
"Aku mengerti Gita, Gita tidak mungkin mau diduakan," sahut Theo yang merasa statusnya menang.
"Aku sudah menceraikan Sella, aku tidak akan menduakan Gita," sahut Byantara tersenyum dingin.
"Gita sudah membenci mu, Gita tidak mencintai mu lagi Byan," Theo kali ini mengucapkan perkataan yang tepat sasaran, baru saja tadi Anggita mengakui kalau dia masih mencintai Samuel. Mendengar perkataan Theo, kali ini Byantara langsung marah dan memukul meja.
"Kau lah yang sudah membuat dia begitu! Kau sudah mengenalkan pria yang tidak tahu malu itu. Yang terus datang ke Mansion ku untuk mengejar Anggita! Kalau tidak, sampai sekarang Gita masih mencintai ku. Kau keluar sekarang dari ruangan ku! Aku tidak mau melihat mu di sini! Jangan salahkan.aku, kalau sampai aku memukuli mu!" ujar Byantara geram dan bangun dari duduknya menunjuk ke pintu, mengusir Theo.
Tanpa disuruh dua kali, Theo langsung bangun dari duduknya dan melangkah keluar. Melihat wajah Byantara yang penuh amarah sampai memerah, Theo yakin kalau dia masih memanasi Byantara terus, pasti dia benar-benar akan babak belur.
Setelah Theo keluar, Byantara langsung melakukan sambungan telpon.
"Pak Heru, pria mana pun yang mencari nona Anggita, katakan tidak ada! Termasuk Pak Theo juga! Jangan biarkan pria manapun menemui Anggita!" instruksi Byantara kepada penjaga pintu Mansion nya.
********
Sepanjang jalan pulang ke mansion, suasana hati Anggita sangat tidak tenang. Anggita mulai berpikir untuk pergi dari mansion, agar dia tidak usah bertemu dengan Byantara lagi.
Ingin mengatakannya pada Benji, tapi tidak tega melihat Benji yang begitu bahagia. Sepanjang jalan Benji dengan semangat menceritakan guru-guru di sekolah, teman-temannya dan kegiatan yang dia lakukan di sekolah.
Awalnya Anggita mendengarkan cerita Benji, tapi lama kelamaan pikiran Anggita malah beralih ke masalahnya sendiri.
Sudah saatnya aku meninggalkan mansion Darmawan, Byantara sudah bercerai dengan Sella, kapan dia akan punya anak lagi? Dia hanya membohongi ku! Dia hanya ingin mengikat aku agar berada di Mansion nya karena ada Benji!Kalau apa yang dikatakan Sella benar bahwa Mas Theo sudah bekerjasama dengan Byantara, untuk apalagi aku tinggal di sini? Gara-gara banyak masalah, aku mau menanyakan hal ini langsung pada mas Theo akhirnya sampai lupa. Tapi apa yang akan ku katakan pada Benji? Benji kelihatan sudah betah tinggal di sana, tapi aku yang stres kalau berada bersama Byantara! pikir Anggita bingung apa yang harus dia lakukan.
"Mama! Mama!" panggil Benji menyadarkan Anggita dari lamunannya.
"Maaf Benji, mama mengantuk jadi gak konsentrasi," sahut Anggita berbohong.
"Mama diminta untuk bertemu Bu guru di sekolah ," ujar Benji.
"Masalah apa Benji? Benji gak nakal kan di sekolah?" tanya Anggita.
__ADS_1
"Enggak ma, Bu guru bilang Benji pintar ma," jawab Benji mengerucutkan bibirnya ngambek, karena dituduh nakal.
"Ih ...mama kan nanya doang, jangan gampang ngambek dong Benji!" rayu Anggita tersenyum sambil mencolek pipi Benji, akhirnya Anggita lupa dengan masalahnya sendiri setelah berbincang-bincang dengan Benji.
*********
Begitu masuk ke dalam Mansion kedatangan Benji dan Anggita langsung disambut Bu Darmawan yang keadaannya sudah membaik.
"Bagaimana keadaan ibu, apakah sudah baik?" tanya Anggita.
"Jangan khawatir Gita, sesudah minum obat dan istirahat, ibu sudah lebih baik," sahut Bu Darmawan tersenyum.
"Ayo Benji , sesudah cuci tangan dan ganti baju langsung makan ya!" ajak Bu Darmawan memegang kedua bahu Benji.
"Biar Gita saja Bu yang mengurus Benji, ibu langsung ke ruang makan saja. Nanti aku dan Benji nyusul," usul Anggita yang merasa tidak enak atas kebaikan Bu Darmawan, apalagi saat ini dia sudah berpikir untuk meninggalkan mansion Darmawan.
"Tidak apa Gita, baru sebentar gak bertemu Benji saja ibu sudah kangen! Ayo Benji sama nenek, nenek mau dengar cerita Benji di sekolah!", ajak Bu Darmawan yang tetap pada keputusan nya membawa Benji ke atas untuk mengganti baju. Anggita terdiam menyaksikan Bu Darmawan yang sudah asyik mendengar cerita Benji sambil menggandeng Benji menuju ke atas.
Anggita hanya bisa menghela nafas panjang, berusaha untuk membuang kegundahan hatinya. Akhirnya Anggita memutuskan menuju ke ruang makan mempersiapkan makan siang untuknya, Benji dan Bu Darmawan.
Biarlah nanti baru kupikirkan lagi solusinya!
**********
"Robby ! Coba kau minta si Rizky untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang dialami Tuan muda Tang. Mengapa semuanya menuduh kalau aku yang melakukannya? Aku tidak terima mereka menuduh ku seenaknya saja!" instruksi Byantara.
"Siapa yang sudah berani menuduh Tuan melakukan hal seperti itu? Berani sekali mereka menuduh Tuan melakukan hal seperti itu!" sahut Robby yang tidak terima.
"Samuel sendiri mengira aku yang melakukannya!" ujar Byantara dengan wajah marah.
"Berani sekali!" gerutu Robby.
__ADS_1
"Bahkan Anggita juga mengira aku yang melakukannya!" sambung Byantara menyenderkan kepalanya ke kursi sambil menghela nafas kecewa.
"Ku (tadinya mau bilang kurang ajar)...!" Robby langsung terdiam melihat tatapan tajam Byantara ke arahnya.
"Maksud ku, aku akan segera meminta Rizky untuk mencari kebenarannya untuk membuktikan kalau Tuan Byantara tidak bersalah pada nona Anggita," ujar Robby yang segera merubah jawabannya.
"Usahakan cepat! Aku juga penasaran siapa yang sudah melakukan itu?" ujar Byantara lagi.
"Bagaimana kalau kecelakaan itu karena keteledoran Tuan Samuel sendiri?" tanya Robby.
"Juga harus kita buktikan, karena kejadian itu tidak lama setelah dia keluar dari Mansion dan tidak jauh dari Mansion ku," ujar Byantara.
"Baik Tuan," ujar Robby yang segera berjalan ke luar ruangan untuk memulai misinya.
*********
Benji sudah terlelap. Beberapa hari ini, sejak Benji mulai sekolah, belum lewat jam delapan saja Benji sudah tidur. Biasanya anak yang baru sekolah, apalagi yang seaktif Benji, pasti akan merasa lelah di awal mereka baru masuk sekolah.
Saat Anggita melihat wajah Benji yang sedang terlelap sambil mengelus kepala Benji, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Anggita segera menuju ke pintu, Anggita mengira kalau Bu Darmawan yang mengetuk pintu kamarnya. Siapa yang mengunjunginya di malam hari kalau bukan Bu Darmawan.
Anggita langsung membuka lebar pintu kamarnya dan memasang senyum, tapi begitu melihat Byantara yang berdiri di hadapannya, senyum Anggita pun perlahan menghilang.
"Sudah malam! Mau apa kau ke kamar ku?" tanya Anggita dengan ketus.
"Aku ingin melihat Benji! Sudah seharian aku tidak melihat Benji, aku kangen pada Benji," sahut Byantara yang sama sekali tidak perduli dengan sambutan Anggita yang dingin.
"Masak kau tidak tahu kalau Benji sudah tidur? Bukankah biasanya kau selalu tahu dengan keadaan kamar ku?" sindir Anggita yang teringat dengan perkataan Sella kalau Byantara sering melihat kamarnya dari CCTV.
"Apa maksud mu Gita?" tanya Byantara mulai bisa menduga kenapa tadi pagi Anggita berada di kamarnya. Byantara mulai mengerti kelakuan Sella yang sepertinya dendam kepadanya dan mulai mengadu domba orang-orang di sekitar Byantara.
"Bukankah kau selalu memonitor keadaan kamar ku bukan?" tuduh Anggita sambil memandang galak ke Byantara.
__ADS_1
Bersambung............