
Mishel tengah bersiap karena sebentar lagi supir dari keluarga calon mertuanya akan datang menjemputnya. Hari ini rencananya Mishel akan diajak menemui seorang perencana pernikahan yang akan mengurus acara pernikahan Mishel dan Marco. Meski mereka sudah sepakat jika pernikahan diadakan sederhana saja tapi orang tua Marco ingin memberikan yang terbaik untuk pernikahan putra mereka satu-satunya. Jadi yang akan mengurus acara pun dari orang-orang profesional.
Tok tok tok.
"Nak, apa kamu sudah siap? Supir ibu Ayunda sudah datang." Ibu Fira mengetuk kamar putrinya.
"Iya Bu." Mishel menyambar tas kecilnya lalu segera keluar. Tidak ada yang spesial dari penampilannya, dia hanya mengenakan pakaian sederhana namun tetap cantik.
"Hati-hati nak," ujar ibu Fira.
"Iya Bu, aku pergi sekarang." Mishel mencium punggung tangan ibunya sebelum pergi.
Bu Fira mengantarkan putrinya sampai mobil yang Mishel tumpangi meninggalkan halaman rumahnya. Dia bersyukur karena yang akan menjadi mertua putrinya adalah orang yang baik dan menerima Mishel dengan baik. Setidaknya nasib putrinya jauh lebih baik dari pada nasibnya dan ia berharap suatu saat laki-laki yang akan menjadi suami putrinya juga bisa berubah.
"Sshh ...." Ibu Fira memegangi bagian dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Ehh Bu Fira, beruntung sekali ya sebentar lagi mau punya besan orang kaya. Didikan bu Fira benar-benar hebat. Bagaimana sih caranya biar putri Bu Fira bisa menggaet anak konglomerat?" tanya salah satu tetangga rumah Bu Fira yang selama ini tidak begitu suka dengan mereka. Memang hampir semua orang di lingkungan itu tidak menyukai Bu Fira dan putrinya. Entah apa yang membuat mereka seperti itu padahal selama ini baik Bu Fira maupun Mishel selalu berusaha menjadi tetangga yang baik.
"Tidak perlu dipertanyakan jeng, sudah jelas caranya itu bagaimana bisa hamil duluan. Dia pasti mengajari putrinya dengan cara melemparkan tubuhnya pada lelaki kaya. Jika sudah hamil mau tidak mau mereka akan bertanggungjawab."
"Bener juga ya jeng, semoga saja putri-putri kita tidak seperti itu ya. Kelihatannya saja gadis baik-baik tapi sama saja seperti wanita murahan!" Mereka tidak ada hentinya menjelekkan keluarga Bu Fira. Tidak akan berhenti sebelum melihat Bu Fira dan putrinya menderita. Seakan mereka sangat senang jika penderitaan menghampiri mereka.
Bu Fira tidak menanggapi ucapan mereka, jika dulu mungkin dia akan langsung membela diri tapi lama kelamaan dia merasa lelah menghadapi mereka yang tidak ada habisnya mencari-cari kesalahan orang lain. Seakan dirinya sendiri adalah manusia yang paling suci di dunia ini.
Bu Fira memilih masuk ie dalam rumah kecilnya sambari memegangi dadanya. Nafasnya tersengal dan terasa nyeri. Dia lantas pergi ke dapur untuk mengambil minum.
...
__ADS_1
Mishel tampak tak tenang saat dia duduk di dalam mobil mewah itu. Meski kursinya begitu nyaman, jauh lebih nyaman dari pada kursi kendaraan umum yang sering dia tumpangi tapi di dalam mobil itu dia justru gelisah dan tidak tenang. Walaupun sudah berusaha untuk tidak takut tapi tetap saja dia takut jika nanti di rumah calon mertuanya, dia akan bertemu dengan pria itu. Karena sampai sekarang pun dia masih mengingat jelas bagaimana saat pria itu mengoyak mahkotanya.
Mishel berusaha menenangkan pikirannya dengan mengalihkan perhatian pada pemandangan di luar jendela. Walaupun secuil pun perasaan takut itu tidak berkurang.
"Nona, kita sudah sampai," ujar pak supir yang menjemput Mishel ketiga mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan kediaman keluarga tuan Gerry.
Mishel yang sedang melamun pun terkesiap. Dia melamun sampai tidak sadar kalau sekarang dia sudah ada di depan rumah besar itu.
"Iya Pak, terimakasih." ujar Mishel yang kemudian menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia membuka pintu mobil. Dia berharap laki-laki itu tidak ada di rumah sekarang.
Kedatangan Mishel sudah ditunggu ibu Ayunda dan temannya yang akan mengurus acara pernikahan putranya. Sejak tadi wanita itu tak berhenti menceritakan bagaimana calon menantunya.
"Permisi Nyonya, Nona Mishel sudah datang." Kepala pelayan yang mengantar langsung Mishel pada mereka.
"Mishel ... sini nak." Ibu Ayunda bangun dan memeluk Mishel penuh kasih sayang. "Duduklah."
"Iya Mah," ujar Mishel yang masih merasa canggung dengan panggilan itu. Dia pun duduk dengan mereka.
"Iya Ca, dia calon menantu ku. Aku beruntung mendapatkan calon menantu seperti Mishel."
Mishel tersenyum tipis, dia merasa malu dan tidak pantas dibanggakan karena dia hanya wanita kotor yang bahkan hamil diluar nikah. Dia merasa sudah menjadi pendosa.
"Aku juga bisa melihatnya kalau dia terlihat sangat tulus dan sabar. Aku juga setuju, sepertinya dia sangat cocok untuk putramu." Ica sudah mendengar bagaimana kelakuan sebenarnya putra dari temannya. awalnya dia juga tidak percaya karena putranya juga berteman dengan putra Ayunda dan selama ini dia tidak pernah mendengar hal buruk apapun tentang Marco. Sampai dia dihubungi Ayunda dan dia terkejut saat mendengar Marco akan menikah karena telah menghamili seorang gadis baik-baik.
Ibu Ayunda pun mengusap punggung tangan Mishel seraya tersenyum. Dia seperti sangat berharap pada calon menantunya itu untuk mengembalikan putranya seperti sedia kala.
Pembicaraan pun berlanjut dan mereka memilih beberapa pilihan konsep pernikahan.
__ADS_1
"Bagaimana nak, kamu suka? Atau kamu mau yang lain, katakan saja seperti apa pernikahan impianmu nak?" tanya ibu Ayunda.
"Aku suka pilihan Mamah, yang ini saja." Mishel tentu tidak berani untuk meminta lebih. Dia juga tidak pernah memimpikan pernikahan yang megah bak negeri dongeng sebelumnya karena hal itu tentu tidak akan pernah terjadi pada dirinya, begitu yang dia pikirkan dulu.
"Tidak apa-apa kalau kamu mau konsep yang lain nak, katakan saja ya. Kamu yang akan menikah dan buatlah hari pernikahanmu berkesan."
"Iya Mah, aku juga suka dengan pilihan mamah yang tadi," ujar Mishel, apa yang dipilih oleh calon mertuanya memang cocok dengan seleranya yang tidak ingin berlebihan.
"Baiklah, baiklah. Kita pilih yang ini. Tapi nanti jika kamu ingin sesuatu yang berbeda katakan saja pada Mamah ya."
Mishel pun mengangguk. Dia kemudian memindai setiap sudut rumah itu. sejak tadi dia tidak melihat pria itu ada di sana. Memang apa yang dia harapkan, pria itu bahkan tidak sedikit berminat dengan pernikahan mereka.
Seperti tau apa yang Mishel pikirkan, ibu Ayunda pun menjelaskan jika putranya tidak bisa ikut memilih karena ada rapat penting yang harus dihadiri.
"Maaf ya nak, Mamah akan menyuruh dia agar mengurangi pekerjaannya agar bisa fokus pada pernikahan kalian dan tentunya lebih bisa memperhatikan kamu dan calon cucu mamah."
"Tidak apa-apa Mah." Justru Mishel lebih lega jika tidak ada pria itu di sana.
"Oh ya, berapa umur kandungannya kalau Tante boleh tau?"
"Sekitar lima Minggu Tante," jawab Mishel.
"Waahh sedang masa berat-beratnya, dulu Tante bahkan sampai tidak bisa kemana-mana saat hamil. Mual dan muntah jika mencium sesuatu yang menyengat."
"Oh ya Ca. Mishel ini juga mual dan muntah ya nak. Kata ibunya sampai tidak bisa makan kalau pagi. Apa kau tau bagaimana cara mengatasinya? Aku khawatir dengan keadaan ibu dan janinnya. Lihatlah dia sangat kurus begini." Ibu Ayunda mengusap lengan Mishel yang terasa sangat kecil.
"Tidak apa-apa, itu wajah selama tiga bulan awal kehamilan. Yang penting kamu harus tetap makan apa saja yang bisa di makan. Tetap usahakan sesuatu masuk ke dalam perut demi pertumbuhan janinnya. Yang paling penting jangan banyak pikiran, perhatian dari orang-orang sekitar terutama ayah dari anak kita. Itu yang akan sangat mempengaruhi mood ibu hamil."
__ADS_1
"Benar Ca, dulu aku juga sangat manja pada papahnya Marco saat hamil. Tidak ingin ditinggal lama-lama. Nanti aku akan menyuruh Marco agar lebih memperhatikan kamu ya nak. Mamah ingin kamu menikmati masa kehamilanmu dan bahagia," ujar ibu Ayunda yang kini mengusap perut Mishel yang masih rata.
Ah itu sungguh tidak perlu, Mishel rasanya ingin mengatakan hal itu tapi tidak enak pada mereka.