
Marco dan kedua orangtuanya sudah duduk di ruang tamu rumah kecil itu. Mereka disambut dengan baik oleh Mishel dan ibunya serta Tuan Simon dan istrinya yang turut hadir untuk menjadi saksi dan membantu Bu Fira untuk berbicara. Mengingat mereka tak memiliki sanak saudara lagi yang bisa dituakan ataupun suami.
Mereka mengobrol dengan akrab, sepertinya kedua keluarga itu sudah menerima kenyataan yang terjadi pada anak-anak mereka. Mungkin memang jalannya seperti ini. Ayunda justru sangat bersyukur karena kejadian inilah dia jadi tau apa yang selama ini putranya telah perbuat dan belum terlambat untuk membuat putranya kembali ke jalan yang benar.
Namun yang terpenting sekarang adalah, bagaimana Mishel saat pertama kali melihat wajah laki-laki yang sudah menodainya. Mishel bahkan enggan untuk sekedar melihatnya sejak tadi. Dia lebih banyak menunduk atau melihat orang lain.
Lalu Marco tampak tidak nyaman berada di sana, dia sudah tidak peduli dengan apapun keputusan kedua orangtuanya. Yang jelas sekarang dia sangat kepanasan di rumah yang menurutnya sangat kecil itu. Belum lagi terasa pengap. Meski ada satu buah kipas angin yang menyala tapi masih tak mampu mengurangi rasa panas pria itu. Marco sering kali mengipasi dirinya dengan tangannya.
"Mah, kapan ini selesai? Apa masih lama, aku tidak tahan lagi rasanya seperti terbakar." Marco berbisik pada mamahnya.
"Hussstt, kamu itu apa tidak bisa tahan sebentar lagi. Begitu saja sudah mengeluh." Ayunda heran dengan putranya. Walaupun wajar karena sejak lahir dia tidak pernah hidup susah tapi Ayunda selalu mengajarkan putranya untuk menghormati siapapun tanpa memandang status sosial nya.
Pembicaraan pun berlanjut dan lancar. Kedua keluarga sepakat untuk melangsungkan pernikahan dua Minggu lagi dari sekarang.
"Baiklah jadi sudah sepakat dua Minggu lagi. Bagaimana dengan nak Mishel? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Gerry pada calon menantunya.
Mishel meremat tangannya yang saling bertautan. Gugup sekali saat ingin mengutarakan permintaannya.
"Tidak apa-apa nak, katakan saja apa yang mengganjal di hatimu agar bisa dibicarakan." Ayunda mencoba menenangkan Mishel yang tampak sangat gugup.
__ADS_1
Mishel menatap ibunya, dan sang ibu pun menganggukkan kepalanya. Ibu Fira kira Mishel mungkin akan membatalkan rencana pernikahan ini seperti apa yang dia bicarakan tadi malam. Ibu Fira tidak akan menyalahkan keputusan putrinya karena dia yang akan menjalani.
"Hmm aku hanya minta pernikahan ini dilakukan sederhana saja."
Ucapan Chloe membuat Bu Fira tersenyum samar. Dia bangga pada putrinya.
"Baiklah nak, kami menghormati keputusanmu." Ibu Ayunda mengusap punggung tangan calon menantunya. Dari pertama melihatnya dia sangat yakin kalau wanita itu adalah wanita baik-baik. Putranya sangat beruntung mendapatkan perempuan seperti Mishel.
"Bagaimana denganmu nak? Apa ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Gerry pada putranya.
Sementara laki-laki itu sejak tadi sama sekali tidak menyimak apa yang mereka bicarakan karena sibuk mengomentari kediaman kecil milik Mishel dan ibunya.
"Pah ... bicara pelan-pelan." Suara Ayunda yang selalu menenangkan suaminya. Membuat amarah yang sudah menguar kembali meredup.
"Maaf sayang." Gerry menarik nafas panjang.
"Marco, apa ada yang ingin kamu sampaikan nak?" tanya Ayunda dengan nada yang lebih lembut.
"Tidak Mah, percuma saja karena sudah kalian putuskan. Terserah kalian saja, aku akan melakukan yang kalian mau," ujar Marco sembari menatap wanita yang sudah membuat dia terpaksa harus menjalani ikatan pernikahan.
__ADS_1
Mishel meremat tangannya saat mendapatkan tatapan tajam itu sekaligus tatapan penuh hinaan seperti waktu itu. Dia bisa menebak apa yang sedang pria itu pikirkan. Pria itu pasti menilai Mishel dan ibunya memanfaatkan kesempatan untuk merubah nasibnya padahal tidak sama sekali. Jika Mishel tidak memikirkan anaknya, jika dia bisa menggantikan kasih sayang seorang ayah untuk anaknya tidak akan mungkin dia mau meminta pertanggungjawaban. Mishel tau betul bagaimana beratnya hidup tanpa ayah.
"Maafkan Marco nak, aku yakin lama kelamaan dia pasti akan berubah. Apalagi aku lihat kamu sangat baik." Ayunda menenangkan calon menantunya yang terlihat terintimidasi oleh perkataan putranya.
Mishel hanya menyematkan senyum tipis. tapi dia bersyukur karena ibu dari lelaki itu menerima dirinya dengan baik.
Setelah semuanya setuju, acara pun dilanjutkan dengan makan siang bersama. Makan makanan sederhana yang dibuat oleh ibu Fira. Semua orang menyantap makanan yang tersaji. Hampir semuanya memuji masakan Bu Fira meskipun hanya makanan sederhana. Kecuali Marco yang tidak mau mencobanya karena sama sekali tidak tertarik katanya.
"Cihh makanan apa itu." Lagi-lagi pria itu hanya bisa menghina padahal dia sama sekali belum merasakannya.
"Nak, kamu tidak makan. Kamu harus makan yang banyak, agar janin yang ada dalam kandungan kamu sehat nak," ujar Ayunda.
"Benar kata ibu Ayunda nak, tadi pagi kamu hanya makan roti dan minum susu."
"Kenapa nak, apa kamu merasa mual?" tebak ibu Ayunda.
Mishel mengangguk, dia tidak bisa makan makanan berat. Baru mencium aromanya saja rasanya mual.
"Astaga, kamu seperti mamah dulu saat mengandung Marco. Tidak bisa makan dengan baik karena mual, pasti sangat menyiksa. Besok kita ke dokter lagi ya, kita konsultasi bagaimana menangani mualnya," ujar Ayunda pada Mishel. "Nak, lihatlah. Dia harus tersiksa mengandung anakmu. Lihat bagaimana perjuangannya. Kamu harus memperhatikan dia dengan baik nak." Kemudian Ayunda berkata pada putranya.
__ADS_1
Marco pun melihat lekat wanita itu. Memang jika dibandingkan terakhir mereka bertemu, dia tampak sangat kurus. Apa hamil membuat dia sangat tersiksa sampai begitu Kurus. Tidak, untuk apa Marco memikirkan itu, bukankah dulu dia sudah menawarkan uang sebagai gantinya agar wanita itu tidak meminta pertanggungjawaban. Lelaki itu masih meninggikan egonya.