
Setelah semalam Mishel tiba-tiba menghubunginya, perasaan Marco jadi tidak tenang. Wanita itu tumben sekali menghubunginya lebih dulu setelah akhir-akhir dia menghindar jika Marco coba berusaha mendekatinya. Semalam dia tidak mendapatkan jawaban apapun saat dirinya bertanya ada apa dengan wanita itu. Mishel hanya meminta untuk bertemu hari ini. Rencananya siang ini mereka akan bertemu tapi lelaki itu sepertinya sudah tidak sabar bertemu sekarang saja.
"Haiiiss, kenapa salah lagi," omelnya pada diri sendiri karena sejak tadi pekerjaannya tidak ada yang beres gara-gara memikirkan Mishel. "Jam berapa ini, kenapa lama sekali." Lagi-lagi mengomel, kali ini menyalahkan jarum jam karena berputar terlalu lama.
Tiba-tiba seseorang datang tanpa mengetuk pintu dan tanpa membuat janji terlebih dahulu. Dia menerobos masuk begitu saja.
"Sayang, aku datang," teriak seorang wanita yang berpenampilan seksi.
"Nona, Anda tidak boleh masuk. Tuan tidak bisa diganggu saat ini." Sean mencoba mencegah wanita itu tapi kesulitan karena wanita itu sama sekali tidak takut. Sedangkan Sean tidak mungkin begitu saja mencegahnya apalagi wanita itu memakai pakaian seksi, bahaya sekali jika tersentuh bagian tubuhnya.
Marco melotot melihat siapa yang datang terutama pada sekretarisnya. Karena dia sudah berpesan agar tidak mengijinkan para wanita itu datang.
"Apa kau lupa pesanku Sean?"
"Maaf Tuan, saya sudah melarangnya masuk tapi nona ini memaksa." Sean agak takut melihat tuannya.
"Sayang, ini aku. Aku datang karena merindukanmu. Sudah lama sekali kamu tidak datang menemuiku." Wanita itu mendekat.
__ADS_1
"Berhenti di sana Sandra!" bentak Marco pada salah satu mantan pacarnya itu.
Semua orang langsung membeku ketakutan mendengar bentakan keras Marco. Dia memang terkenal paling tidak suka dikejar seperti itu apalagi seorang wanita. Biasanya dia lebih suka meminta wanita datang lebih dulu atau dia yang akan menghampiri.
"Sayang aku—"
"Diam!! Kau, bukankah sudah aku bilang kalau kita sudah putus kenapa kamu masih menemuiku."
Sandra butuh uang, itulah jawabannya tapi tidak berani mengakuinya.
"Cih, kau merindukanku atau uangku?!" tebak Marco.
"Ahaha, tentu saja merindukanmu. Kau sudah lama tidak datang, aku sungguh merindukanmu." Sandra coba mendekat memamerkan lekuk tubuhnya.
Sekarang Marco melihatnya sungguh menjijikan. Heran sendiri kenapa dulu dia mau melakukannya dengan wanita itu.
"Pergilah sebelum aku menyuruh penjaga menyeretmu dari sini. Aku sedang tidak ingin diganggu siapapun!"
__ADS_1
"Sayang, kau tega mengusirku. Aku sudah datang ke sini, apa kamu tidak ingin bersenang-senang dulu denganku?" Wanita itu sengaja duduk di meja yang ada hadapan Marco. Mengangkat sebelah kakinya dan memamerkan pah 4 nya yang terbuka. Jari telunjuknya juga menari dan menggoda di atas kemeja yang dipakai Marco.
Seketika Marco dengan kasar menghempaskan tangan wanita itu hingga dia kesakitan.
"Aaawww!!"
"Sean, cepat bawa wanita ini pergi!" seru Marco penuh amarah. Pikirannya sedang tidak tenang karena memikirkan Mishel tapi justru datang pengganggu.
Beruntung dua orang penjaga sudah datang jadi Sean menyuruh mereka membawa wanita itu pergi apapun caranya.
"Marco! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku. Apa kamu lupa dengan malam panas yang sudah kita habiskan bersama. Kau bahkan sangat menyukai pelayananku. Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini Sayang." Wanita itu memohon.
"Cihhh, aku sudah tidak berminat dengan wanita seperti kalian." Marco berbalik membelakangi mereka. Dia sudah tidak ingin melihat kekacauan itu.
"Mari Nona, sebaiknya Anda pergi sendiri sebelum orang-orang itu membawa anda dengan paksa," ujar Sean memperingatkan.
"Lepaskan!! Aku bisa pergi sendiri." Sandra menghentakkan kakinya. "Aku tidak akan menyerah!" kesalnya sebelum mendapatkan apa yang dia mau.
__ADS_1