
Kini suasana canggung benar-benar dilanda kecanggungan. Mishel mengatakan permintaannya tapi tidak tau jika pada akhirnya akan menjadi begini suasananya. Begitupun dengan Marco yang tidak tau harus mulai dari mana. Jujur saja dia ingin sekali menyentuh perut besar itu lagi, dia rindu merasakan tendangan dari dalam sana tapi itu tidak mungkin karena dia tidak seberani itu. Mungkin jika dia melakukannya, wanita yang duduk di depannya itu akan lari karena ketakutan.
Hah, hilangkan pikiranmu yang tidak mungkin Marco. Dia berusaha tetap fokus pada permintaan Mishel tadi.
Eheemm.
Marco berdehem kembali untuk mengurangi kegugupannya. Padahal bukan hanya dirinya, Mishel pun sama. Wanita itu menyesal telah mengatakan permintaan itu.
"Kenapa kau tidak meminum jusnya. Di luar pasti sangat panas kan tadi," ujar Marco lalu dia pun menyeruput es kopinya untuk mendinginkan tubuhnya karena kini dia berkeringat dingin.
"Ah iya." Dengan sopan Mishel mengambil gelasnya lalu meminumnya sedikit. Dalam kondisi hamil besar seperti dia ini memang terasa cepat panah dan berkeringat. Dia merasakan jus itu begitu segar dan meminumnya sampai setengah gelas.
"Kau menyukainya?" tanya Marco.
__ADS_1
Mishel buru-buru meletakkan gelasnya dan malu.
"Minumlah kalau suka, aku akan memesankan lagi kalau kau mau. Itu jus dari buah asli, aku memintanya tanpa gula."
Mishel pun meminumnya lagi.
Hingga hampir setengah jam mereka duduk di sana tapi permintaan sederhana Mishel belum juga bisa dilakukan oleh pria itu. Bukan tidak mau tapi dia masih tidak tau harus mulai dari mana untuk mengatakannya dan di sana juga banyak orang.
Marco maju lalu meletakkan kedua sikunya di atas meja. "Begini, bagaimana kalau kita pindah tempat. Jangan takut karena aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ... di sini banyak orang," ujar Marco setengah berbisik.
Mishel pun melihat sekitarnya, benar sekarang di sana banyak orang.
Mereka sudah ada di taman dan cukup sepi. Duduk di bangku yang ada di bawah pohon. Dimana dedaunan yang mengering berjatuhan terbawa angin dan berakhir dengan berserakan di mana-mana. Cuaca siang itu memang cukup bagus, tapi untungnya tidak terlalu panas karena sedang memasuki musim hujan. Mereka duduk berjauhan dari ujung bangku yang satu dan yang lain.
__ADS_1
Marco membenarkan dasinya yang terasa mencek ik leher lalu mencoba mengatakan sesuatu.
"Aku akan mulai sekarang," ujar pria itu sembari memutar kepalanya melihat wanita yang duduk di sampingnya.
Mishel meremat dress kuat-kuat karena gugup. Mungkin ini pertama kalinya mereka akan berbicara hal serius.
Tiba-tiba Marco juga memutar tubuhnya sehingga sekarang berhadapan dengan Mishel. Ragu dan lidahnya terasa kaku saat akan mengatakan sesuatu.
"Bo—bolehkah aku meletakkan telapak tangan ku di sana?" tanya Marco sembari melihat perut Mishel. "Jangan takut, aku hanya ingin merasakan janinnya. Bukankah kau bilang agar aku memperlihatkan keberadaan ku, menunjukkan kasih sayang dan semua itu agar dia tau jika aku menyayangi nya," terang Marco saat melihat raut wajah Mishel yang sangat keberatan.
Mishel pun bingung harus mengijinkannya atau tidak. Di satu sisi dia juga ingin lelaki itu mengusap perutnya seperti apa yang dia impikan. Di sisi lain dia takut terlalu berharap dan itu hanya mimpi belaka.
"Anda bisa melakukannya," ujar Mishel.
__ADS_1