Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Putus asa?


__ADS_3

"Kau mau apa? Aku sudah capek dan mau tidur!" gerutu Anggita berusaha melepaskan cekalan tangan Byantara.


"Heran! Semakin hari kau itu semakin galak? Berbeda sekali dengan Gita yang dulu," omel Byantara.


"Kau juga berbeda dengan dulu, semua manusia juga berubah seiring waktu," sahut Anggita sinis.


"Rasanya sifat ku tidak ada yang berubah, mana sifat ku yang berubah. Coba kau katakan!"


"Dulu kau jarang memerintah ku, bahkan bisa dibilang jarang berbicara dengan ku sejak kita menikah. Aku merasa sekarang kau menjadi cerewet, suka mempermainkan perempuan dan mes...", ujar Anggita terhenti melihat Byantara yang menatap ke arahnya, sepertinya menunggu jawaban Anggita. Mungkin menunggu dia mengucapkan kata mesum, dan entah apa lagi yang akan dilakukan Byantara jika dia mengucapkan kata itu.


"Sudah! Kau tidak usah menjebak ku! Katakan saja kau mau apa?" tanya Anggita.


"Kau dari dulu memang pintar Gita. Ayo ke sini! Duduk!" perintah Byantara tersenyum menang, sambil menunjuk kursi kerjanya itu.


Sekarang juga jadi murah senyum, rasanya dulu aku jarang melihat senyum mas Byan, apalagi setelah menikah dengan ku, gumam Anggita tapi hanya dalam hati.


"Mengapa aku harus duduk?" tanya Anggita menatap curiga ke Byantara, Anggita sama sekali tidak tertarik melakukan apa yang diinstruksikan Byantara.


"Aku baru tahu ternyata kau ke kamar ku tadi pagi karena ingin mengecek perkataan Sella benar atau tidak, sekarang kau boleh melihatnya," ujar Byantara.


"Kalau kau sudah berkata tidak ya sudah! Aku mempercayai mu, aku tidak perlu melihat lagi, aku sudah capek dan mau tidur" sahut Anggita yang tidak ingin berinteraksi terlalu dekat dengan Byantara. Bagaimana juga Anggita merasa hatinya berdebar-debar juga kalau berada dekat dengan Byantara, karena itu sebisa mungkin dia menghindari Byantara, dia takut hatinya menjadi lemah, takut akan jatuh cinta pada Byantara untuk kedua kalinya. Apalagi sekarang Byantara sering mengalah dan bersifat baik padanya.


"Sudah terlanjur Gita, ayo!" ujar Byantara menarik Anggita ke kursi kerjanya, kemudian menekan kedua bahu Anggita untuk duduk di bangku itu.


"Sifat pemaksa mu yang tidak berubah! Cepat tunjukkan, aku sudah mau kembali ke kamar ku!" omel Anggita sambil menghela nafas kesal, berusaha menutupi debar-debar jantungnya setiap berdua saja dengan Byantara. Anggita sendiri bingung dengan dirinya sendiri. Sedangkan Byantara yang berada di belakang kursi tersenyum senang karena keinginannya dituruti.

__ADS_1


**********


Tentu Anggita tidak dapat menemukan bukti Byantara menyadap kamarnya, karena Byantara sudah menghapusnya program CCTV di kamar itu berikut file-file nya, karena Byantara sudah menduga kalau Sella sudah membocorkan rahasianya itu pada Anggita.


Tapi kini Anggita yang menjadi salah tingkah dan tidak banyak protes lagi, bahkan sepertinya Anggita dari tadi tidak berani banyak bergerak. Bagaimana tidak? Byantara berada di belakangnya dan salah satu tangannya menekan meja, dan satunya lagi membantu Anggita masuk ke program laptop nya. Bahkan Byantara menunjukkan CCTV di halaman depan Mansion, Ruang Makan, Ruang Keluarga.


"Semua kamar tidak ada yang ku pasang CCTV Gita, kau kan tahu sendiri saat menjadi istri ku," ujar Byantara lagi meyakinkan.


Maafkan aku Gita, aku terpaksa berbohong, kalau tidak kau akan makin membenci ku, pikir Byantara dalam hati yang merasa bersalah.


"Ya sudah, maaf kalau aku sudah menuduh mu. Aku sudah lihat, sekarang biarkan aku kembali ke kamar mas Byan," sahut Anggita dengan suara pelan , sebenarnya Anggita mau langsung bangun untuk keluar dari kamar Byantara, tetapi Byantara masih berada di belakangnya dengan tubuh membungkuk, bahkan kedua tangannya kini menekan meja kerja itu. Walau Anggita duduk di kursi, tapi Anggita merasa seperti terkungkung sehingga tidak bebas bergerak


Sedangkan Byantara menikmati kegiatan nya kali ini, karena dia bisa lebih dekat dengan Anggita dan kali ini Anggita tidak beradu kata dengannya. Anggita tiba-tiba menjadi begitu pendiam dan penurut, apalagi samar-samar Byantara mencium wangi Lavender yang berasal dari tubuh Anggita. Wangi yang dirindukannya setelah Anggita meninggalkannya.


"Gita! Aku akan buktikan pada mu kalau bukan aku yang sudah mencelakakan Samuel. Walaupun aku tidak suka kau berhubungan dengan Samuel, aku tidak akan mencelakakan orang dengan cara licik seperti itu, Gita! Bukankah dulu kau sangat mengenal ku, masak kau tidak tahu kalau aku. tidak mungkin akan melakukan hal seperti itu?" ujar Byantara dengan serius dan langsung menatap ke netra Gita.


"Setelah bertemu dengan mu empat tahun kemudian, kini aku berpikir sepertinya dulu aku yang tidak mengenal mu mas Byan! Saat itu aku terlalu memaksakan kehendak ku untuk menjadi istri mu dengan bantuan ayah, karena ku pikir hanya aku perempuan yang tahu banyak tentang diri mu, mas Byan. Pantas saja dulu kau tidak bisa menyukai ku dan kita berpisah, kini aku sudah tahu sebabnya", sahut Anggita dengan perlahan menarik tangannya dari genggaman Byantara.


Byantara terpana mendengar jawaban Anggita, Byantara yang ingin memperbaiki hubungannya dengan mengingatkan kalau Anggita dulu yang paling memahaminya dan menyukainya, tapi hal itu malah menjadi bumerang untuk dirinya.


Anggita segera bangun dari duduknya begitu tangannya terlepas dari genggaman Byantara, Anggita tidak menyangka Byantara juga dengan cepat bangun dari posisi jongkoknya dan kembali menarik pergelangan tangan Anggita.


"Lepaskan aku mas Byan! Bukankah aku sudah menuruti semua kehendak mu, aku juga sudah menjawab semua pertanyaan mu.Mengapa kau masih menahan aku?" tanya Anggita dengan suara tinggi.


"Aku ingin memohon sesuatu pada mu Gita!" ujar Byantara.

__ADS_1


"Apa lagi mas?" tanya Anggita kesal.


Tiba-tiba Byantara menghentakkan tangan Anggita dan tiba-tiba menarik Anggita, membuat Anggita yang tidak siap oleng dan jatuh ke pelukan Byantara. "Mas Byan??"


"Sebentar saja Gita, aku rindu dengan wangi mu. Biarkan aku memeluk mu sebentar saja Gita!" mohon Byantara yang memeluk erat tubuh Anggita, sampai Anggita rasanya menjadi sesak. Perlahan Byantara mengecup ubun-ubun Anggita, kemudian berpindah ke dahi Anggita dengan cepat, membuat Anggita tidak sempat melakukan penolakan.


Tapi setelah itu Byantara melepaskan pelukannya dan mencengkram kedua lengan Anggita, agar Anggita menatap ke arahnya.


"Maafkan kesalahan ku Gita. Aku harap kau mau memulai lembaran baru lagi dengan ku, dan bersama Benji. Kalau pun kau sulit menerima ku kembali, setidaknya demi Benji dan Ibu. Bagaimana pun aku adalah ayah Benji, Gita! Aku tidak ingin Benji memiliki ayah lain selain diri ku," ujar Byantara.


"Jangan memaksa ku mas Byan!" ujar Anggita yang dengan sekuat tenaga menarik kedua lengannya dari cengkraman tangan Byantara yang kebetulan sudah mengendur, sehingga Anggita mudah lepas dari cengkraman tangan Byantara.


Anggita segera berlari keluar dari kamar Byantara.


Kali ini Byantara sudah tidak mengejar Anggita lagi, Byantara hanya menatap kepergian Anggita dengan kecewa dan putus asa.


Bahkan aku sudah merendahkan diri ku memohon padanya, Gita juga tidak tersentuh hatinya. Aku harus bagaimana lagi? Sepertinya Gita sudah sangat membenci ku dan kedudukan ku di hatinya sudah diganti Samuel! gumam Byantara dalam hati, sambil meremas rambutnya sendiri.


Bersambung🌜🌜🌜🌜🌜


Haduh mau bilang good night, tapi yang kemaren up malam malah baru nongol pagi. Payah nih review-nya dari Noveltoon kalau lama jadi gak tepat deh. Sampai readers kirain author nya mabuk🤣🤣🤣


Sampai-sampai ada yang DM author tanya author lagi berada di Amerika ya? Keren banget di Amerika🤣🤣🤣


Terima kasih buat yang selalu nungguin up ya, ikuti terus sampai akhir🙏🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2