Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 40


__ADS_3

Mishel bersama sang putra berdiri di tengah-tengah keluarga Ayunda. Tentu saja dia menjadi pusat perhatian terutama para wanita muda yang terlihat iri melihat dia bisa dekat dengan putra CEO. Sebagian dari mereka ada yang belum mendengar saat Rafael menyebutnya ibu barusan di tengah aula. Dan yang sudah tau pun masih menunggu konfirmasi dari CEO dan yang lain mengenai status Mishel.


"Terimakasih atas kehadiran kalian semua di ulang tahun pernikahan kami yang ke dua puluh lima tahun. Saya dan istri sangat berterimakasih. Sebenarnya hari ini bukan hanya perayaan hari pernikahan kami tapi ada sesuatu yang sangat penting yang juga akan kami umumkan malam ini di hadapan kalian semua," ujar Gerry sembari memeluk pinggang sang istri tercinta.


"Seperti yang kalian tau selama ini, kami sudah memiliki cucu yang bernama Rafael. Meski begitu kami belum pernah secara resmi mengenalkan cucu kami pada kalian. Dia adalah cucu kandung kami yang merupakan anak dari Marco, putra tunggal kami," lanjut Gerry.


"Di sini kami ingin meluruskan suatu hal. Mungkin kalian bertanya-tanya, bagaimana mungkin putra kami memiliki seorang putra sedangkan dia belum pernah menikah." Gerry tersenyum saat sang istri mengusap lengangnya. Awalnya dia ragu untuk mengatakan semua di depan publik tapi ini semua demi membersihkan nama baik Mishel.


Orang-orang mulai menerka-nerka apa yang akan dikatakan oleh Presdir. Mereka kira CEO perusahaan itu sudah menikah diam-diam lalu memiliki anak.


"Nak kemarilah." Ayunda menyuruh Rafael mendekat lalu mengambil alih berbicara.


"Dia adalah cucu kesayangan kami Rafael. Dia terlahir dari ibu yang hebat dan luar biasa. Dia juga tumbuh dengan baik. Wanita di sana adalah ibunya, wanita yang telah melahirkan Rafael."


Kini semua mata tertuju pada Mishel yang berdiri tidak jauh dari Marco. Tatapan mereka penuh selidik dan terkesan tidak suka karena merasa Mishel hanya wanita biasa. Bagaimana wanita biasa seperti dia menjadi yang paling beruntung.


"Karena kesalahan putraku membuat dia harus mengandung saat dia belum siap. Dan karena putraku yang sedikit boodoh itu membuat dia harus hidup menderita. Putraku Marco menolak bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan, bukankah dia sangat bod00h karena sudah menyia-nyiakan wanita secantik dia. Tapi mesti begitu, saya dan suami sudah menganggap dia seperti putri kami sendiri. Kami sangat menyayangimu nya bahkan lebih dari putra kami sendiri," lanjut Ayunda, dia tersenyum pada Mishel yang tampak canggung.


"Jadi jika kalian bertanya dia siapa? dia putri kami. Jika suatu saat ada lelaki yang mau mendekatinya harus kami lihat lebih dulu sebagai orang tua,hahaha," ujar Ayunda bercanda saja.


"Mah ..." Marco protes, bagaimana mungkin dia akan membiarkan ada lelaki yang mendekati Mishel.


"Ada apa? bukankah kau tidak menginginkannya. Lebih baik Mishel bahagia dengan lelaki lain yang bertanggung jawab saja," cecar sang mamah.


"Oma ... apa ayah tidak baik?" tanya Rafael.


"Iya sayang, ayahmu itu terlalu bodoh dan lamban. Lebih baik kau mempunyai ayah baru saja," ujar Ayunda memprovokasi.


"Maahh, kenapa kau bicara seperti itu pada Rafael." Marco tidak mengerti mengapa sang mamah mengajarkan hal seperti itu pada anaknya yang masih kecil.

__ADS_1


"Kau pasti tau kan nak, cucu Oma kan lebih pintar dari ayahnya. Kau lihat sendiri kan nak, ayahmu tidak bisa berbuat apa-apa untuk membujuk ibumu. Coba katakan pada Oma, apa ibumu mau dengan ayahmu?"


Rafael menggelengkan, selama ini dia diam-diam melihat ibu sering menangis. Meski dia tidak tau apa penyebabnya. Sepertinya itu karena dia kesepian dan lelah menghadapi semua seorang diri. Jika memang sang ibu mau menikah dengan lelaki lain selain ayahmu Rafael tidak akan melarang asal ibunya bahagia.


"Rafael ingin melihat ibu bahagia, jika memiliki ayah baru bisa membuat ibu bahagia, maka Rafael akan menerimanya."


Mishel terkejut mendengar hal itu. Apa mungkin putranya selama ini tau apa yang dia rasakan tapi bukan karena dia ingin menikah dengan lelaki lain itu karena dia merindukan ibunya dan mempertimbangkan Marco. Terkadang hati kecilnya yakin sudah mau menerima apalagi melihat sang putra yang sangat butuh keluarga lengkap. Tapi kadang dia dilema, dia pikir pria itu nanti akan berubah pikiran jika dia menemukan wanita yang lebih baik darinya.


Tak terasa kini mata cantik Mishel mengembun karena perkataan sang putra. Dia tidak menyangka putranya yang masih kecil akan sangat peka dengan apa yang dia rasakan.


"Jadi, apa kau tidak masalah jika yang menikah dengan ibumu bukan ayahmu nak?" tanya Ayunda sekali lagi.


"Iya Oma, Rafael ingin melihat ibu bahagia. Dengan siapapun ibu menikah, Rafael akan senang asal ibu bisa tersenyum."


Mishel tak sanggup lagi menahan air matanya, selama ini rupanya dia begitu egois hanya memikirkan dirinya sendiri sedangkan sang putra justru sangat memikirkan dirinya agar bahagia.


"Kalian semua lihat bukan, putraku terlalu payah untuk wanita sebaik dan sehebat Mishel. Dia pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik," ujar Ayunda memprovokasi.


"Tunggu! Aku ingin bicara." Marco mengambil alih perhatian semua orang.


"Aku ingin mengakui kebodohan ku yang dulu dengan sombongnya menolak untuk bertanggungjawab. Sungguh aku menyesal sampai saat ini, jika dulu aku tidak egois maka putraku pasti akan memiliki keluarga yang utuh dan tanpa sadar entah dari kapan aku juga sudah mencintai wanita yang sudah melahirkan putraku. Aku sadar aku menyesal bahkan setiap detik aku selalu menyesali apa yang sudah aku perbuat. Mungkin aku memang tidak pantas mendapatkan maaf tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk menjadi lelaki satu-satunya yang akan menjaga kalian berdua." Marco berjalan ke arah Mishel lalu menekuk lututnya dan mengeluarkan sepasang cinta di dalam kotak kecil.


Semua orang terkejut melihatnya, mereka sedang menyaksikan lamaran seorang pria yang putus asa dan berharap masih memiliki kesempatan untuk memiliki keluarga kecilnya. Awalnya mereka merasa kesal dan tidak suka pada Mishel tapi setelah mendengar semua cerita istri Presdir membuat mereka bisa menilai jika wanita itu adalah wanita yang baik.


"Terima terima terima." Tiba-tiba semua orang bersorak meminta Mishel untuk menerima lamaran itu.


Mishel sendiri tidak bisa berkata-kata lagi, belum juga dia terkejut dengan perkataan sang putra kini pria itu malah menambah keterkejutannya.


"Jika kamu menolaknya kali ini, aku berjanji setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi agar kau bisa memiliki kesempatan untuk bertemu dengan lelaki yang lebih baik. Aku akan menerima apapun keputusan mu," ujar Marco yang sudah sedikit mabuk.

__ADS_1


"Tuan, jika Anda melakukan ini demi Rafael saya rasa itu tidak perlu. Anda masih bisa bebas bertemu dengannya."


"Tidak, memang setengahnya karena Rafael. Aku ingin bisa tinggal bersama dengan nya setiap hari dan memerankan sebagai seorang ayah dengan baik. Tapi setengahnya karena dirimu. Aku mencintaimu Mishel. Aku mencintaimu."


Mishel terbengong mendengar pernyataan cinta mendadak itu. Ya walaupun selama ini dari sikap nya seharusnya sudah terlihat tapi mendengar pernyataan cinta langsung membuat wanita itu terkejut.


"Buu ... tidak apa jika ibu tidak suka dengan ayah. Ibu bisa memilih laki-laki yang lainnya."


Marco melotot mendengar sang putra bukannya berpihak padanya justru malah memprovokasi ibunya.


Mishel mengusap kepala sang putra lalu menciumnya. Sepertinya sekarang dia sudah tau jawabannya.


"Semua orang pernah melakukan kesalahan termasuk aku. Semua orang juga berhak mendapatkan kesempatan apalagi jika dia sudah benar-benar berubah. Aku mau menerimanya." Akhirnya keputusan itu yang diambil.


Marco hampir saja ingin melompat saking senangnya. Tidak sia-sia selama ini dia bersabar karena akhirnya hari ini pun tiba.


"Yess." Terlihat lelaki itu sangat mendalami peran dia bersorak sambil berteriak karena akhirnya dia berhasil.


Ayunda dan suami tak masalah karena karena sekarang pusat perhatian nya bukan mereka, justru senang melihat putranya yang akhirnya berhasil.


Satu bulan kemudian.


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang, hari ini ibu dan ayahnya Rafael akan dipersatukan oleh ikatan pernikahan. Sebulan ini mereka semakin dekat dan banyak menghabiskan waktu bersama. Rafael menjadi yang paling bahagia melihat ibu dan ayahnya bisa bersama, sekarang dia sudah bisa main bertiga.


"Lihat nak, ibumu sangat cantik."


"Ibu siapa dulu dong Oma, itu ibu Rafael jadi cantik," jawab anak itu


Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Lalu tak lama Mishel sudah harus masuk ke dalam aula pernikahan.

__ADS_1


Janji suci sehidup semati sudah diucapkan. Mereka kini sudah sah menjadi suami istri. Tepuk tangan meriah menyambut mereka beriringan dengan musik dan mengalun merdu memainkan nada-nada kebahagiaan.


"Terimakasih Tuhan, akhirnya Engkau mendengar doa-doa Rafael selama ini. Rafael berjanji akan terus menjadi anak yang baik agar Engkau tidak mengambil kebahagiaan yang Rafael miliki saat ini," gumam Rafael sembari mengatupkan kedua tangannya.


__ADS_2