu untuk menerima pertanggungjawaban pria itu. Entah bagaimana jadinya nanti kedepannya karena mereka menikah dengan terpaksa. Mishel memikirkannya semalaman, apa keputusannya sudah benar.  Menikah dengan laki-laki itu, mengingat ayah dari janinnya sepertinya tidak akan menerima mereka. Dia pun sempat meminta pendapat ibunya.


"Bu, apa aku batalkan saja ya. Tidak usah meminta dia menikahiku, aku takut Bu. Ibu dan Bapak yang menikah karena cinta saja bisa berpisah. Bagaimana aku dan dia nanti," kata Mishel pada ibunya malam itu. Dia ingin benar-benar memantapkan hatinya, tidak mau menyesal di belakang. Kemarin dia memang setuju untuk meminta pertanggungjawaban karena terdesak oleh keadaan. Dia tidak punya pilihan lain karena tidak ingin dirinya dan juga sang ibu diusir dari rumahnya sendiri.


Bu Fira mengusap kepala putrinya penuh cinta. Ia mengerti jika putrinya mungkin takut karena melihat pengalaman ibunya. Sebagai ibu dia juga khawatir akan hal yang sama tapi dia sudah merasakan sendiri bagaimana hidup tanpa suami, rasanya sungguh berat belum lagi cemoohan dari orang-orang.

__ADS_1


"Ibu mengerti jika kamu takut nak tapi perlu kamu tau jika tidak semua orang bernasib sama. Ada yang menikah karena cinta tapi pada akhirnya mereka bisa saling mencintai karena terbiasa bersama. Ada yang menikah karena cinta seperti ibu juga hidup bahagia. Jalan hidup orang itu berbeda-beda, tidak bisa disama ratakan." Bu Fira masih mengusap kepala putrinya. Putri yang sejak kecil sudah menderita, tak pernah sekalipun menerima kasih sayang dari ayahnya padahal laki-laki itu masih hidup dan bahagia dengan istrinya yang kaya.


"Nak ...." Mata Bu Fira berkaca-kaca jika mengingat masa-masa sulit mereka. Dimana Mishel kecil yang seringkali menanyakan ayahnya dan menjadi bahan ejekan teman-temannya. Serta dirinya yang harus berjuang keras membanting tulang untuk membiayai hidup mereka. Semua itu tidak mudah, banyak sekali air mata yang sudah terbuang untuk melaluinya.


"Kenapa ibu menangis?Apa aku membuat ibu sedih?" tanya Mishel sembari menghenyakkan cairan bening yang mengalir di pipi sang ibu.


Ibu Fira buru-buru menyempatkan senyuman di bibirnya. Tidak perlu mengingat yang sudah terjadi.


"Ibu tidak apa-apa nak."


"Maaf Bu, aku tidak bermaksud membuat ibu sedih. Maafkan aku. Ibu jangan sedih lagi, semua itu sudah berlalu," kata Mishel menguatkan ibunya.


"Tidak seharusnya kamu meminta maaf pada ibumu ini. Justru ibu yang harus meminta maaf karena ibu sudah membawa kamu hidup dalam penderitaan."


"Bukan karena ibu tapi karena laki-laki itu yang telah meninggalkan kita. Ibu jangan lagi berpikir seperti itu ya." Mereka berdua pun sama-sama menangis meluapkan perasaannya. Saling memeluk dan menguatkan, semua sudah terjadi tidak ada yang perlu disesali. Mishel sangat menyayangi ibunya lebih dari apapun, dia menyaksikan sendiri bagaimana ibunya berjuang.

__ADS_1


"Maaf, ibu malah membuat kamu ikut sedih. Oh ya, menurut Ibu lebih baik kamu memberikan laki-laki itu kesempatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Setidaknya berilah anakmu status yang jelas agar dia tidak menjadi bahan ledekan orang-orang disekitarnya nanti. Biarkan dia juga mendapatkan kasih sayang ayahnya," ujar Ibu Fira memberikan pengertian. Dia hanya tidak ingin cucunya juga tidak merasakan kasih sayang dari ayahnya.


"Tapi Bu, bagaimana kalau dia tidak mengharapkan kami. Apa aku harus tetap bertahan dalam pernikahan yang seperti itu."


"Kamu hanya perlu sedikit bersabar. Lakukan tugasmu sebagai istri dengan baik dan berikan dia perhatian. Ibu yakin lama-lama dia akan menerimamu dan dia tidak mungkin tidak menginginkan anaknya sendiri," ujar Ibu lagi.


"Tapi jika memang kamu memutuskan untuk tidak menikah. Ibu juga akan tetap mendukungmu. Ibu akan bersamamu merawat dia dengan baik." Ibu Fira mengusap perut Mishel yang masih rata sampai saat ini karena janinnya masih sangat kecil.


Setelah membicarakan hal itu dengan ibunya Mishel pun memikirkannya. Dia tidak boleh egois memikirkan dirinya sendiri, benar kata ibunya jika anaknya membutuhkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Dia juga tidak ingin menyeret ibunya untuk hidup dalam hinaan lagi.


Siang ini Mishel sudah bersiap, memakai pakaian yang rapi dan sopan untuk menyambut kedatangan keluarga ayah dari anaknya. Makanan sederhana pun sudah disiapkan ibu Fira dengan antusias. Dia senang karena seperti yang dia lihat calon mertua putrinya adalah orang yang baik. Setidaknya hal itu cukup membuat dia lega.


Deru suara mobil berhenti di depan rumah kecil yang dihuni Mishel dan ibunya. Mobil itu terpaksa harus parkir di jalan karena halaman rumah itu cukup kecil untuk menampungnya.


Marco menyerngitkan keningnya saat melihat rumah kecil dan lusuh yang katanya rumah milik gadis itu. Dari sekian banyak wanita kenapa dia harus menikahi wanita miskin itu.

__ADS_1


__ADS_2