Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 21


__ADS_3

Rupanya Marco lah yang tadi menahan tangan Mishel dan membuat perempuan itu terkesiap sejenak. Bahkan hanya dengan sentuhan di tangannya saja bisa mengingatkan dirinya akan kejadian itu di mana tangannya dicengkeram dengan kuat hingga tidak bisa melawan.


"Ah Maaf." Marco melepaskan tangannya saat melihat wajah perempuan itu memucat. Apa begitu menakutkan kah dirinya. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya memastikan.


Mishel menunduk, dia tidak bisa terlalu lama berkontak mata dengan pria di depannya. "Tidak apa-apa, aku hanya terkejut. Apa ada sesuatu yang Anda butuhkan?" tanya Mishel. Pasalnya pria itu tiba-tiba menahannya pasti ada sesuatu.


"Itu, apa kamu mau pulang sekarang?"


Mishel mengangguk.


"Aku akan mengantarmu," ujar Marco, dia sendiri tidak tau kenapa harus melakukan hal itu tapi saat melihat perempuan itu dengan perut yang membesar membuat dia tidak tega.


Mishel memejamkan mata saat tiba-tiba janin di dalam perutnya menendang. Bahkan anaknya bisa merasakan kehadiran dan perhatian pertama yang diberikan ayahnya. Tapi sejujurnya, Mishel tidak bisa melupakan sakitnya saat pria itu tidak mau mengakui anak di dalam kandungannya. Semenjak saat itu Mishel tak pernah berharap dan menganggap anak itu hanya anaknya.


"Terimakasih tapi rumahnya dekat, aku bisa berjalan kaki dari sini. Permisi Tuan." Mishel menundukkan kepalanya lalu pergi dari sana. Sambil memegangi perutnya, dia tidak ingin nanti anaknya berharap banyak. Lebih baik seperti ini saja. Biarlah mereka tetap menjadi orang asing dengan kehidupan masing-masing.


Marco memaku sebentar, dia bisa melihat tadi perempuan itu mengusap perutnya. Sialnya dia juga ingin melakukan hal yang sama tapi itu tidak mungkin, egonya masih tinggi dan dia juga tidak memiliki alasan untuk melakukan hal itu karena sejak awal dia tidak pernah menganggap anak itu adalah anaknya. Walaupun tadi saat melihat perempuan itu merawat ibunya membuat Marco sangat tersentuh.

__ADS_1


Buru-buru dia membuang jauh pikirannya, dia masih bersikeras dengan pikiran buruknya tentang perempuan itu. Dia lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar mamahnya.


Sedangkan Mishel, dia menuruni tangga dengan cepat seperti sedang melarikan diri dari sesuatu. Jantungnya berdebar kencang ditambah dengan janin yang terus bergerak di dalam perutnya.


"Maafkan ibumu ini nak, maaf. Bukannya ibu mau membuat kamu menjauh dari ayahmu tapi ibu tidak ingin membuat kamu menderita demi mengemis kasih sayang pada ayah yang tidak menginginkan anaknya. Lebih baik kamu tidak perlu mengenalnya, itu akan lebih baik," ucap Mishel dalam hati dengan perasaan yang sakit seakan tersayat-sayat sembilu. Bola matanya bahkan sudah berair memikirkan anaknya yang mungkin tidak akan mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah nantinya.


...


Di kamar. Marco masuk perlahan karena takut mengganggu mamahnya yang sedang beristirahat.


"Marco, kau kah itu?" rupanya Ayunda menyadari kehadiran sang putra. Bahkan sebelum dia melihatnya.


"Mahhh." Marco berusaha menahan tangis.


"Nak, kemarilah." Ayunda coba untuk duduk.


Dengan sigap Marco membantu mamah nya. "Mamah istirahat saja, tidak perlu bangun," ujar Marco.

__ADS_1


"Mamah sudah bosan hanya beristirahat di kamar, ini karena papah kamu yang terlalu khawatir padahal keadaan mamah sudah baik-baik saja. Lihatlah, mamah bahkan masih bisa mengikuti sen PTm."


"Mah ...." Marco memeluk ibunya. Hari yang sudah sejak kemarin dia rencanakan tapi tiba-tiba ada insiden seperti itu. "Maafkan Marco Mah, maafkan aku karena tidak bisa membuat mamah bahagia. Semua ini pasti kerena aku, aku yang sudah membuat mamah begini."


"Mamah hanya kelelahan, tidak ada hubungannya siapapun," Ayunda mengusap punggung sang putra.


Marco melepaskan pelukannya lalu memperhatikan wajah serta tubuh mamahnya yang sekarang tampak lebih kurus. Sebegitu jahatkah Marco telah membuat sang mamah menderita seperti ini.


"Mamah kenapa kurus sekali, apa mamah tidak makan dengan baik. Mamah mau makan apa biar aku belikan, nanti aku suapi hmmm."


"Tidak perlu nak, mamah baru saja makan makanan yang nak Mishel buat. Mamah memang sedang tidak selera makan mungkin karena itu berat badan mamah turun. Apa kamu sudah makan, biar bibi buatkan makanan untuk kamu," ujar Ayunda.


"Mamah tidak perlu memikirkan ku, aku ke sini karena ingin menemani mamah."


"Terimakasih nak."


Marco menemani mamahnya hingga wanita itu tertidur. Dia memandangi wajah itu, meski mamahnya masih seperti biasa baik tapi Marco merasa berbeda. Jujur dia lebih suka mamahnya marah-marah padanya dari seperti ini.

__ADS_1


"Mah, apa pilihanku salah. Apa yang sudah aku lakukan sudah membuat semua orang menderita. Hidupku juga tidak lebih baik dari sebelumnya. Aku menderita setiap hari, perasaan ku tidak tenang. Apa benar anak itu adalah anakku." Marco mencoba mengingat, sepertinya waktu sebentar lagi untuk perempuan itu melahirkan. Setelah anak itu lahir, dia akan melakukan tes DNA. Tapi apa mungkin dia masih memiliki kesempatan saat itu tiba.


__ADS_2