Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Rahasia yang terkuak


__ADS_3

"Benji, yuk kita main di depan mansion saja!" ajak Anggita yang ingin menghirup udara segar. Anggita merasa sejak kemaren dia lebih banyak berada di kamar dan ruang tertutup, sungguh berbeda saat dia berada di Mansion nenek Tang. Nenek Tang biasanya suka berjalan pagi dan sore, otomatis membuat Anggita mengikuti nenek Tang.


Bagaimana keadaan mas Samuel? Semoga mas Sam sudah membaik, semoga mas sudah bisa melupakan aku dan menemukan gadis yang cocok dan disukai nenek Tang, pikir Anggita yang gara-gara teringat dengan nenek Tang, otomatis ingatan langsung menuju ke Samuel yang terakhir ditemuinya masih berbaring di Rumah Sakit.


Tapi Anggita sudah berjanji dalam hati untuk tidak berhubungan dengan Samuel lagi, apalagi dia juga sudah berjanji pada nenek Tang, sang penolong saat dia sedang mengalami kesulitan.


Karena keputusannya itulah akhirnya Anggita juga memblokir semua nomor telpon maupun WhatsApp Samuel, agar Samuel mau mengerti kalau Anggita tidak ingin berhubungan lagi.


********


Benji berlari girang ketika melihat kupu-kupu cantik yang melintas di ujung taman Mansion. Byantara yang menyaksikan Benji dan Anggita yang ceria dari jendela kamarnya merasa senang.


Sebetulnya Byantara ingin sekali ke bawah, tetapi Byantara terpaksa harus menahan keinginannya itu. Byantara tahu andai dia muncul di sana pasti ibu dan anak itu akan merasa tidak bebas lagi.


Sepertinya memang aku harus bersabar, perlahan aku akan mendekati Benji dulu, agar Benji bisa akrab dengan ku. Masak Samuel yang bukan apa-apa nya bisa akrab, sedangkan aku yang ayahnya kalah? pikir Byantara yang berencana akan mulai mencari buku dan melihat-lihat di google, trik untuk bisa lebih dekat dengan anak kecil.


**********


"Benji! Benji! Jangan ke sana!" panggil Anggita ketika melihat Benji membuka pintu kecil menuju danau di belakang Mansion. Dulu waktu Byantara sering bermain di belakang, tidak pernah ditutup. Tapi setelah Byantara digigit ular, Byantara yang trauma meminta sang ayah membuat pintu, dan sejak itu Byantara sudah tidak pernah bermain di dekat danau itu lagi.


"Tanggung ma!" ujar Benji yang membuka pintu itu. Anggita juga segera mengikuti Benji dari belakang. Sayang, saat Benji sampai di belakang, kupu-kupu itu sudah menghilang dan tidak kelihatan lagi. Entah menghilang ke mana.


Tapi perhatian Benji malah beralih ke danau yang banyak kecebong itu. Benji merasa takjub melihat kecebong itu, apalagi ketika melihat kecebong yang sudah tumbuh kaki.


"Mama! Ikannya ada kaki!" pekik Benji yang merasa aneh, karena selama ini Benji belum pernah melihat kecebong. Mendengar perkataan Benji, Anggita langsung tertawa.

__ADS_1


"Ha-ha-ha, itu bukan ikan Benji, itu namanya kecebong. Tumbuh kaki karena nanti kecebong ini berubah jadi katak," ujar Anggita menjelaskan


Benji mendengar penjelasan Anggita dengan serius dan kini menatap ke gerombolan kecebong itu.


"Nah, ini dia yang sudah mau jadi katak Benji! Buntutnya pun sudah hilang!" ujar Anggita sambil menunjuk ke arah kecebong yang buntutnya sudah hilang. Benji langsung berjongkok di bawah dan


memperhatikan dengan serius.


"Sudah Benji, ayo kita kembali!" ujar Anggita yang tiba-tiba teringat kalau Byantara pernah digigit ular di danau itu. Benji yang sudah puas melihat kecebong itu kali ini menurut.


Tapi Benji yang tidak sengaja menginjak rerumputan, dan tidak mengira kalau ada ular yang bersarang di sana.


"Aduh!" teriak Benji kesakitan, membuat Anggita yang menggandeng Benji kaget dan menarik Benji menjauh dari tempat yang rumputnya agak rimbun itu. Betapa kagetnya Anggita ketika melihat tiba-tiba Benji yang agak sesak nafas, dengan 2 lubang di kakinya.


Aku harus melakukannya sekarang juga sebelum racunnya menjalar! pikir Anggita yang langsung berusaha menyedot racun ular di kaki Benji dengan mulut.


**********


Byantara yang tadi sempat melihat Benji menuju ke arah danau, akhirnya memilih turun ke bawah mencari Anggita dan Benji. Tiba-tiba saja Byantara merasa khawatir, karena sudah jarang sekali ada orang yang ke danau itu. Bahkan pelayan mansion saja hanya membersihkannya saat tahun baru.


Ngapain saja sih mereka ke tempat itu lama-lama? pikir Byantara akhirnya melangkah ke pintu menuju danau. Byantara membuka pintu itu perlahan, berniat hanya ingin mengintip saja, apa yang sedang dilakukan ibu dan anak itu.


Byantara langsung menjadi kaget ketika melihat tidak jauh dari pintu, tampak Anggita yang sudah tergeletak di tanah, sedangkan Benji terlihat duduk dengan kepalanya di atas dada Anggita, dan terlihat sedang menggoyang-goyangkan lengan Anggita dengan lemah.


Byantara segera menggendong Benji terlebih dahulu, sesudah itu Byantara memanggil pelayan untuk menggendong Benji menuju ke mobil. Sesudah itu Byantara kembali lagi ke danau itu, kali ini untuk membawa Anggita yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Bu Darmawan yang diberi kabar kejadian itu oleh salah satu pelayan, langsung menuju ke mobil juga untuk ikut serta ke Rumah Sakit.


**********


Begitu sampai di Rumah Sakit langganan keluarga Darmawan, salah satu perawat langsung merujuk Anggita ke dokter yang sering menangani orang yang keracunan oleh gigitan hewan.


Byantara mengira Anggita juga digigit ular, seperti Benji walaupun Byantara tidak menemukan bekas gigitan pada tubuh Anggita.


Dokter Gunawan memeriksa Benji terlebih dahulu dan memberi tahu kalau Benji memang digigit ular, tapi jenis ularnya tidak terlalu beracun, dan sepertinya sebagian racunnya juga sudah keluar.


Ketika saat memeriksa Anggita, Dokter Gunawan memandang Anggita sambil menggeleng-gelengkan, membuat Byantara kaget seketika, karena mengira Anggita dalam keadaan berbahaya.


"Ada apa dok?" tanya Byantara dengan khawatir.


"Aduh, nona ini kok melakukan hal yang sama seperti dulu? Padahal sudah diberitahu, walaupun bisa membantu mengeluarkan racun ular, tapi tidak seluruhnya. Sekarang zaman sudah canggih, sudah tidak terlalu sulit untuk mengobati orang yang kena racun ular. Tidak perlu melakukan pertolongan seperti ini!" ujar Dokter Gunawan yang segera memberi oksigen untuk Anggita.


"Memang apa yang sudah terjadi dok?" tanya Byantara bingung.


"Beberapa tahun yang lalu, nona ini juga pernah melakukan hal yang sama, Tuan Byantara. Seorang pemuda yang membawa nona ini ke sini saat itu, kata pria itu nona ini berusaha menyedot keluar racun ular secara langsung. Sebenarnya tidak akan masalah asal tidak tertelan dan tidak ada luka di bibir nona ini, tapi dia alergi dengan salah satu zat yang terdapat dalam racun ular. Jadi nona ini pingsan karena alerginya membuat dia menjadi sesak nafas.Sekarang sudah tidak masalah, nanti juga sudah boleh langsung dibawa pulang. Cuman biarkan beristirahat dua atau tiga hari dulu, karena biasanya badannya akan lemas karena sempat kekurangan oksigen," ujar Dokter Gunawan menjelaskan dengan sabar. Dokter Gunawan masih bisa mengingat Anggita karena wajah Anggita yang cantik dan memiliki rambut panjang yang hitam. Dan setelah beberapa tahun, penampilan Anggita juga tidak berubah banyak.


Byantara mendengar dengan serius penjelasan sang dokter. Tiba-tiba sekilas pikiran melintas di kepala Byantara


Apakah beberapa tahun yang lalu, orang yang dibantu Anggita adalah aku? pikir Byantara yang memandang ke wajah Anggita yang masih pucat itu. Byantara merasa semakin bersalah ketika pikiran itu terlintas di kepalanya.


Bersambung..............

__ADS_1


__ADS_2