Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Belajar romantis 2


__ADS_3

Kalau mau jujur Anggita sudah pasti terpengaruh dengan sikap Byantara akhir-akhir ini. Byantara adalah cinta pertamanya dan membuat dia begitu terobsesi untuk menikah dengan Byantara.


Anggita terdiam dan menatap tangannya yang berada di genggaman Byantara, kemudian berpindah ke wajah Byantara dengan bingung. Anggita merasa hatinya berdesir ketika merasakan bulu-bulu kasar di dagu Byantara menggelitik punggung tangannya.


Dalam kamus Byantara, dalam mempelajari sesuatu harus cepat. Apalagi Byantara sejak dulu memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Melihat Anggita yang sepertinya terpengaruh dengan perbuatannya dan bibir yang dari tadi selalu mengucapkan kata-kata yang tajam dan menyindirnya itu terbuka sedikit, akhirnya Byantara tergoda untuk melanjutkan misinya. Kali ini bukan dari Mbah google lagi ya, tapi insting sebagai pria.


Byantara dengan cepat merubah posisinya menjadi berlutut, agar tingginya seimbang dengan Anggita yang masih duduk di kursi. Melihat Anggita yang sepertinya bingung, Byantara tidak memberi kesempatan pada Anggita untuk berpikir panjang lagi. Ketika dia merubah posisi, Byantara langsung menyergap bibir yang setengah terbuka itu dan menuangkan rasa gemasnya pada Anggita yang dari tadi selalu menjawab perkataannya dengan sinis.


Byantara tidak memberikan kesempatan pada Anggita yang hendak memundurkan wajahnya. Sebelah tangannya yang tadi berada di bahu Anggita kini berpindah , menahan tengkuk Anggita membuat Anggita tidak bisa menghindar lagi.


Anggita yang minim pengalaman, walaupun sudah memiliki Benji, kali ini benar-benar tidak bisa menolak Byantara lagi, bahkan lama-kelamaan Anggita juga terpengaruh, membiarkan Byantara menci*umnya dengan panas.


Prang! suara piring jatuh mengagetkan keduanya, Anggita yang tersadar dulu, dengan cepat mendorong dada Byantara agar menjauhinya.


Ketika melihat seorang pelayan muda yang masih berdiri di pintu ruang makan dengan kikuk, Anggita benar-benar merasa malu dan seluruh wajahnya bagaikan terbakar.


"Ma...Maaf," ujar pelayan itu dengan suara bergetar, apalagi ketika melihat sang Tuan yang sudah bangun dari posisinya dan menatap ke arahnya dengan mengancam.


Aduh! Habislah aku, tapi mengapa mereka melakukannya di ruang makan, aku mana tahu? gumam pelayan itu dalam hati ketakutan.


Anggita rasanya ingin segera menghilang dari ruangan itu, menghindari Byantara yang sudah membuat hatinya porak poranda dan juga sang pelayan yang membuatnya malu karena tertangkap basah dengan keadaan memalukan.


Dengan kedua tangannya Anggita menekan kedua pipinya, menghampiri Byantara tapi tidak menatap Byantara sama sekali, hanya melihat ke ujung kaki nya saja.


"Kau jangan memecat pelayan itu, bukan salahnya!" ujar Anggita, setelah itu langsung membalikkan badan meninggalkan ruang makan. Anggita yakin Byantara bisa saja memecat sang pelayan karena sudah mengganggu kegiatan mereka. Anggita tidak tega ketika melihat wajah pucat pasi itu.


"Bersihkan saja, takutnya pecahan nya terinjak yang lain!" pesan Anggita pada pelayan itu sebelum berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.


"Iya nona, terimakasih," ujar pelayan itu dengan sigap, segera mengambil sapu untuk membersihkan pecahan piring itu.


Tidak berapa lama kemudian, Byantara juga menyusul keluar, tapi sempat-sempatnya memandang kesal ke arah pelayan itu.


"Huh! Mengganggu saja!" gerutu Byantara. Sedangkan pelayan itu cepat-cepat menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Untung nona Anggita baik dan pengertian, tidak seperti tuan Byantara. Sudah tahu ini tempat makan, malah acara sedot-sedotan di sini, kayak gak ada tempat lain saja! Kan sudah tugas ku tiap hari membersihkan ruang makan jam segini, gerutu pelayan muda itu.


Mengapa aku tadi tidak merayu Anggita di ruangan yang tepat?sesal Byantara. Mau melampiaskan kemarahannya pada sang pelayan juga sudah tidak mungkin, Anggita sudah berpesan tidak boleh memecat pelayan itu. Untuk mengambil hati Anggita Byantara mau tidak mau harus menuruti keinginan Anggita!


********


Anggita merasa tidak enak badan keesokkan paginya, Bu Darmawan yang berinisiatif mengantar Benji dan Anggita kali ini langsung setuju.


Byantara cukup kecewa saat sarapan tidak melihat keberadaan Anggita, Byantara mengira gara-gara perbuatannya kemaren sudah membuat Anggita ingin menghindarinya.


"Gita di mana Bu?" tanya Byantara.


"Sepertinya tidak enak badan, kau tidak usah khawatir, ibu sudah meminta pelayan untuk mengantarkan sarapan ke kamarnya," ujar Bu Darmawan.


Byantara sebenarnya ingin melihat keadaan Anggita, tapi Byantara khawatir kalau dia malah akan membuat Anggita marah karena perbuatannya kemaren, akhirnya setelah Bu Darmawan dan Benji berangkat, Byantara kembali ke kamarnya.


Byantara membuka laptopnya dan melihat keadaan Anggita dari CCTV. Byantara memang memasang kembali program CCTV di kamar Anggita kembali. (licik ya😁😁).


Tampak Anggita masih duduk di atas tempat tidur dan sedang makan. Byantara cukup merasa aneh dengan sifat Anggita, biasanya Anggita perempuan yang aktif.


**********


Anggita merasa mual setelah menghabiskan sarapan yang di antar pelayan. Anggita segera menuju ke jendela dan membuka jendela itu. Anggita mengira karena tadi pagi dia lupa membuka jendela, sehingga kamarnya terasa pengap setelah mematikan AC.


Anggita melihat Byantara yang sedang bersiap-siap ke perusahaan. Tanpa sadar Anggita memperhatikan Byantara yang masuk ke mobilnya, dan sepertinya Byantara membawa mobil sendiri.


Dulu Anggita paling suka melihat Byantara berangkat kerja dari jendela kamarnya, dulu dia merasa Byantara begitu tampan dan keren kalau sedang memakai kemeja dan celana kain, baju khas orang kantor, apalagi saat Byantara memakai jas saat ada acara resmi perusahaan.


Aduh pikir apa aku? tegur Anggita pada dirinya sendiri, Anggita akhirnya mengalihkan perhatiannya dan menghirup udara segar. Setelah merasa lebih enak, Anggita kembali duduk diatas tempat tidurnya.


**********


Kok badan ku rasanya malas sekali? Apa tidak sebaiknya aku ke dokter? pikir Anggita yang merasa badannya tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Suasana hening membuat Anggita terbayang kembali Byantara yang menci*umnya dengan panas kemaren.


Kok bisa-bisanya aku memikirkan mas Byan lagi! omel Anggita berusaha membuang jauh-jauh pikirannya tentang Byantara yang terus merasuki otaknya. Tetapi semakin ingin membuang pikirannya tentang Byantara, Anggita malah terpikir kejadian di mana malam itu Byantara menidurinya. Hal yang membuat Anggita merasa kaget tiba-tiba.


Aduh, rasanya sudah lama aku tidak kedatangan tamu bulanan! pikir Anggita yang mulai cemas dan mere*mas-re*mas tangannya sendiri.


Tiba-tiba bunyi telpon masuk membuat Anggita teralih perhatiannya, ketika melihat siapa yang menelpon masuk.


"Ada apa mas Theo?" tanya Anggita langsung begitu mengangkat telpon.


"Jadi ketemuan tidak?"


"Baiklah mas, jangan jauh-jauh ya!" ujar Anggita yang berpikir untuk keluar menghirup udara segar dan mengusir rasa cemas di hatinya


Setelah Theo menyebutkan tempat bertemu, Anggita pun mempersiapkan diri. Theo berjanji akan tiba di tempat pertemuan setengah jam lagi.


**********


Anggita memutuskan untuk naik kendaraan online, kebetulan pak supir sedang mengantar Bu Darmawan dan Benji belum kembali.


"Nona mau ke mana?" tanya sang penjaga pintu Mansion. Setidaknya dia tahu kalau ada yang menanyakan keberadaan Anggita, apalagi kalau yang bertanya Byantara.


"Ingin pergi ke pasar yang dekat pak!" ujar Anggita berbohong.


"Naik apa nona? Tidak tunggu pak Supir kembali saja?"


"Tidak pak, cepat kok! Saya pesan kendaraan online saja," sahut Anggita tersenyum.


"Baik nona Anggita, hati-hati."


**********


Ha-ha-ha! Akhirnya bidadari keluar dari sarangnya!" sorak Raka senang ketika melihat bayangan yang sudah dia tunggu-tunggu selama dua hari!

__ADS_1


Bersambung............


__ADS_2