
"Mas Theo, apakah ada waktu? bisa kah aku bicara dengan mas Theo? Kau bisa ke Mansion sebentar?" tanya Anggita yang berinisiatif menelpon Theo untuk datang ke Mansion lewat telpon.
"Maaf Gita, saat ini aku sudah tidak bisa ke Mansion Darmawan lagi!" jawab Theo menghela nafas.
"Pantas aku hubungi kamu gak bisa Gita, ternyata kau sudah ganti nomor Handphone," sambung Theo lagi.
"Iya mas, aku juga gak tahu kenapa nomer telpon ku yang lama tidak bisa beroperasi mendadak, makanya aku ganti nomor," sahut Anggita menjelaskan.
"Karena Byantara tidak ingin kau berhubungan lagi dengan ku, Gita. Apa pun bisa Byantara lakukan, kau lebih berhati-hati, Byantara selain otaknya pintar, juga licik," sahut Theo yang mulai menjelek-jelekkan Byantara.
"Kau kenapa mas Theo? Apa yang sudah dilakukan mas Byan terhadap mu? Apakah hubungan kerja antara kau dan mas Byan masih berjalan seperti biasa?" tanya Anggita khawatir, teringat Theo yang mempunyai seorang ibu yang masih dirawat di Rumah Sakit. Apalagi biayanya cukup besar.
"Jangan khawatir Gita, saat ini aku sudah bisa mengatasinya," sahut Theo.
"Tidak bisa begitu! Mas Byantara sudah berjanji pada ku kalau dia tetap akan bekerjasama dengan mu, asal aku tinggal di sini!" ujar Anggita.
"Tidak kok Gita, usahanya masih jalan terus. Cuman Byantara sedang marah pada ku dan tidak mau bertemu dengan ku, aku juga dilarang datang ke Mansion kalian. Jadi aku tidak bisa bertemu dengan mu di Mansion." sahut Theo.
"Apa yang terjadi dengan mu dan mas Byan? Bukankah mas Theo dan mas Byan berteman baik sejak dulu? Coba bicarakan baik-baik, kalian kan punya kerjasama, kalau sampai tidak bicara bagaimana?" tanya Anggita.
"Semua kan bergantung pada Byantara, Gita. Kau tahu sendiri, di mana-mana orang yang berkuasa yang menang. Sekarang Byantara sedang tidak ingin bertemu dan berbicara dengan ku. Aku juga tidak bisa memaksanya, Gita. Kau sendiri kan sudah tahu sifat Byantara seperti apa!" adu Theo.
"Bagaimana kalau kita bertemu di luar saja Gita? Byantara melarang ku mendatangi Mansion, apalagi untuk bertemu dengan mu!" usul Theo akhirnya.
"Baiklah mas Theo, tapi besok saja ya, soalnya ini jamnya sudah tanggung, aku sebentar lagi mau menjemput Benji di sekolah. Mas Theo tahu sendiri, kalau ada Benji tentu kita tidak bebas bicara," usul Anggita, Anggita tidak mau saat membicarakan masalah Byantara, terdengar oleh Benji. Bagaimana juga Byantara adalah ayahnya, dan akhir-akhir ini hubungan Benji dan Byantara semakin membaik, apalagi ada ibu Darmawan yang sepertinya menjembatani hubungan Byantara dan Benji.
__ADS_1
Theo langsung setuju dengan usul Anggita, akhirnya mereka memutuskan bertemu besok.
**********
"Tuan kita mulai menemukan titik terangnya. Setelah melihat CCTV di berbagai titik, pelaku tabrak lari, sempat turun dari mobil dan menanyakan jalan yang dilalui Samuel. Kalau dilihat dari ini, sepertinya memang kecelakaan itu disengaja Tuan! Mungkin ada dalangnya, dan dalang ini sangat tahu dengan keadaan di Mansion Tuan, memang saat Samuel keluar dari Mansion Tuan, cuman hanya ada satu jalan menuju ke jalan utama!" ujar Robby melaporkan.
Byantara hanya mengangguk, tidak terlalu tertarik, pikirannya masih kacau akibat Anggita yang sepertinya menghindari dia terus.
"Kalau sudah bertemu dengan pelaku yang melakukan tabrak lari itu, maka kita bisa tahu kecelakaan itu disengaja atau tidak. Kalau disengaja kemungkinan ada dalangnya, Tuan. Ini Rizky sedang mengejar pelakunya, Tuan!" lapor Robby melanjutkan lagi.
"Baiklah! Aku harus membuktikan pada Samuel dan Anggita kalau bukan aku pelakunya! Awas saja! Akan ku habisi dalangnya!" ujar Byantara.
**********
"Mama! Kata nenek Minggu ini nenek , papa, mama dan Benji mau pergi jalan-jalan. Kata nenek sudah lama nenek sudah gak jalan-jalan!" ujar Benji pada Anggita saat mereka pulang menuju Mansion, sedangkan Bu Darmawan tidak ikut.
"Bu Darmawan sudah pesan saya untuk mempersiapkan mobil Mercedez Van itu nona Anggita, sepertinya Tuan tidak keberatan. Kalau gak ada halangan, sepertinya Sabtu ini berangkat." ujar sang sopir membenarkan ucapan Benji.
"Papa sendiri ngomong sama Benji supaya Benji ngajak mama, katanya mama lagi marah sama papa waktu Benji suruh omong sendiri," ujar Benji dengan polos, padahal ada supir di antara mereka.
Anggita langsung terdiam, entah sejak kapan Byantara mulai sering berkomunikasi dengan Benji. Rasanya dia jarang melihat Benji berkomunikasi dengan Byantara. Anggita cukup merasa aneh, apalagi sehari-hari Benji lebih banyak bersama Anggita.
"Ha-ha-ha, mungkin papa bercanda saja. Ngapain mama marahan sama papa," sahut Anggita akhirnya untuk menetralisir suasana, karena saat itu ada supir yang sedang bersama mereka.
Untungnya Benji tidak protes lagi dan mengangguk-anggukkan kepala.
__ADS_1
Dasar Mas Byan! Masak gak tahu mana yang boleh dan tidak dibicarakan dengan anak kecil!gerutu Anggita dalam hati merasa kesal dengan Byantara.
"Mama mau pergi ya? Kata nenek tempatnya bagus banget, kata nenek nanti tinggal di Villa papa," mohon Benji sambil bergelayutan manja pada Anggita.
"Tapi mama merasa aneh Benji, rasanya di rumah Benji sering di kamar sama mama, kapan Benji bisa cerita-cerita sama papa?" tanya Anggita tidak bisa menahan rasa ingin tahunya dan juga mengalihkan pertanyaan Benji. Anggita tidak mau menjawabnya saat ini.
"Benji lupa cerita sama mama! Papa suka datang ke sekolahan Benji kalau lagi jam istirahat," ujar Benji. Anggita tentu merasa kaget mendengar perkataan Benji, Anggita sungguh tidak menyangka kalau Byantara akan menyempatkan diri melihat Benji di sekolah, saat jam istirahat. Padahal jam istirahat Benji pukul sepuluh, dan jam itu juga jam sibuknya Byantara di perusahaan.
Jangan-jangan mas Byan mau mencoba merebut Benji dari ku! Aku tidak boleh membiarkan hal itu! Akulah yang merawat Benji sejak kecil! pikir Anggita yang malah menjadi curiga dengan tindakan yang dilakukan Byantara..
"Wah! Tuan muda Benji beruntung ya, punya ayah yang seperti Tuan Byantara, begitu sayang dan perhatian pada Tuan muda!" puji sang supir, yang masih menunggu lampu hijau.
"Iya dong! Namanya juga papa Benji, pasti sayang sama Benji. Benji kan anak papa!" ujar Benji dengan bangga kepada pak supir, membuat Anggita yang mendengar langsung terdiam seketika.
Dasar anak kecil! Gampang dibohongi! Byantara baru baik sedikit saja, dia sudah begitu bangga!" omel Anggita dalam hati.
**********
"Terimakasih Pak," ujar Anggita sopan pada supir yang membukakan pintu untuknya setelah mereka sampai di halaman Mansion.
"Tidak apa-apa nona, sudah kewajiban saya," sahut sang supir.
Anggita tidak sadar, dari luar gerbang seorang pria memperhatikan gerak-gerik Anggita.
Sayang agak jauh dan gak bisa lihat dengan jelas! Tapi kalau dilihat dari posturnya dan rambutnya, sepertinya perempuan ini yang diincar si Sella. Gak sabar aku menangkap wanita cantik itu! Tapi aku harus tunggu waktu yang tepat, agar aku tidak terlalu menghabiskan tenaga ku! pikir Raka yang sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan pada Anggita kalau dia berhasil menyekap Anggita.
__ADS_1
Yang jelas aku tidak akan membiarkan kau nganggur perempuan cantik. Si Sella pintar juga cari mangsa untuk ku, he-he-he! pikir Raka yang belum apa-apa sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan terhadap Anggita!
Bersambung,🌛🌛🌛🌛🌛