Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 27


__ADS_3

Di luar Marco duduk di depan kamar rawat itu sendirian sambil memikirkan apa yang baru dia dengar. Perlahan sepertinya hatinya mulai goyah melihat wanita itu. Apalagi saat tadi dia menggendongnya, wajahnya terlihat pucat dan kesakitan.


Dia saat yang bersamaan, Ayunda dan suaminya tiba di rumah sakit. Tadi dia mendengar kabar itu dari Marco. Awalnya mereka cukup terkejut dan mengira Marco lah yang menjadi penyebab keadaan Mishel jadi seperti itu. Tapi Marco mengatakan yang sebenarnya, dia sedang berlari pagi dan melihat Mishel pingsan. Mereka berusaha untuk tidak berpikir negatif dan mengeceknya terlebih dahulu ke rumah sakit.


"Itu bukannya putra kita, Pah?" tanya Ayunda seraya menunjuk seseorang yang sedang duduk tertunduk sendirian.


"Ya itu Marco, ayo kita ke sana."


Mereka berdua pun menghampiri Marco. Mereka melihat wajah putranya yang seperti banyak masalah dan dipikirkan.


"Marco, kenapa kau di sini? Di mana Mishel dirawat?" tanya Ayunda.


"Mah, Pah, kalian sudah datang." Marco berdiri melihat kedua orangtuanya datang. "Kamarnya di sana, kalian bisa melihatnya."


"Apa kata dokter nak, tidak terjadi sesuatu pada Mishel dan bayinya kan?"

__ADS_1


"Mereka baik-baik saja Mah. Kata dokter dia hanya terlalu lelah. Sepertinya dia kelelahan karena berjualan di taman tadi pagi," jawab Marco.


"Syukurlah, mamah sangat cemas. Terimakasih kamu sudah membawanya ke rumah sakit tepat waktu. Kalau begitu mamah akan melihat keadaan Mishel lebih dulu." Ayunda pamit masuk melihat keadaan Mishel. Menyisakan Marco dan Gerry, sepasang ayah dan anak itu terdiam beberapa saat sampai Ayunda hilang ditelan pintu.


"Apa kau sengaja pergi berlari pagi untuk melihat Mishel?" tanya Gerry.


"Pah, dia pingsan bukan karena aku. Apa papah curiga padaku?" Marco heran dibuatnya.


"Papah bukan sedang menyalahkan mu, papah ingin bertanya apa saja yang sudah kamu lihat. Apa kamu melihat dia bekerja keras? Bagaimana menurutmu, dia berbeda dengan wanita yang biasa bersamamu kan?" tanya Gerry.


"Coba kamu lebih mengenalnya, kamu pasti akan lebih tau bagaimana kepribadiannya," ujar Gerry memberi saran.


"Bukankah sudah terlambat Pah. Sebentar lagi dia akan melahirkan dan aku baru mau memahaminya sekarang. Bukankah sudah terlambat," ucap Marco penuh penyesalan.


"Tidak ada kata terlambat. Kamu tidak akan tau sebelum mencobanya. Mishel, dia memiliki hati yang sangat baik. Papah yakin dia akan memberi mu kesempatan."

__ADS_1


"Bagaimana kalau tidak? Apa aku akan kehilangan mereka?" Yang Marco Maksud adalah Mishel dan anak yang ada dalam kandungannya.


"Apa sekarang kamu takut kehilangan mereka, apa artinya kamu tidak lagi meragukan anak itu?"


"Entahlah Pah, hanya saja saat tadi aku menyentuh perutnya seperti ada perasaan yang berkecamuk dalam hatiku. Aku berusaha mengelak tapi perasaan itu semakin kuat apalagi saat aku merasakan gerakan kecil disana, hatiku tiba-tiba berdebar." Marco memang sempat memegang perut Mishel saat dia sedang menunggu wanita itu tadi. Awalnya dia hanya penasaran, akhirnya setelah memberanikan diri dia meletakkan telapak tangannya di atas perut Mishel.


Gerry tersenyum pada sang putra. "Sepertinya anak itu sedang berusaha menunjukkan jika keberadaannya itu ada. Dia adalah anakmu. Setelah dia lahir nanti papah yakin perasaan mu akan lebih aneh lagi, tidak akan bisa dijabarkan dengan kata-kata. Bagaimana rasanya melihat darah daging kita lahir ke dunia. Kamu akan merasakannya nanti. Papah masuk dulu, apa kau mau masuk ke dalam?"


"Papah duluan," sahut Marco.


"Baiklah, gunakan kesempatan yang ada sebaik mungkin. Jangan sampai kamu menyesal setelah mereka tidak bisa lagi kamu raih. Coba kamu bayangkan bagaimana jika Mishel bertemu dengan laki-laki yang mencintainya dan mau menerima keadaannya serta anaknya. Apa kamu yakin bisa menerima itu? Papah dan Mamah tidak akan bisa mencegah jika suatu saat Mishel menemukan laki-laki baik yang mencintainya karena dia juga berhak bahagia. Karena kamu tidak bisa membahagiakannya. Pikirkanlah."


Marco membayangkan hal itu, dia seolah melihat Mishel hidup bahagia dengan seorang pria dan anaknya pun memanggil pria itu papah.


"Shiitt!! Kenapa rasanya membuat aku kesal." Dia menendang sebuah tong sampah di depannya hingga berbunyi dan semua orang yang kebetulan lewat pun melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2