
Lampu cahaya berkelap-kelip di langit-langit, musik keras yang sedang dimainkan DJ mengalun berdengung di telinganya. Di mana lagi kalau Bu di sebuah tempat hiburan malam.
Pada malam harinya setelah pergi melamar Mishel yang katanya sedang mengandung anaknya. Marco pergi ke tempat favoritnya yang sudah biasa dia datangi saat malam untuk sekedar melepas penat sambil meminum minuman beralkohol atau dia biasanya mencari wanita untuk melakukan one night stand di sana. Ya katanya karena sampai saat ini dia masih tidak percaya kalau janin yang ada di dalam kandungan wanita itu adalah darah dagingnya.
Sudah dua botol dia habiskan malam ini. Namun, dia masih belum cukup puas. Sembari ditemani dua wanita cantik yang sedari tadi menggodanya tapi tidak membuat dia tertarik.
"Bagaimana kalau kita ke kamar," ajak salah satu wanita yang sejak tadi berusaha menggoda Marco. Siapa yang tidak tertarik pada laki-laki itu. Meski tau dia adalah pemain wanita tapi masih banyak yang mengantri untuk naik ke atas ranjangnya karena mereka tau imbalan yang akan mereka terima setimpal dengan apa yang mereka lakukan. Toh mereka yang sudah biasa melakukannya juga merasa puas bisa bermain dengan lelaki setampan Marco.
Wanita itu membelai belahan dad4 pria itu yang terbuka karena kancingnya terlepas di bagian atas.
Marco hanya mendesis lalu kembali meneguk minumannya. Jika biasanya dia akan langsung menyeret wanita itu ke dalam pengakuannya dan mereka akan langsung pergi ke lantai atas di mana tersedia kamar hotel. Kali ini dia sama sekali tidak tertarik.
Wanita itu tidak menyerah, dia masih berusaha menggoda Marco sang playboy. Dengan menggunakan tubuhnya yang hanya bisa menggunakan pakaian minim sekali.
"Enyahlah kalian!!" bentak Marco karena merasa terganggu dengan keberadaan mereka. Dia yang biasanya bersikap manis pada wanita tiba-tiba membentak mereka. Dan kemarahannya itu terlihat menakutkan.
Seorang pria baru saja datang, mencari keberadaan temannya yang katanya sedang berada di club itu. Tentu dia tidak membiarkan temannya mabuk sendirian apalagi mendengar nada suaranya saat ia menelepon tadi. Meski biasanya mereka juga berpisah karena Marco memilih pergi dengan wanitanya dan dirinya memilih pulang. Setelah mencari-cari akhirnya dia melihat Marco dari kejauhan, segera dia menghampiri temannya itu. Dahinya sedikit berkerut saat semakin dekat dan mendengar Marco memaki wanita yang menemani nya.
"Ada apa dengan dia?" Jimmy bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Tak mau ada masalah dia segera ke sana.
"Ma—maaf, kami akan pergi." Kedua wanita itu ketakutan dan segera beranjak. Berpapasan dengan Jimmy saat melewati pintu pembatas meja yang ditempati Marco.
"Kau kenapa? Tumben mengusir mereka?" tanya Jimmy setelah mendaratkan tubuhnya di sofa itu.
__ADS_1
"Aku mau menikah," ujar Marco dengan wajah kesal lalu kembali meneguk minuman keras itu.
"Hahaha, menikah. Apa aku tidak salah dengar, bagaimana mungkin kamu menikah. Siapa wanita yang bernasib buruk itu?" ejek Jimmy.
"Sialaaan kau!! Dia beruntung karena menikah denganku." Marco melayangkan pukulan pada lengan temannya.
"Heii!!" Jimmy mengusap lengannya karena Marco memukulnya penuh tenaga.
"Aku serius, aku akan menikah sebentar lagi dengan wanita yang sedang mengandung anakku," ujar Marco lagi karena ia tau kalau temannya pasti tidak akan percaya.
Jimmy yang sedang menenggak minuman langsung menyemburkannya seketika. Apa hari ini matahari terbit dari barat, mana mungkin temannya akan menikah.
"Tidak lucu." Jimmy menggelengkan kepalanya.
Lagi, Jimmy memandang temannya. Jika yang mengatakan hal itu bukan Marco yang sudah berulang kali mengatakan tidak akan menikah mungkin Jimmy akan percaya.
"Kau serius? Dengan siapa? Wanita yang mana yang akan kau nikahi, apa salah satu dari kekasih mu?" tanya Jimmy.
Marco menggeleng, "Dia wanita yang pernah membantu ku saat aku dijebak dengan obat. Dia hamil dan meminta pertanggungjawaban," Ujar Marco.
"Kau yakin itu anakmu? Bukankah sudah sering wanita yang menggunakan cara itu untuk meminta uang padamu."
"Aku tidak tau, saat itu aku memang tidak memakai pengaman karena sebelumnya aku tidak mempersiapkannya. Aku tidak tau kalau mantan sialaaan itu akan memberiku obat. Aku juga sudah memberinya uang tapi dia tidak membawa uangnya. Masalahnya dia bukan datang ke perusahaan tapi ke kantor dan menemui mamahku," ujar Marco.
__ADS_1
"Apa?! Jadi Tante sudah tau kelakuan bejatt mu selama ini?" Jimmy terperangah.
"Ya dan dia marah besar, dia sangat kecewa padaku. Baru pernah aku melihat mamah menatap ku dengan tatapan seperti itu. Dia menyuruhku untuk bertanggungjawab." Marco menghela nafas.
"Dan kamu mau? Ini tidak seperti dirimu, apa kau yakin itu anakmu?" Jimmy ragu.
"Aku tidak tau, aku hanya tidak bisa melihat kekecewaan mamah. Entah itu anakku atau bukan aku akan membuat wanita itu menyesal karena sudah membuat aku menikahi nya." Marco menggenggam gelas ditangannya penuh amarah.
"Bagaimana kalau itu benar anakmu, apa yang akan kamu lakukan. Menurutku mungkin memang sudah saatnya kamu berubah."
"Entah, aku ragu."
"Kenapa? Apa dia seperti kekasihmu yang rela naik ke ranjang laki-laki demi uang." Jimmy mulai menduga.
"Aku yang pertama saat itu," ujar Marco. Dia ingat jelas malam itu dia sangat kesusahan menyatukan milik mereka.
"Hah?! Kau gilaaa? Kenapa kamu melakukan itu pada wanita baik-baik," sungut Jimmy, dia tidak peduli jika temannya itu bermain wanita karena ia tau wanita itu bukan wanita baik-baik selama ini.
"Mana aku tau, saat itu aku dalam pengaruh obat. Apa aku harus memilih-milih wanita lagi. Dan lagi apa aku sudah gilaaa, menanyakan hal seperti itu pada setiap wanita yang ada di pesta. Yang ada mantanku sudah lebih dulu membawaku ke dalam kamarnya dan aku harus menuntaskan semuanya pada jal44ng itu." Marco menggertakkan giginya mengingat wanita itu.
"Kalau begitu anak itu sudah pasti milikmu. Mungkin memang sudah waktunya kamu berubah Marco. Aku juga mengkhawatirkan kesehatanmu jika kamu terus bergonta-ganti pasangan." Jimmy menepuk pundak temannya.
"Apa kau ini, aku selalu memeriksakan diri dua Minggu sekali dan selalu memakai pengaman. Memangnya aku bOd0h. Hanya dengan wanita itu aku tidak menggunakan pengaman," ujar Marco.
__ADS_1
Marco kembali minum-minum sampai benar-benar mabuk untuk melupakan masalahnya.