
"Kau mau apa?" tanya Anggita yang langsung bangun dari posisi tidurnya dan tanpa sadar mere*mas-re*mas baju depannya.
"Aku hanya ....." Belum sempat Byantara menjawab, Anggita memundurkan tubuhnya.
"Jangan dekat-dekat aku!" ujar Anggita.
"Aku hanya ingin mengecek keadaan mu," ujar Byantara yang mulai tersinggung melihat Anggita yang melihatnya seperti melihat orang yang punya sakit menular. Byantara yang keras kepala tetap mendekati Anggita yang memundurkan tubuhnya dengan posisi duduk.
"Gita!" panggil Byantara kaget ketika melihat Gita yang memundurkan tubuhnya terus dan tidak menyadari kalau dia sudah hampir berada di pinggir tempat tidur.
Byantara memilih menerjang tubuh Anggita, sehingga Anggita tubuhnya terhempas ke posisi tidur lagi. Kedua tangannya Byantara kini berada di sisi kiri dan kanan Anggita seperti membentengi Anggita, agar Anggita tidak terjatuh ke lantai.
Tapi Anggita yang sudah terlanjur berpikiran negatif pada Byantara, tentu menjadi marah ketika posisinya berada di bawah Byantara.
"Kau mau apa lagi manusia cabul!" omel Anggita dengan kedua tangannya menahan dada Byantara, Anggita takut kalau Byantara mencumbuinya lagi.
"Apa yang kau pikirkan Gita? Kalau kau mundur terus, kau bisa jatuh ke lantai!" sahut Byantara menatap wajah cantik yang berada di bawahnya itu. Tampak da*da Anggita yang masih naik turun karena kaget dengan tindakan Byantara tadi.
"Salah mu! Aku sudah bilang jangan dekat-dekat dengan aku!" omel Anggita yang membalas tatapan Byantara dengan galak dan menggigit bibir bawahnya karena kesal.
Melihat itu, Byantara akhirnya segera membuang pandangannya, Byantara merasa Anggita seperti menggoda nya dengan keadaan seperti itu.
Aku harus segera bangun dari posisi ku ini, takutnya nanti aku tidak bisa menahan diri ku sendiri untuk berbuat yang tidak-tidak! pikir Byantara yang akhirnya segera bangun dari posisinya tadi.
**********
Begitu Anggita lengah, Byantara langsung meletakkan tangannya di dahi Anggita. Anggita yang tidak menyangka pergerakan Byantara yang begitu cepat, tentu membuat Anggita kaget kembali karena saat itu dia hendak bangun dari posisinya yang terlentang di atas tempat tidur.
__ADS_1
Sepertinya dia hendak isengi aku! Dari tadi sengaja menakuti aku terus! pikir Anggita marah.
"Aduh!" teriak Byantara yang tiba-tiba merasa tangannya yang menyentuh dahi Anggita sakit. Byantara tidak menyangka kalau Anggita akan menggigit tangannya.
"Gita! Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau malah menggigit aku?" tanya Byantara dengan dahi berkerut dan memandang ke punggung tangannya yang kini tampak bekas gigitan Gita.
'Itu peringatan ku pada mu! Kau jangan sembarangan menyentuh ku!" ujar Anggita yang kini sudah duduk kembali.
"Aku hanya mengecek suhu tubuh mu Gita! Bu Tatik mengkhawatirkan kamu, katanya kau sejak tadi tidak turun dan belum makan, dia meminta aku untuk memeriksa keadaan mu. Memang kau pikir aku akan melakukan apa pada mu? Kejadian kemaren aku minta maaf, aku benar-benar tidak berbohong pada mu, aku sudah diberi obat perang*sang," ujar Byantara meminta pengertian Anggita.
"Aku tidak percaya pada mu lagi mas Byan, sejak dulu alasan mu selalu seperti ini kalau melakukan hal itu! Dasar pria mesum!" ujar Anggita yang kini mulai berpikir kalau Byantara sebenarnya pria yang suka mempermainkan perempuan.
Akhirnya habis sudah kesabaran Byantara mendengar Anggita yang terus mengatai dia pria mesum dan pria cabul sejak kemaren.
"Sepertinya kau sengaja menggoda ku Gita! Kau mengatai aku sebagai pria cabul dan mesum terus menerus. Jangan-jangan kau memang suka aku berbuat mesum pada mu!" ujar Byantara yang kini menatap ke arah Anggita dengan tatapan mengancam dan mendekati Anggita.
Ketika Anggita membalikkan badannya tampak Byantara sudah kembali berada di atasnya dengan kedua tangannya menyanggah pada tempat tidur, dan tersenyum menang.
Sekilas kenangan masa kecil saat mereka masih sering bermain bersama, berputar di pikiran Anggita. Seperti itulah mereka. Keduanya sama-sama keras dan tidak pernah mau mengalah kalau sedang bermain. Bapak atau Bu Darmawan lah yang selalu menjadi penengah mereka.
Ketika tersadar dari lamunannya, Anggita dapat merasakan jari Byantara di wajahnya, ternyata Byantara kembali menyisipkan rambut yang menutup wajah Anggita ke telinga Anggita.
"Kau selalu cantik, Gita," ujar Byantara yang terbawa suasana.
Anggita menjadi terpana mendengar perkataan Byantara. Dulu dia selalu berdandan cantik agar Byantara bisa lebih memperhatikannya dan sudah pasti berharap Byantara memujinya, kini saat dia sudah melupakan keinginannya, Byantara malah tiba-tiba memujinya, membuat Anggita bingung harus melakukan apa. Malah Anggita berpikir lebih baik Byantara besikap jahat padanya, agar dia juga bisa membalas Byantara.
*********
__ADS_1
Tapi ketika Byantara mengelus wajahnya dengan tangannya, Anggita sempat terbawa suasana, tubuhnya terasa menegang tiba-tiba, Anggita sampai menahan nafas, merasa penasaran apa yang akan dilakukan Byantara selanjutnya. Anggita tidak pernah menyangka kalau Byantara bisa bersikap selembut itu.
Tapi sebuah pikiran tiba-tiba menyadarkan Anggita dari rasa takjub dan penasarannya.
Gita! Sadarlah! Bukankah dulu dia juga begitu memperjuangkan cinta Sella, bahkan demi Sella Mas Byan selalu bersikap dingin pada ku. Tapi kini mengapa bisa dengan mudahnya dia membuang Sella. Bahkan bisa dibilang sangat tidak berperasaan. Nasib Sella dengan ku dulu sudah tidak ada bedanya! Gita kau jangan terjatuh di lubang yang sama lagi untuk kedua kalinya! Hatinya terlalu sulit ditebak! pikiran yang menyadarkan Anggita untuk memalingkan wajahnya, ketika saat dia sadar dia melihat wajah Byantara yang mendekatinya. Sepertinya Byantara juga terbawa suasana. Tapi Byantara sejak dulu selalu pantang ditolak.
Byantara menarik Anggita bangun dari posisi tidurnya. Anggita yang berpikir dia sudah keluar dari suasana penuh mistis ini, tidak menyangka Byantara malah merangkum wajahnya dengan kedua tangannya yang kini sudah bebas. Pandangan mereka sempat bertemu, Anggita merasa jantungnya yang berdebar-debar kencang.
"Gita...Aku..aku..," ujar Byantara terputus-putus, entah mengapa lidahnya terasa kelu untuk mengakui perasaan sukanya.
Apa sih yang mau dia bicarakan? Sejak kapan Byantara berbicara saja bisa ragu-ragu? pikir Anggita memandang Byantara dengan aneh.
*********
Tok! Tok! Tok! Bunyi ketukan pintu yang pertama menyadarkan Anggita, apalagi setelah itu terdengar suara Benji memanggil Anggita.
"Mama! Mama!" panggil Benji dengan tidak sabar setelah seharian berada di sekolah tanpa Anggita.
Anggita segera mendorong dada Byantara dengan kedua tangannya.
"Mas Byan! Lepaskan aku!" ujar Anggita yang membuat Byantara juga ikut sadar dan menarik kedua tangannya dari wajah Anggita
Mengapa untuk mengucapkan kata suka saja, sepertinya susah sekali keluar dari mulut ku! gerutu Byantara yang menyesal, sambil menatap punggung Anggita yang menuju ke pintu kamar dan membukanya.
Begitu pintu terbuka, Benji langsung berlari masuk menghampiri Byantara yang masih duduk di atas tempat tidur. Benji menatap marah ke Byantara sambil berkacak pinggang.
Bersambung ............
__ADS_1