
"Apakah aku bisa mempercayai perkataan mu, nona Sella?" tanya Samuel yang sikapnya tiba-tiba berubah tenang lagi.
Sella menatap aneh ke Samuel.
Astaga! Pria ini seperti bunglon, perasaan tadi lagi marah, kok tiba-tiba tenang lagi? Masak aku bilang perempuan yang disukainya diperko*sa, dia masih bisa tenang begitu? Dasar pria pengecut! Mungkin dia takut pada Byantara, sungut Sella dengan kesal dalam hati, dia merasa usahanya menjadi sia-sia kalau Samuel takut pada Byantara.
"Tentu kau bisa percaya ucapan ku Tuan Samuel, kalau tidak kau pikir saja, buat apa aku minta cerai dari Byantara?" ujar Sella.
"Baiklah nona Sella, terimakasih untuk informasi yang nona berikan," ujar Samuel yang masih terlihat tenang, kini malah sambil menyeruput kopinya.
"Terus apa yang akan Tuan lakukan?" tanya Sella penasaran.
"Tidak ada! Anggita yang sudah memutuskan untuk kembali ke mansion Darmawan sendiri, jadi apa pun yang terjadi itu sudah menjadi resiko Anggita sendiri," ujar Samuel lagi.
"Ku beritahu pada mu Tuan Samuel, sebenarnya Anggita sudah dijebak. Theo dan Byantara yang sudah bekerjasama menjebak Anggita hingga mau kembali tinggal di Mansion Darmawan lagi!" ujar Sella yang masih belum menyerah dan masih menghasut Samuel agar emosi.
Mendengar perkataan Sella. Samuel terdiam sejenak, dahinya terlihat berkerut sepertinya sedang berpikir.
"Kata mu kau mencintai Anggita, tapi kenapa kau tidak berusaha sedikit pun untuk membawa Anggita keluar dari tempat jahanam itu?" tanya Sella dengan menggebu-gebu ketika melihat Samuel masih diam.
Melihat tindakan Sella, Samuel pun semakin yakin kalau Sella mempunyai dendam dengan Byantara. Samuel tidak mau dijadikan pion oleh Sella. Kalau pun dia mau bertindak apapun, Samuel tidak mau sampai diketahui Sella.
"Anggita adalah perempuan dewasa, dia bisa memutuskan mana yang baik untuk dia dan mana yang buruk!" sahut Samuel lagi dengan tenang.
Akhirnya habis sudah kesabaran Sella, Sella tidak tahu kalau Samuel pria yang berpikiran tenang dan sabar, tidak mudah dipengaruhi.
"Dasar laki-laki tidak berguna! Pengecut! Pantas saja kau kalah dengan Byantara! Cih!" ujar Sella dengan menghina, sangking kesalnya Sella mengambil gelas kopinya dan langsung meneguknya habis dalam satu tegukan sampai terbatuk-batuk.
__ADS_1
Dengan kasar Sella meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke meja dan melotot marah ke Samuel.
"Waktu ku habis hanya untuk pria pengecut seperti mu saja! Kau yang bayar kopinya! Kau sudah menghabiskan waktu ku sia-sia!" ujar Sella yang masih tidak puas.
Samuel hanya melipat tangannya di dada dan memandangi Sella yang mencak-mencak di hadapannya dengan santai. Samuel memandang sampai Sella keluar dari Coffe shop dan tidak berapa lama kemudian Sella masuk ke kendaraan online yang dipesannya.
Setelah bayangan mobil itu menghilang, Samuel juga bangun dari duduknya dan membayar di kasir.
Kalaupun aku menghabisi Byantara, kau tidak perlu tahu! Suami dan istri sama-sama gila!" gerutu Samuel mengepalkan tangannya geram. Setelah itu Samuel masuk ke mobil, dan mobilnya kembali diarahkan ke Mansion Darmawan. Siapa tahu Anggita kembali ke Mansion setelah mengantar Benji!
**********
Begitu merasakan nafas hangat menghembus wajahnya, Anggita segera memalingkan wajahnya, agar menjauh dari Byantara.
Sebenarnya Byantara hanya bermain-main dengan Anggita dan tidak bermaksud apa-apa, tapi begitu melihat Anggita yang melihatnya seperti melihat orang yang mempunyai sakit menular, perasaan sang Sultan pun tersinggung.
Byantara melepaskan pergelangan tangan Anggita, kini tangannya menangkap dagu Anggita untuk menghadap ke arahnya.
"Pandanglah aku, apakah aku begitu menjijikkan hingga kau harus menghindari ku terus Gita?" tanya Byantara.
"Aku tidak mau! Aku benci pada mu, aku tidak suka melihat wajah mu!" balas Anggita.
Huh! Enaknya saja perintah-perintah! Mengapa aku harus menurut padanya? Dia saja bebas masuk kamar ku, aku masuk kamarnya sekali saja tidak boleh! pikir Anggita yang malah memejamkan matanya, menentang keinginan Byantara, karena saat Anggita mau memalingkan wajahnya tidak bisa, kedua tangan Byantara menangkap wajah Anggita.
Anggita yang sedang emosi dan jantungnya yang berdebar kencang sejak tertangkap basah masuk ke kamar Byantara, sampai tidak sadar kalau kedua tangannya sebenarnya sudah dilepaskan, harusnya dia bisa mencoba mendorong Byantara dengan kedua tangannya yang bebas itu.
"Buka mata mu! Kalau tidak aku akan melakukan sesuatu pada mu, kau jangan menyalahkan aku! Satu...dua...tiga!" ancam Byantara, tapi ternyata Anggita yang keras kepala sama sekali tidak perduli dan masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Huh! memangnya apa yang bisa dia lakukan pada ku? Masak dia mau memukul seorang perempuan? pikir Anggita yang tidak perduli dan melanjutkan aksinya, tidak mau melihat wajah yang membuatnya sebal.
"Kau sungguh kekanak kan Gita!" gerutu Byantara tidak bisa menahan keinginannya lagi melihat wajah Anggita yang membuatnya gemas.
Byantara langsung mendekatkan wajahnya dan mengu*lum bibir Anggita, Anggita yang tiba-tiba merasa sentuhan bibir Byantara merasa kaget dan membelalakkan matanya melihat wajah Byantara yang begitu dekat dengannya, Anggita tidak menyangka kalau Byantara akan menci*umnya.
Anggita tidak dibiarkan memberontak dan menghindar, sebelah tangan Byantara menekan tengkuk Anggita sedangkan sebelahnya lagi memeluk erat pinggang Anggita sehingga Anggita tidak bisa bergerak.
Perlahan Anggita terpengaruh dan perlawanannya menjadi berkurang, apalagi Byantara menci*umnya dengan lembut.
Tanpa sadar impian masa lalu hadir di pikiran Anggita, dulu dia begitu menginginkan Byantara memperlakukannya seperti itu, setelah dia menonton film percintaan romantis. Tapi setelah menikah, tidak pernah sekalipun Byantara bersikap romantis dan memperlakukannya seperti itu. Hanya di malam itu saat Byantara dipengaruhi obat, lagipula saat itu Byantara begitu bernaf*su dan sama sekali tidak melakukannya dengan lembut seperti saat ini.
Hal itu akhirnya membuat Anggita lupa melakukan perlawanan lagi, Anggita malah seperti remaja yang baru di masa puber, ingin mencoba dan ingin tahu rasanya.
**********
Samuel yang kembali ke Mansion Darmawan untuk menemui Anggita melihat mobil Byantara yang berada di halaman Mansion. Setelah sekali melihat mobil Byantara, Samuel langsung bisa mengenali mobil limited edition itu.
Penjaga gerbang kali ini sudah mengenali Samuel yang bertubuh tinggi dan berwajah tampan oriental, tanpa ditanya sang penjaga langsung memberitahu kalau Anggita tidak ada di tempat. Hal yang membuat Samuel menjadi curiga.
Jangan-jangan Byantara mencegah ku untuk menemui Anggita, karena dia ingin menghalang hubungan ku dengan Anggita, pikir Samuel.
"Maaf pak, saya mau bertemu dengan Tuan Byantara, mau membicarakan masalah bisnis, bukan menemui nona Anggita," ujar Samuel yang memang sudah merubah rencana, Samuel kali ini memang ingin menemui Byantara.
Samuel ingin segera membawa Anggita pergi dari Mansion itu.
Bersambung๐๐๐๐๐
__ADS_1