
Tadi saat Benji meminta pergi ke mini market di dekat Mansion Darmawan untuk membeli keperluan sekolah besok, Anggita langsung menggunakan kesempatan yang ada untuk membeli test pack. Dugaan Anggita ternyata benar, test pack itu menunjukkan dua garis merah.
"Mas Byan! Kalau kau tidak kembali ke kamar mu sekarang, aku akan marah!" ancam Anggita menunduk melihat tubuhnya yang hanya terbungkus handuk. Mau tidak mau memori kejadian handuknya yang terlepas di hadapan Byantara teringat kembali dan membuat Anggita merasa malu.
"Aku segera kembali kalau kau menunjukkan apa yang kau sembunyikan di belakang punggung mu." tawar Byantara.
"Ini kamar ku mas Byan! Kau tidak boleh seenaknya masuk dan memaksakan kehendak mu! Aku juga punya privasi, ku harap mas Byan bisa menghargai privasi ku!" sahut Anggita berusaha sabar.
"Baiklah," ujar Byantara akhirnya terlihat seperti akan meninggalkan kamar Anggita. Anggita baru saja bernafas lega, tapi tiba-tiba Byantara membalikkan badannya kembali dan langsung memeluk Anggita. Anggita yang kaget, lsebelah tangannya dengan reflek memegang handuknya. Anggita khawatir kejadian memalukan itu akan terulang kembali.
Ternyata kelakuan Anggita tadi malah membuat Byantara semakin penasaran. Yang namanya Byantara itu pantang menyerah, apa yang dia inginkan harus dia peroleh.
Biarlah Anggita mau marah, itu urusan belakang, nanti tinggal aku rayu lagi, putus Byantara nekad.
Kali ini Anggita kalah sudah, Byantara memeluk Anggita dengan tujuan mengambil barang yang disembunyikan Anggita. Setelah berhasil memperoleh barang yang dia inginkan, Byantara langsung berdiri menjauhi Anggita dan memperhatikan test pack yang berhasil dia rebut itu dengan bingung.
"Mas Byan bohong! Kembalikan pada ku! Mengapa kau merebut barang milik ku? tanya Anggita yang langsung bangun dari duduknya dengan kesal, sampai matanya mengeluarkan air mata, karena dia merasa sudah ditipu Byantara.
"Apakah..apakah kau hamil Gita?" tanya Byantara kaget.
Bagaimanapun aku sudah hamil, dan ini anak mas Byan, pada akhirnya aku juga harus memberitahunya, putus Anggita yang sempat terdiam sejenak. Akhirnya Anggita mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Byantara. Padahal tadinya dia masih mempertimbangkan apakah akan memberitahukan kehamilannya pada Byantara atau tidak.
"Anak siapa?" tanya Byantara langsung, tanpa berpikir panjang. Mendengar pertanyaan Byantara, kali ini Anggita benar-benar marah. Anggita langsung mengambil sebuah botol kosmetik yang posisinya paling dekat dengannya dan melempar botol itu ke arah Byantara dengan marah. Untung reflek Byantara cepat sehingga berhasil menangkap botol yang mengarah ke wajahnya itu.
__ADS_1
"Keluar dari kamar ku sekarang! Kau tidak berhak mengurus masalah pribadi ku sendiri! Aku kini bukan istri mu lagi, aku mau hamil anak siapa saja, itu suka-suka aku!" omel Anggita dengan sakit hati. Setelah itu Anggita menghampiri Byantara dan merebut test packnya kembali.
Anggita langsung menuju ke lemari dan mengambil baju ganti, sesudah itu langsung menuju ke kamar mandi untuk memakai baju nya, Anggita sama sekali tidak memperdulikan Byantara lagi, yang berdiri diam seperti patung.
**********
Saat Anggita keluar dari kamar mandi, Byantara sudah tidak ada lagi di kamarnya, sepertinya Byantara sudah kembali ke kamarnya sendiri.
Anggita langsung menuju ke tempat tidurnya, tanpa sadar air mata yang dia tahan tadi, langsung berlomba-lomba keluar. Anggita benar-benar kecewa dan marah dengan pertanyaan Byantara.
Akhirnya Anggita tidak bisa menahan kesesakan hatinya dan menangis tersedu-sedu, bahkan dia sudah lupa dengan Benji yang sedang tidur. Untung Benji tidak terbangun oleh tangisan Anggita.
**********
Bukankah dia juga pernah meniduri Anggita dengan paksa?
Mengapa tadi yang muncul di pikirannya hanya rasa cemburu, membuat dia tidak bisa berpikiran jernih dan berprasangka buruk? Yang pertama muncul malah rekaman Sella, saat Anggita dipeluk Samuel! Mengapa Anggita harus menyembunyikan hasil test packnya dan tidak ingin memperlihatkan padanya, kalau memang itu adalah anaknya?
Gita! Mengapa sejak dulu susah sekali menebak isi hati mu? Aku benar-benar bodoh soal perasaan perempuan. Tapi tadi melihat mata Anggita yang terluka, sepertinya dia sangat marah dan kecewa pada ku! Matanya sama dengan dulu, saat aku menuduh kalau bayi di perutnya bukan anak ku! Mengapa aku tidak bisa mengerem mulut ku sendiri. Jangan-jangan Anggita hamil anak ku! pikir Byantara tiba-tiba sadar.
Aku pasti sudah menyakiti hatinya kembali! sesal Byantara akhirnya memutuskan menyalakan laptopnya dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Anggita.
Byantara merasa hatinya menjadi sakit, ketika melihat Anggita yang sedang menangis dengan begitu sedih, dengan kedua punggung tangannya Anggita menghapus air matanya.
__ADS_1
Aku kembali menyakiti hati Anggita saat dia hamil untuk kedua kalinya. Hari ini aku kembali mengulang kejadian itu. Aku sungguh bodoh! sesal Byantara yang memukul kepalanya sendiri karena menyesal.
Aku harus menyelesaikan masalah ini, tidak boleh membiarkannya menjadi salah paham berkepanjangan lagi seperti dulu! putus Byantara yang segera bangun dari bangkunya dan kembali menuju ke kamar Anggita.
***********
Byantara kembali ke kamar Anggita, kali ini Byantara membuka pintu tembusan dengan perlahan dan mengendap-endap.
Anggita yang masih menangis tersedu-sedu sama sekali tidak menyadari kehadiran Byantara. Anggita tidak menyangka kalau Byantara akan kembali ke kamarnya. Anggita yang memang memiliki pemikiran buruk pada Byantara, mengira Byantara pasti marah dan akan mengusirnya kembali untuk kedua kalinya. Dan bisa jadi kali ini Byantara akan merebut Benji.
Apakah aku terlihat seperti perempuan yang tidak benar akhlaknya. Mengapa mas Byan selalu berpikiran buruk pada ku? pikir Anggita yang membuatnya semakin merasa sedih.
"Gita! Maafkan aku yang sudah berkata tidak-tidak pada mu! Aku yakin kalau janin di perut mu itu adalah anak ku!" ujar Byantara tiba-tiba dan langsung berjongkok di depan Anggita yang duduk di atas tempat tidur. Anggita yang merasa kaget, sampai tidak bisa berkata-kata.
Byantara lalu menggenggam kedua tangan Anggita yang berada di pangkuan Anggita.
"Aku kini baru tahu kalau aku merasa cemburu pada lelaki yang mencari kesempatan untuk dekat pada mu, sehingga membuat aku berprasangka buruk pada mu. Kali ini aku sudah tidak mau melakukan kesalahan lagi Gita," ujar Byantara yang perlahan bangun dan ikut duduk di tepi ranjang Anggita.
"Kau jahat mas Byan! Kau selalu menganggap ku perempuan nakal dan murahan!" ujar Anggita yang masih marah dan memukul Byantara dengan bantalnya. Byantara akhirnya menangkap bantal yang memukulnya itu.
"Sebenarnya aku tidak mau berpikiran seperti itu Gita, tapi kadang beberapa hal membuat aku menjadi berpikiran seperti itu. Kuharap kau mau memaklumi aku! Aku tidak ingin membuang waktu kita lagi Gita. Aku berjanji akan memperbaiki sikap ku, aku berharap kita bisa membentuk keluarga yang lengkap lagi. Aku menjadi papa dan kau menjadi mama buat Benji dan calon adik Benji!" ujar Byantara menyatakan perasaannya dan langsung memeluk Anggita yang masih terdengar isakannya.
"Maafkan aku yang sudah membuat mu menangis, maukah kau kembali menjadi istri ku?" pinta Byantara.
__ADS_1
Bersambung..............